Keinginanku untuk kembali lagi ke lokasi penelitianku untuk tugas akhir saat itu akhirnya bisa terwujudkan. Pusat Konservasi Gajah Seblat, yang terletak di sebelah Utara Provinsi Bengkulu ini aku kunjungi pertama kali pada tahun 2004. Gilakan? setelah dua puluh tahun lebih aku lahir di Bengkulu, baru tahun 2004 aku datang kesana.
Setelah menyelesaikan penelitianku dan tahu betapa kompleksnya permasalahan dan ancaman kawasan ini terhadap perambahan, illegal loging, perburuan liar membuat hatiku terenyuh dan ada sebuah keinginan yang kuat untuk berbuat sesuatu terhadap kawasan ini. Sekecil apapun itu partisipasi dan kontribusiku, yang penting aku bisa melakukan sesuatu. Haruss!!!
Setelah aku lulus dari kampus, gejolak dan keinginan untuk balik lagi ke PKG Seblat masih sangat besar. Diskusi dan membuat rencana-rencana peluang bagaimana caranya bisa kembali lagi ke Bengkulu terus bergulir seiring berjalannya waktu. Kajian-kajian dangkal mengenai apa dan mengapa gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) ini semakin terancam kehidupannya dilakukan. Tanya sana sini, telpon sana sini. Dan berakhir dengan kata "apa yang bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita?"
Tahun 2007 tidak disangka ide kita untuk mendokumentasikan dan membuat film singkat mengenai keterancaman kelestarian habitat gajah di Bengkulu, dan mengupdate kondisi terakhirnya disetujui oleh Rufford Foundation. Karena kemampuan kita hanya dibidang audio visual, maka kita mencoba melakukan menyebarkan informasi mengenai keterancaman kawasan PKG ini dan keterancaman satwa-satwa yang ada didalamnya. Kita melihat bahwa kurang informasi mengenai kawasan ini dan bagaimana kehidupan satwa gajah membuat masyarakat Bengkulu kurang begitu peduli dan masa bodoh dengan gajah.
Monday, April 28, 2008
Gajah Sumatera, Nasibmu Kini ...
Labels: On Site
Posted by Dwi Lesmana at Monday, April 28, 2008 1 comments
Pusat Konservasi Gajah Seblat
Gajah Sumatera, Nasibmu Kini ... (lanjutan 2)
Pada tahun melalui SK Menhut No. 658/Kpts-II/1995 kawasan yang luasnya hanya 6.865 ha ini ditetapkan sebagai Hutan Poduksi dengan fungsi khusus. Khusus karena didalamnya ada habitat gajah dan kawasan ini ingin dijadikan tempat pelatihan gajah. Keputusan ini dikeluarkan karena pada tahun 1988 konflik antara manusia dan dan gajah mulai terjadi di Provinsi Bengkulu.
Di Sumatera populasi gajah pada tahun 1992 diperkirakan 2800-5000 ekor. Namun pada tahun 2007 populasi ini berkurang drastis menjadi 2400-2800 ekor (Gajah Action Plan 2007). Sementara populasi di Bengkulu saat aku tanya dengan bapak-bapak yang ada di BKSDA Bengkulu, jumlahnya pada tahun 1992 sekitar 375-390 ekor. Sedangkan sekarang jumlah populasinya sekitar 120-140 ekor.
Semakin terancamnya keberadaan satwa gajah di Asia termasuk di Indonesia pada tahun 1996 IUCN sudah memasukkan satwa gajah kedalam The IUCN Red List of Threatened Species atau kedalam daftar merah spesies terancam punah. Dan saat ini satwa gajah juga sudah masuk kedalam Apenddix I CITES.
Di Bengkulu terdapat dua kantong gajah yang tersisa, yaitu Kelompok PKG Seblat (HPT Lebong Kandis-Hutan Produksi Air Rami), dan Kelompok Air Teramang. Sebelumnya pada tahun 1992 terdapat delapan kantong habitat gajah. Jumlah gajah liar yang ada di PKG Seblat saat ini diperkirakan sekitar 60-80 ekor. Selain itu juga teradapat 21 ekor gajah binaan dan terdapat flora dan satwa lainnya seperti tapir, harimau sumatera, beberapa jenis primata dan berbagai jenis burung. Gajah bianaan ini ditangkap pada tahun 90'an saat banyaknya gajah-gajah yang masuk ke perkebunan dan pemukiman masyarakat. Setiap ekor gajah binaan dirawat dan dijaga oleh seorang pawang gajah atau mahot. Namun sekarang berdasarkan keputusan pemerintah dan kesepakatan para pemerhati gajah tidak diperkenankan lagi melakukan penangkapan gajah-gajah liar untuk dijinakan.
Luas kawasan PLG Seblat yang hanya 6.865 ha tidaklah memadai sebagai habitat kelompok gajah di PLG Seblat. lokasi ini telah dikelilingi oleh perkebunan sawit yang ikut menyebabkan pergerakan gajah menjadi semakin sempit dan hanya ada satu koridor yang menghubungkan antara PLG Seblat dengan TN Kerinci Seblat. Nasib koridor ini terakhir aku kesana sudah terputus oleh perambah dan sudah menjadi pemukiman masyarakat. Dan sekarang habitat gajah ini sudah terkurung oleh perkebunan sawit dan pemukiman masyarakat. Yaaa... kita tinggal tunggu saja human elephant conflicts yang akan terjadi di Bengkulu. Idealnya satu ekor gajah membutuhkan luas areal untuk makannya adalah 200 ha. Kebutuhan makan gajah adalah 5-10% dari berat badannya. Jika populasi gajah di PKG Seblat diperkirakan sekitar 80 ekor, maka luas areal yang dibutuhkan adalah 16.000 ha lahan berhutan.
Ancaman terhadap kelestarian satwa dan flora di kawasan hutan PKG Seblat saat ini semakin kompleks. Mulai dari pembukaan lahan hutan untuk perladangan oleh masyarakat, perambahan, illegal loging serta perburuan liar. Maraknya perburuan gading gajah, membuat kelangsungan hidup gajah-gajah jantan yang ada di PKG Seblat semakin terancam. Selain itu juga banyak gajah-gajah yang dibunuh disaat mereka memasuki areal perkebunan masyarakat.
Labels: On Site
Posted by Gekko Studio at Monday, April 28, 2008 0 comments
Seandainya tidak ada gajah di dunia ini knapa?
Gajah Sumatera, Nasibmu Kini ... (lanjutan 3)
Pertanyaan tersebut keluar disaat kita berdiskusi panjang dan berdebat bagaimana caranya menyelamatkan habitat gajah di Bengkulu. Karena sudah mentok dan kompleks permasalahan yang ada di PKG Seblat, dengan putus asa karena tidak menemukan jalan keluarnya seorang teman mengeluarkan pertanyaan itu. "Apa yang terjadi jika tidak ada gajah di dunia? tidak ada ada bencana bukan?". Semua orang langsung diam dan tidak bisa menemukan jawabannya. Karena semua bingung, akhir aku menyeletuk "ya.. setiap yang namanya makhluk Tuhan itu punya hak untuk hidup dan punya tempat tinggal". Apakah ada jawaban lain selain jawabanku??
Diskusi ini terus berlanjut, beberapa minggu yang lalu aku kembali lagi ke Bengkulu untuk berdiskusi dengan Kepala BKSDA Bengkulu beserta beberapa staffnya, NGO lokal dan beberapa temen media lokal. Mencoba mencari titik temu agar kepentingan keselamatan gajah dari kepunahan dan kebutuhan hidup masyarakat sekitar kawasan bisa terpenuhi. Namun sampai sekarang belum ada titik temunya. Belum ada win win solution yang kita dapatkan.
Peningkatan status kawasan menjadi kawasan konservasi yang lagi diupayakan oleh BKSDA Bengkulu dan beberapa NGO disana masih belum bisa direalisasikan. Kepentingan bagi masyarakat atas keberadaan kawasan konservasi diwilayah mereka belum bisa diramalkan secara baik. Sampai sekarang Kita masih mencari jawaban-jawaban apa manfaat bagi masyarakat jika status kawasan yang semula hutan produksi dengan fungsi khusus menjadi hutan konservasi?, kenapa gajah harus diselamatkan?, mengapa pemerintah daerah lebih baik memperluas areal perkebunan sawit daripada memikirkan upaya-upaya untuk penyelamatan gajah?, mengapa masih terjadi perburuan liar, mengapa masih terjadi illegal loging dan perambahan disekitar kawasan PKG Seblat? Apa yang salah dan mengapa semuanya bisa terjadi??
Kalo menurut pikiranku yang pendek ini. Semuanya perlu keseimbangan. Pembangunan dan peningkatan segi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sangat perlu untuk ditingkatkan. Tapi kelestarian sebuah ekosistem dan keseimbangan alam juga sangat perlu diperhatikan. Nah, bagaimana mempertemukan berbagai kepentingan ini, dengan latar belakang orang yang berbeda-beda?? Tidak gampang ternyata.
Yang membuat aku menjadi sedih adalah pernyataan yang keluar dari seoarang pawang gajah yang ada di PKG Seblat. "Kalo kita tidak bertindak cepat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di PKG Seblat ini, kemungkinan 5-10 tahun kedepan gajah-gajah liar yang ada di Bengkulu ini berikut gajah jinaknya sudah dipastikan tidak ada lagi di Bengkulu ini" ujarnya tegas kepadaku.
