Friday, August 18, 2006

DARI PORONG DENGAN DERITA - Episode 2. Desa Siring yang Berontak

“Mas, wong Siring durung merdeka, dijajah karo lumpur panas” kata seorang warga yang sedang memasang bendera setengah tiang, sambil tersenyum kecut. Ironis, di tengah warga masyarakat lain merayakan 17-an, di desa Siring malah berduka. Belum jelas apa yang dapat diharapkan dari LAPINDO. Masyarakat tetap dilanda kecemasan tentang nasibnya. Masih teringat dalam rekaman ingatan, lokasi makam yang terendam lumpur dengan nisan yang bisu.

Pagi ini, masyarakat akan turun aksi, memblokir jalan raya Surabaya-Malang pas di dekat fly over tol Porong. Tidak jelas siapa yang mengkomando, tiba-tiba massa menyerbu jalan. Dari arah Surabaya, bis dihentikan, motor-motor tiba-tiba disuruh berbalik, demikian juga dari arah Malang, sambil membawa spanduk dan bangku-bangku lapak seadanya, masih terlihat truk barang yang terpaksa berhenti mendadak. Massa kemudian bergerak, anak-anak, ibu-ibu, pemuda sampai orang tua berjalan. Spanduk dibentangkan, teriakan dan yel-yel penolakan dan hujatan kepada Lapindo dikumandangkan. Aura kekesalan dan frustasi diteriakkan. Tiba-tiba terlihat olehku dari arah Surabaya kereta api yang dihentikan oleh massa. ‘baru kali ini aku lihat aksi yang menghentikan kereta’ batinku. Satu truk polisi pun datang, sambil bersuara di TOA seorang anggota mengingatkan warga masyarakat untuk memadamkan api, mengingat ban dan spanduk yang dibakar hanya berjarak kurang dari 10 m dari warung bensin. “ayo, boleh demo tetapi harus tertib, api tolong dimatikan” katanya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, sekelompok polisi-polisi muda menenteng senapannya.

Tak terasa 2 jam berlalu, matari panas Surabaya makin terik. Jalan tetap diblokade. Sementara lalulintas masih tetap lumpuh. Kereta sudah diperkenankan untuk bergerak kembali oleh massa. Massa makin menumpuk, orang-orang desa lain sudah bergabung, tak kurang 500 orang tua muda tumpah di jalan. TV nasional dan media lain pun sudah turun meliput. Dari teras di lantai dua milik seorang warga, aku mengambil GV massa. Masih terbayang wajah pendemo yang bertelanjang dada bertuliskan korban lapindo dengan muka dilumuri lumpur abu-abu.

Mendekat ke waktu 11.10, tiba-tiba terdengar di TOA suara berlogat jawa milik pak polisi, “bapak-bapak, keinginan warga sudah terpenuhi, sekarang wakil LAPINDO sudah datang, jam 1 ditunggu di kantor Kecamatan”. Massa kemudian melunak, strategi dipersiapkan untuk memilih siapa-siapa yang perlu datang ke kecamatan. Trebor, seorang relawan lainnya mendekat ke sisiku, berbisik “ini sudah disetting mas, lihat saja nanti tuntutannya pasti diperlemah, ini ada yang main. Ada oknum warga yang cari untung”. Sambil terus mengisap kreteknya dia melanjutkan penjelasannya tentang adanya perpecahan antara warga Siring pendatang dan warga asli; teori konspirasi penyuapan oleh Lapindo; kesalahan prosedur waktu ketika Lapindo mengebor, hingga informasi yang menyebutkan bahwa potensi kandungan minyak bumi di blok Porong yang bakalan lebih besar daripada di blok Cepu.

0 comments: