Global climate change is happening now. Developing countries and particularly the world's poorest people are affected first and worst by changes of climate and extreme weather events such as floods, droughts, heat waves, and rising sea levels. The Social Development Department of the World Bank is taking the lead to build a greater understanding of how climate change affects people's lives and communities around the world, especially in developing countries, and of what can be done to reduce their vulnerability and build climate resilience.
Transcript of the Call for Submission Video: English; Chinese; Español; Français
Vulnerability Exposed: Social Dimensions of Climate Change is a competition of 2-5 minute documentaries that highlight the social aspects of climate change as experienced and/or observed by the film-makers. This short-documentary contest is a follow-up to our landmark March 2008 International Workshop on the Social Dimensions of Climate Change (read the story about the Workshop). We hope to receive submissions which creatively showcase the implications of climate change for conflict, migration, urban space, rural institutions, drylands, social policy, indigenous peoples, gender, governance, forests and/or human rights.
There are two award categories:
1) Social Dimensions of Climate Change Award (general category) and
2) Young Voices of Climate Change Award (youth category).
The general category is open to everyone; the youth category is open to entries submitted by filmmakers who are under 24 years old. Award winners will be chosen through a combination of public voting and a judging panel. The film with the most public votes in each theme category will receive honorable mention.
The Award Winners will receive an all expenses paid trip to Washington, DC for a screening of their film and will have the opportunity to attend a series of networking and learning events organized by the Social Development Department of the World Bank in December, 2008. Get more details about the contest! = > Click here to read the contest details.
Read the Press Release: English; العربية,; 中文; Español; Français
THE SUBMISSION PERIOD ENDS 11:59PM (US ET) ON FRIDAY, OCTOBER 24, 2008
SUBMIT YOUR FILM TODAY! = > CLICK HERE TO SUBMIT YOUR FILM
Sunday, September 14, 2008
Vulnerability Exposed: Social Dimensions of Climate Change - A Film Contest
Labels: Event
Posted by Dwi Lesmana at Sunday, September 14, 2008 0 comments
Friday, September 12, 2008
Campaign on Climate Change
Climate change is not just destroying our planet - it is threatening the very survival of communities, cultures and languages. Indigenous and minority communities across the world have an unique and close relationship with nature, and because their livelihoods often depend on the environment they are amongst the worst affected by climate change.
UN member states are locked in negotiations to get a climate change deal through by 2009, but indigenous and minority communities have been left out of these crucial negotiations.
Their voices must be heard.
Please join our campaign - a show of hands for communities combating climate change
Click here to take action now
Thank you for your support.
Farah Mihlar
MRG Campaigns team
mail: showofhands@mrgmail.org
Minority Rights Group International
54 Commercial Street
London E1 6LT
Tel: +44 (0)20 7422 4205
Mob: +44 (0)7870 596 863
Email: minority.rights@mrgmail.org
Website: http://www.minorityrights.org
**
Minority Rights Group International (MRG) is a non-governmental organization working to secure the rights of ethnic, religious and linguistic minorities and indigenous peoples worldwide, and to promote cooperation and understanding between communities.
MRG is a registered charity no. 282305, and has consultative status with the United Nations Economic and Social Council and observer status with the African Commission for Human and Peoples' Rights.
Labels: Event
Posted by Dwi Lesmana at Friday, September 12, 2008 0 comments
Wednesday, September 10, 2008
Perjalanan Ke Pulau Timor
“Kalau mau hidup sejahtera selamat dan Pulau Timor, NTT (Nusa Tenggara Timur). Jagalah Molo”
Itulah sebuah kata yang diucapkan oleh seorang mama di Pulau Timor yaitu Mama Aleta saat saya berkesempatan untuk mencoba mendokumentasikan perjuangan beliau dan Masyarakat Adat Molo dalam mempertahankan tanah adatnya dari ancaman pertambangan marmer di Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Perjalanan saya ke Molo kurang lebih tiga minggu, 21 Agustus 2008 - 6 September 2008.
Perjalanan ke Molo sebenarnya sangat mendadak. Rencana perjalanan saya sebenarnya adalah ke Masyarakat Talang Mamak di Riau. Tapi berhubung ada beberapa masalah teknis, maka rencana berangkat ke Riau diundur. Setelah mengetahui rencana itu diundur, akhirnya saya diminta ke Molo. Persiapan perjalanan kesana hanya dua hari. Tanya sana sini situasi dan kondisinya, beli obat-obatan dan vitamin, siapkan peralatan trus berangkat sudah.
Sebenarnya sewaktu kuliah saya sudah pernah ke NTT, tapi saat itu ke Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Setelah lihat peta dan tahu dimana lokasi tempat saya akan tinggal, baru saya ketahui ternyata Labuan Bajo dan Pulau Komodo sangat jauh dan beda pulau dengan Molo.
Tiga jam perjalanan dan transit selama dua puluh menit di Surabaya saya sudah bisa melihat dari jendela pesawat pulau-pulau yang didominasi warna-wana cokelat. Inilah pemandangan yang akan kita lihat jika kita datang ke Pulau Timor, terutama pada musim-musim kering. Hampir semua rumput-rumput kering dan pepohonan kehilangan daunnya alias berguguran. Mungkin jika orang yang sudah terbiasa matanya melihat kehijauan pepohonan dan dedaunan, menikmati kesejukan dibawah pohon yang rindang serta terbiasa hidup enak, dalam hatinya akan akan bertanya “Bisakah kita hidup di pulau ini?”. Sama halnya saya, ketika akan mendarat di Bandara El Tari, Kupang. “Serasa tidak yakin disini ada kehidupan” celoteh saya kepada Melly Nurmawati, seorang teman satu kerja yang berangkat bersama saya yang juga merangkap sebagai leader dilapangan.
“Tapi orang timor bisa hidup tuh disana… dan beranak pinak lagi hehehe….” Mungkin itu jawaban kalian setelah membaca celotehan saya kali ya... :-)
Sesuai pesan yang disampaikan kepada kami bahwa setelah tiba di badara akan langsung dijemput oleh seseorang maka kami pun menunggu jemputan disebuah cafe dekat pintu keluar bandara.
“Tunggu saja disana ya bapak, kami baru jalan ini. Mungkin sekitar dua jam-an lagi sampai sana” suara yang keluar dari handphone saya disaat saya memastikan orang yang akan menjemput kami lewat telpon.
Yahh.. itulah jemputan kami.
Harus menunggu dulu dua jam.
Kebetulan saya membawa sebuah buku dari Bogor, maka saya habiskan dua jam untuk membaca buku. Buku yang saya bawa adalah Buku City of Joy, Negeri Bahagia karangan Dominique Lapierre.
Menceritakan sebuah Kota Calcutta di India. Kalian harus baca buku ini. Kalian akan tahu bagaimana orang India bertahan hidup dengan sumberdaya yang minim dan bertahan dengan ketermisinan yang amat sangat. Seperti salah satu komentar yang ada disampul belakang buku ini yang ditulis oleh New York Post. “Ada pahlawan di setiap senti karya ini……”
“Bapak posisi dimana? saya ada di parkiran motor” sebuah sms masuk ke handphone saya. Saya langsung telpon dan menunjukkan dimana posisi kami. “Selamat sore pak. Saya Nivron. Saya diminta Ma Leta untuk jemput bapak”. “Selamat sore. Saya Een dan ini Melly” saya membalas jabat tangan Pak Nivron dan memperkenalkan teman saya. “Bapak pakai apa jemput kita?” tanya saya kepada Pak Niv. “Kita bawa motor pak, satu lagi teman masih di belakang”. Saya dan Melly sempat shock dan termangu beberapa detik. “Bapak jemput kita dengan perjalanan hampir tiga jam pakai motor?” Oh my God!. Bayangan saya karena sudah tau kita bawa cukup banyak barang, jadi akan dijemput dengan sebuah mobil. Dan kita bisa tidur selama perjalanan karena dari Bogor berangkat subuh ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Tapi nyatanya?? Huuhh…
Karena tidak mungkin menolak jemputan yang sudah ada dan tidak mungkin untuk meminta mereka pulang sendiri tanpa jemputan sementara kita menginap dulu semalam di Kupang atau kita rental mobil saja menuju lokasi perkampungan. Maka sekitar pukul 18.30 waktu Kupang kami pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Sebuah tas besar yang berisikan peralatan saya harus berada dan menempel dipunggung saya. Sementara tas pakaian diselipkan antara ujung jok depan motor. Saya berangkat bersama dengan Pak Niv dengan Motor Bebek Yamaha Vega, sementara Melly berdua dengan Pak Hedrik dengan menggunakan sepeda motor Suzuki Smash. Selama perjalanan yang malam itu angin sudah mulai berhembus kencang dan dingin, saya sudah tidak kuat menahan kantuk. Saya tidak bisa menikmati lagi perjalanan yang selalu menanjak dan memutari beberapa bukit karena diantara menahan kantuk dan menahan keseimbangan tas besar yang menempel dipungggung. Mata sudah sempat terpejam beberapa kali.
Sekitar pukul 21.30 kami tiba di SoE. Ibu Kota Kabupaten TTS. Karena sudah tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan ke Molo, yaitu kearah Gunung Mutis dan sekitar 1 jaman lagi waktu perjalanan maka setelah bertemu dengan Mama Aleta kami minta diri untuk istirahat semalam di SoE dan besok pagi dilanjutkan lagi perjalanannya. “Ya sudah, kalian menginap dulu saja di SoE. Kalian pasti sudah sangat capek sekali” ungkap Ma Leta setelah melihat wajah kami yang sudah lemas. Alhamdulilah Maleta (pangilan akrab Mama Aleta) bisa mengerti.
Perjuangan Perempuan Molo
Pada hari Jum’at pagi tanggal 22 Agustus kami berangkat ke Molo, tepatnya ex camp sebuah pertambangan di Desa Nousus. Dari SoE menuju Kapan dan lanjut kearah Gunung Mutis. Daerah ini ternyata suhunya sangat berbeda jauh dengan Kupang. Sangat dingin, berangin dan selalu berkabut. Diperkirakan ketinggiannya sekitar 1200 mdpl. Selama dua hari berada disana, dari pagi hari sampai sekitar jam 3 sore saya tidak bisa ngapa-ngapain. Hanya meringkuk didalam sleeping bag dan duduk baca buku didalam sebuah ruangan yang sedang diperbaiki. Suhu diluar sangat dingin, hujan dan angin berhembus sangat kencang. Beberapa orang lokal mengatakan angin kencang ini bawaan dari Australia karena keberadaan daerah ini tidak jauh dari Australia. Mereka juga bilang kalo bulan Agustus angin sudah mulai berkurang. Bulan Januari-Maret adalah bulan yang dimana anginnya sangat kencang dan bisa merobohkan beberapa rumah disini. Saya tidak bisa bayangkan sekencang apa angin pada bulan-bulan tersebut. Saat ini saja anginnya sudah sangat kencang bagi saya pribadi.
Perjuangan masyarakat adat Molo dan para mama-mama yang menolak sebuah pertambangan marmer ditanah adatnya beberapa tahun yang lalu mendapat banyak sorotan media, NGO, pemerintah dan lembaga lainnya. Karena perjuangannya itulah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang kantor pusatnya berada di Jakarta, Tebtebba - Indigenous Peoples’ International Cantre for Policy Research and Education dari Thailand dan Asia Indigenous Peoples Pact Foundation (AIPP) dari Filipina mengadakan sebuah training untuk para perempuan adat. Peserta training ini selain dihadiri oleh masyarakat di beberapa kampung di Molo juga dihadiri oleh beberapa perempuan adat di Nusantara. Training ini mengangkat tema ‘Perempuan Adat dan Pengambilan Keputusan. Persiapan Pengumpulan Data dan Kisah Perempuan Adat tentang Penerapan CEDAW dan Dampak Industri Ekstraktif’. Dalam training ini mereka mencoba memperkuat posisi kaum perempuan dalam sebuah komunitas, pekerjaan ataupun aktivitas lainnya. CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms Against Women) adalah sebuah perjanjian internasional dimana ada beberapa negara termasuk Indonesia yang menandatanganinya. CEDAW dibuat untuk menghapuskan kekerasan dan deskriminasi terhadap perempuan. Ada beberapa pasal yang terdapat didalam perjanjian ini yang mengatur hak-hak kaum perempuan dan harus dihormati dan dihargai.
Selain mendokumentasikan kegiatan training ini. Kami juga mencoba membuat sebuah film tentang perjuangan Mama Aleta dan Komunitas Adatnya. Perjuangan mereka bisa dikatakan berhasil. Dari empat perusahaan tambang yang masuk ke wilayah mereka. Tiga perusahaan berhasil mereka usir dan mereka duduki lokasi pertambangannya. Hanya tinggal satu lagi yang sampai sekarang masih beroperasi, yaitu sebuah perusahaan yang berada di Batu Naitapan.
Mendengar penjelasan dari Mama Aleta membuat saya kagum dengan perjuangan beliau. Maleta memang T.O.P dan memang bukan perempuan biasa. Seorang mama yang bernama lengkap Aleta Ba’un yang lahir pada tanggal 16 Maret 1966 di sebuah kampung yaitu Desa Lelobatan ini menerima nobel prize yaitu salah satu dari 1000 wajah perempuan perdamaian (Women’s Nobel Prize for Peace) dan Penghargaan Saparinah Sadli pada Tahun 2007. Nama Aleta Ba’un sudah ada dimana-mana, media lokal, nasional maupun internasional. Beliau adalah anak seorang petani dari masyarakat adat Molo. Beberapa tahun yang lalu beliau menyadarkan dan menggerakkan masyarakatnya untuk menolak pertambangan yang akan menghancurkan kehidupan masyarakat adat yang ada di Molo. Ribuan orang baik kaum perempuan maupun laki-laki ikut turun ke lokasi pertambangan dan menuntut perusahaan tersebut ditutup. Berminggu-minggu dia dan masyarakatnya menginap di hutan dan terus berjuang sampai perusahaan tersebut berhenti beroperasi. Walaupun dalam kondisi hamil tidak mengedorkan niat Mama Aleta untuk terus bergerak dan memberi dukungan kepada masyarakatnya. Bukan hanya menduduki lokasi pertambangan saja. Mereka juga mendatangi Kantor Bupati TTS dan DPRD untuk mendesak pemerintah daerah mencabut izin operasi perusahaan tersebut. Usaha yang dilakukan selama bertahun-tahun memang bukan usaha yang sia-sia. Dari empat perusahaan yang ada masih tersisa satu yang belum berhenti. Tapi secara tegas mereka katakan, masih akan tetap berjuang untuk mengusir perusahaan tersebut.
Mama Aleta adalah salah satu perempuan Indonesia yang rela mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya demi keadilan, perbaikan kondisi masyarakat adatnya dan lingkungannya. Berbagai ancaman dan intimidasi terhadap dirinya dan keluarganya dalam beberapa tahun terakhir ini sering ia dapatkan. Rumah yang beberapa kali dilempari batu dan beberapa kaca pecah. Beberapa kali Mama Aleta dan suaminya mendapat ancaman akan dibunuh. Suaminya Godlif Sanam yang seorang guru di Kapan meminta Mama Aleta untuk menghentikan aktivitasnya. Tapi berkat pengertian yang diberikan oleh Mama Aleta, beliaupun mendukung perjuangan Mama Aleta dan masyarakat adatnya. Pesan Pak Godlif Sanam hanya satu, yaitu saling percaya dan ingat keluarga. Pada tahun 2006 disaat mau pulang ke SoE Mama Aleta sempat dihadang oleh preman-preman bayaran sekitar 20 orang yang memakai topeng. Saat itu Mama Aleta sempat mendapatkan beberapa kali pukulan dan tendangan oleh preman-preman tersebut. “Para preman itu juga sempat mengeluarkan golok dan menebaskannya ke kaki saya disaat saya jatuh. Tapi mungkin karena pertolongan Tuhan dan mereka buru-buru bagian tumpulnya yang mengenai kaki saya. Setelah menebas mereka lari” cerita Mama Aleta kepada kami.
Karena merasa hidupnya sangat terancam, para keluarga dan sahabat mengevakuasi Mama Aleta. Selama tiga bulan Mama Aleta hidup di beberapa tempat seperti di Kupang, SoE dan akhirnya berpindah-pindah dari kampung ke kampung dibawah naungan tokoh-tokoh adat yang ada. Saat evakuasi perjuangan Mama Aleta tidak berhenti disitu. Proses evakuasi dia manfaatkan untuk konsilidasi dan mencari dukungan orang yang lebih banyak lagi. Untuk bertemu dengan suami dan anak-anaknya Mama Alete terpaksa datang sembunyi-sembunyi dan janjian ketemu disuatu tempat.
Sampai dengan saat ini perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Molo tidak pernah luntur. Mama Aleta dan masyarakatnya akan tetap berjuang jika ada perusahaan yang sementara ini berhenti beroperasi akan masuk kembali ke wilayahnya. Perjuangan untuk menutup pertambangan yang masih beroperasi di Naitapan yaitu PT Sumber Alam Marmer juga menjadi salah satu agendanya.
Perjuangan kaum perempuan di Molo bukan hanya tumbuh jiwa Maleta saja, tetapi juga ada di mama-mama yang lainnya di beberapa desa di Molo Utara. Seperti Mama Ety yang berasal dari Desa Kuannoel. Seorang mama yang kalo bercerita penuh dengan ekspresi ini juga menceritakan bahwa ia dan keluarganya sempat dimusuhi oleh saudara-saudaranya yang ada di kampung karena dia menolak pertambangan yang ada di Desa Kuannoel. Dibeberapa desa memang ada beberapa orang pro dengan pertambangan, terutama mereka yang menikmati hasil dari pertambangan dan mereka yang terkena iming-imingan dari perusahaan. Sambil menangis Mama Ety menceritakan bagaimana dia sangat sedih sekali melihat perpecahan ikatan kekeluargaan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun hanya karena sebuah perusahaan tambang. Mama Ety juga sangat sedih sekali karena seoarang tantenya yaitu Mama Marselina Lake yang juga ikut berjuang saat menduduki lokasi pertambangan meninggal dunia karena terlalu banyak menghirup debu-debu dari bor-bor yang beroperasi disaat mencoba menghentikan dan merebut bor dari tangan pekerja. Setelah sakit selama satu minggu akhirnya nyawa Mama Marselina tidak bisa diselamatkan lagi.
Di Desa Tunua juga terdapat para pejuang perempuan. Diantaranya adalah Mama Omi. Wanita muda yang baru berumur 29 tahun ini dengan gigih berjuang untuk menolak pertambangan marmer yang ada di Naitapan. “Di Tunua banyak juga orang yang pro terhadap marmer. Dengan berbagai macam janji perusahaan mengambil hati masyarakat” ungkap Mama Omi. Sebelum memulai operasi di Desa Tunua, Kecamatan Molo utara, kabutapen TTS, perusahaan sempat menjanjikan pembangunan jalan aspal sepanjang 5 km, pembangunan gereja 2 buah, pembangunan gedung Sekolah Dasar 2 buah, rumah masyarakat 150 KK. Tapi sampai saat ini tidak ada yang direalisasikan padahal gunung batu yang ada di Naitapan sudah terpotong-potong dan erosi sudah melanda desa. “Banyak sumber-sumber air disini kering dan hilang walaupun belum masuk musim kering atau kemarau. Salah satu sungai yang hulunya di batu yang ditambang itu sekarang sudah tercemar dan membuat gatal-gatal” keluh Mama Omi.
Batu-batu yang ada di Molo ibarat tulang bagi masyarakat Molo. Air adalah darah. Tanah adalah Daging. Hutan adalah rambut. Tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu hilang maka kehidupan tidak akan ada. “Kami yang ada di dataran Molo, kami menganggap bumi, batu, kayu dan air itu adalah merupakan ibu yang menyusui” tegas Om Heis yaitu salah satu tokoh adat dari Desa Ojoabaki. Oleh karena itulah masyarakat Molo berjuang mati-matian mempertahankan Batu yang ada di Molo. Dulunya nenek moyang mereka juga tinggal di gua-gua yang ada dibatu tersebut dan masih ada sisa-sisa peninggalan nenek moyang mereka. Di setiap gua-gua yang ada merupakan salah satu tempat tinggal sebuah marga yang ada di Molo. Seperti yang ada di Batu Nausus, ada beberapa gua yang dimiliki oleh Kafetoran Netpalak yaitu Marga Tefui’ Sembanu, Seko Ba’un, Toto Tanesif dan Nani Lasak. Jika batu-batu itu ditambang dan dihancurkan bukan hanya kehidupan mereka yang terganggu tetapi juga identitas masyarakat adat Molo akan ikut musnah. “Kami tolak pertambangan yang ada di Molo, karena inilah tempat ritus kami, tempat tinggal kami yang pertama. Istana daripada marga kami yang tidak boleh diganggu oleh siapapun!” tegas Om Heis lagi.
Melihat dan mendengar cerita dari kaum perempuan yang ada di Pulau Timor ini membuat saya kembali bingung kepada Pemerintah Indonesiah ini. Rakyatnya mati-matian berjuang mempertahankan kesejahteraan alam dan manusianya, mempertahankan identitas dan budayanya. Tapi Pemerintah kita yang tercinta ini malah dengan entengnya dan menjual memberikan izin untuk dihancurkan sumber-sumber kehidupan mereka. Identitas diri mereka. Capek deh!!
Labels: On Site
Posted by Gekko Studio at Wednesday, September 10, 2008 0 comments
Tuesday, September 9, 2008
Under Threat
The video shows the rejection of the indigenous Dayak of Borneo to large-scale oil palm plantations set up in their territories. Oil palm plantation is held accountable for the vast destruction of much of the island’s ecosystems. The plantation scheme has also expelled the nomad Dayak, who depend primarily on forests. Read More...
Labels: Film
Posted by Gekko Studio at Tuesday, September 09, 2008 0 comments
The Guardian of Sebesi Island
Pulau Sebesi islander make an important decision about their own live. They initiate a community based marine sanctuary. The community realized that they have to protect their own natural resources, especially coral reefs, with a sustainable way in order to maintain their own live. Read More...
Labels: Film
Posted by Gekko Studio at Tuesday, September 09, 2008 0 comments
Friday, September 5, 2008
Gekko Studio Films on FreedomFilmFest 2008
The Indigenous People of Knasaimos
* Director: Ritzki Sigit/ Nanang Sujana
* Duration: 32m
* Country: Indonesia
* Languages: BI,Eng
* Official Website: www.gekkovoices.com
* Film link: http://blog.gekkovoices.com/indigenous-people-of-knasaimos.html
At present Indonesian forests are in a very dangerous situation due to massive exploitation that has happened in the past couple of years. Every year, areas as big as three times the island of Bali are being destroyed. On the other hand there is still hope, especially in the ancestral forests that are being managed by the indigenous people. Forests for them mean not only the number of standing stock, but it is related to their religion, wisdoms and many other kinds of socio-cultural aspects.
Voices From The Forest (2007)
* Director: Gekko Studio/Dusty Foot Production
* Country: India
* Official Website: www.gekkovoices.com
* Film link: http://blog.gekkovoices.com/voices-from-forest-in-india.html
Non-timber forest produce (NTFP) spell a critical source of income for indigeneus people and forest-dwelling communities, who are among the poorest of the poor. Not only do the NTFPs play a crucial role in the livelihood of these people, but from a key incentive to conserving the forest of India. Moreover NTFPs are woven in with the social and cultural fabric of the communities.
Communities are working hand in hand with grassroot non-government groups, traders, and government to address the challenges posed by low productivity, lack of tecnology, irrational NTFP law, and wide-scale contract based extraction. Over the years of hard work, inroads are being made. Community-based conservation, management, value addition, and marketing of NTFPs are being successfuly practiced. Honey, mahua, resin, amla, sal leaf, and the thousands of other NTFP species will continue to flourish and play its role in the lives of communities today and in the future.
See more on:
http://freedomfilmfest.komas.org/about/screenings/
Labels: Event
Posted by Dwi Lesmana at Friday, September 05, 2008 0 comments
Wednesday, September 3, 2008
International Day Against Monoculture
Dear friends,
This coming 21 September we will once again be marking the International Day Against Monoculture Tree Plantations.
As a way of raising awareness about the different kinds of impacts suffered by communities in countries around the world as a result of monoculture tree plantations, we at WRM, Friends of the Earth and the Global Forest Coalition invite you to join in this worldwide day of protest.
You may be wondering what you can do on this day. There are a wide variety of activities that can be planned in our different countries and communities. While the activities chosen will depend upon the possibilities of each one of us, there are a number of ideas that we would like to share with you. For example:
- Meetings about plantations (conferences, seminars, workshops).
- Media activities (press releases, press conferences, interviews with newspapers, radio and TV programmes, internet articles).
- Public events (in urban and rural areas) to inform the public about the impacts of plantations.
- Dissemination of testimonials from people affected by plantations.
- Meetings with government representatives.
However there are also very simple things that can be done at an individual level, such us:
- Hanging a sign/banner in the window of your office or home.
- Putting a bumper sticker on your vehicle.
- Sending your email contacts a message about the meaning of the International Day Against Monoculture Tree Plantations.
- Placing a banner on your website and on blogs.
We are preparing a series of tools that can help you to organize the kind of activities we have recommended. If you would like to receive them, please do not hesitate to contact us
In addition, remember that WRM has two other tools already developed that are available for use at:
1) The video “Mountains of Paper, Mounting Injustice” (Available at: http://www.wrm.org.uy/Videos/Paper_Consumption.html)
2) The “Appeal from literature and journalism for socially and environmentally clean paper” (Available at: http://www.wrm.org.uy/plantations/writers.html)
Please feel free to write to us if you need further information.
Kind regards,
The WRM Team
Labels: Event
Posted by Dwi Lesmana at Wednesday, September 03, 2008 0 comments
Mountains of Paper, Mounting Injustice
Mountains of Paper, Mounting Injustice from WRM on Vimeo.
Produced by the World Rainforest Movement - 2008
Sreenplay: Antonis Diamantidis and Flavio Pazos
With the support of the WRM International Secretariat Team
Voice: Cecilia Carrère
The Appeal from Literature and Journalism for Socially and Environmentally Clean Paper
Paper is a wonderful material, which for centuries has served for a fertile exchange of ideas among human beings. For us all who use it as an essential vehicle to share what we think, imagine, dream, know or believe we know, paper is a wonderful tool that we want to be able to continue using ... but not at the expense of people and the environment.
As people who live in this reality, we are aware of the serious injustices and inequalities - social and environmental – arising from the world production and consumption of paper.
In addition to the destruction of forests for making paper, now forests and grasslands are being replaced by vast monoculture tree plantations, destroying communities, water, soil and all life. Both the destruction of forests and the installation of monoculture tree plantations – occupying food-producing land – bring about enormous damage to the local population, who see their rights violated, their environment destroyed and their way of life irremediably affected.
The destructive cycle is continued with pulp production, in which fewer and increasingly larger companies take possession of land where they plant trees, of water that their trees and mills consume and contaminate, of political power acquired through their billion dollar investments, and of the environment that they destroy in the regions where they are installed.
To destruction are added inequities. The enormous volume of paper produced from this pulp feeds a “world market” centred on rich and powerful peoples’ consumption. The average figures (that hide enormous inequalities on a national level), show that consumption per capita is more than ten times higher in the countries of the North than in those of the South.
To inequity is added excessive consumption. Only as an example it is enough to see the mountains of paper and cardboard growing night after night in the streets of New York to understand that most of the pulp production does not end up as books, newspapers or journals, but simply as trash. In general terms, at least half the pulp produced goes to the production of paper and cardboard for wrapping and packaging, most of it totally unnecessary.
We do not want to have anything to do with paper produced in this way. We do not want to become accomplices to the social and environmental destruction this implies. We do not trust certification schemes that have given their seal of “sustainability” to these same monoculture plantations whose impacts we know so well.
This situation has already reached intolerable limits and its solution requires policies discouraging unnecessary consumption, promoting a rational and socially appropriate use of paper, ensuring an equitable use among countries and within countries, facilitating the development of diversified models on a smaller scale for the production of pulp, respecting both people and the environment.
The above is perfectly feasible and no technical limitations of any kind exist to prevent it from becoming a reality. The only and real obstacle is the economic interest of large companies, whose objective is to continue making profits by imposing an increasingly large and unlimited consumption of paper. The time has come to tell them that this is enough.
We are therefore appealing to those, who like us want to be able to continue communicating through this marvellous material called paper, to join in this struggle for a socially and environmentally clean paper.
Please sign-up the appeal here.
Labels: Event
Posted by Dwi Lesmana at Wednesday, September 03, 2008 0 comments
Monday, September 1, 2008
FreedomFilmFest 2008
The annual FreedomFilmFest will be returning to screens around Malaysia when the festival kicks off in September.
FFF adopts the themes encompassed in the Universal Declaration of Human Rights (UDHR) which expresses our aspirations for genuine justice, peace, equality and democracy.
Through an annual film contest, workshops and screenings, FFF creates an annual showcase of outstanding films and documentaries focusing on social issues that affect ordinary people like HIV/AIDS, human rights, poverty and the environment; alternative films which, due to a lack of commercial backing and because of the tyranny of popular mainstream media, are out of the reach to most Malaysians.
FFF is a vital event, providing a venue for the Malaysian public to use the video medium as a tool for social documentation and filmmaking. Technological advances have brought about a democratising effect to filmmaking in recent years. With a video camera in hand, almost any person on the street, and even entire communities, can share their story in the way they want to tell it. Filmmakers are better equipped now to explore and express their skills and passion to produce socially relevant films.
Screening
Kuala Lumpur (5-7 Sep 2008)The Annexe Gallery Studio Theatre
1st & 2nd Floor,
Central Market Annexe,
Jalan Hang Kasturi,
50470 Kuala Lumpur.
MAP
Tel / Fax: +603 2070 1137Johor Bahru (12-14 Sep 2008)
Tropical Inn Johor Bahru
15 Jalan Gereja
80100 Johor Bahru, Johor
MAP
JB Coordinator:
Nyam +6016 778 2707Kuching (19-21 Sep 2008)
Old Court House
Jalan Tun Abang Haji Openg
93000 Kuching
MAP
Kuching Coordinator:
Ahmad +6019 438 3706
Penang (26-28 Sep 2008)
Wawasan Open University (WOU)
54 Jalan Sultan Ahmad Shah
10500 Penang
MAP
Penang Coordinator:
Josh +6016 462 2650
Organized by:
Komas (Community Communication Centre)
40-A, Jalan 52/18,
46200 Petaling Jaya,
Selangor,Malaysia
Tel: 603-7968 5415
Fax: 603- 7968 5415
Email: komasjj@pc.jaring.my
Source: freedomfilmfest.komas.org
Labels: Event
Posted by Dwi Lesmana at Monday, September 01, 2008 0 comments