Aku ngga bisa bayangkan seandainya anak cucuku nanti bertanya padaku "Pak, katanya di Bengkulu ada Gajah ya?? Liat gajah yuk pak". Kemana aku harus mengajak anak cucuku untuk melihat gajah di Bengkulu. Gajahnya sudah tidak ada lagi. Kasihan benar anak-anak kita dan generasi penerus kita nanti, menikmati indahnya alam, flora dan fauna di Nusantara ini hanya dari sebuah buku dan cerita-cerita, yang mungkin aja nanti gajah hanya sebuah dongeng??.....
Labels: On Site
Posted by Gekko Studio at Monday, April 28, 2008 0 comments
Tuesday, April 22, 2008
My Forest Tears
My Forest Tears
Video sent by gekkostudio
Ethnomusicology about forest in Indonesia
The Poem is
Here at one time
orangutans played joyfully
eating fruits and leaves of the trees
swinging between the branches
generation upon generation for thousands of years
Here at one time
the Meranti, Ulin, and Kamper trees
stood sacredly in great forests
wild orchids bloomed and faded
in-synch with the rhythms of the universe
Here at one time
the Dayak with their blowpipes
hunted deer for their dinner
oo… the plentiful fruit and fish
abundant healing leaves
Here at one time
the sun shone brightly
pouring its light on the dense rain forest
chlorophyll turned CO2 to O2
creating fresh, clean air
Nowadays
no rain forest remain
gone are the Dayak and their culture
gone are the orangutans, only a sad story
with its historical garbage is left behind
Nowadays
millions of hectares of dry barren land
the dried roots of the trees remain
and huge holes of acid run-off water
left behind after the coal was sucked dry
Nowadays
the red sun shines
watching officials, businessmen,
and foreign investors greedily cut down the trees
planted and nurtured over thousands of years
Oh, my people … my people
nowadays …
angry Mother Earth sends floods
thousands of innocents lose belongings and lives
while the sinners play golf with their mistresses
Aach … my forest laments
its eyes are swollen
its mouth gasps for breath
Oh ….
you will see when the islands are drowning
the deserts expanding
disasters grow more violent … disasters grow more violent
See more on www.gekkovoices.com
Labels: Film
Posted by Dwi Lesmana at Tuesday, April 22, 2008 0 comments
Calling for Earth Day (ID)
Suara dari Ibu Bumi:
Klik Video ‘Hutanku Meratap’ dan Berikan Perhatian Anda kepada Kondisi Hutan Indonesia
Bogor, 22 April 2008. Sebagai paru-paru dunia, hutan tropika Indonesia telah berkurang dalam laju yang mencemaskan, disebabkan oleh konversi, penebangan liar dan eksploitasi yang berlebihan. Tidak ada lagi tempat bagi masyarakat hutan untuk tinggal ketika hutan mereka berubah menjadi tambang, ribuan orang meratap ketika rumah mereka hanyut oleh banjir, dan hutan menjadi sepi ketika tidak lagi suara burung yang bernyanyi dan tiada lagi orang utan meloncat dari satu pohon ke pohon lain.
Sebelum semuanya benar-benar musnah, dan hanya menjadi cerita bagi generasi berikut, luangkan waktu anda 7.36 menit pada hari bumi dan anda akan menjadi seorang saksimata kehancuran hutan Indonesia. Saksikan ‘HUTANKU MERATAP’ di www.gekkovoices.com yang kami dedikasikan untuk membawakan suara dari Ibu Bumi.
Diproduksi oleh Gekko Studio, bekerjasama dengan Rizaldi Siagian dan Slamet Widodo, --- keduanya adalah seniman yang telah mendedikasikan karyanya untuk menulis puisi dan membungkusnya dalam musik tradisional dayak, --- kami membawakan ‘HUTANKU MERATAP’ untuk mendapat perhatian anda. Jika anda telah selesai menyaksikan video ini dan anda memiliki mimpi yang sama dengan kami, bagikanlah kepada teman-teman anda sekalian. Bersama kita dapat menyelamatkan salah satu hutan tropis dunia.
Masa depan planet ini berada di tangan anda.
Salam,
Gekko Studio
Labels: Film
Posted by Dwi Lesmana at Tuesday, April 22, 2008 0 comments
Calling for Earth Day
Voice from the Mother Earth:
Click ‘the Forest Lament’ Video and Put your Attention on Indonesia’s Forest Condition
Bogor, April 22, 2008. As the lungs of the world, the Indonesia tropical forests are being lost at an alarming rate, largely due to land convertion, illegal logging and massive exploitation. The Indigenous people have no place to go when they find their forest changing into mining, thousands of people plight when their houses are lost by the flood, and forest are becoming silent because no more bird are singing and no more orangutan jumping from the big tree to another tree.
Before it is totally gone, and will be only the story for our next generation, just spend your 7.36 minutes during the Earth Day and you will be the eyewitness of Indonesia’s Forest Destruction. Watch ‘THE FOREST LAMENT’ at www.gekkovoices.com which we dedicated to bring the voices of Mother Earth.
Produced by Gekko Studio, collaborating with Rizaldi Siagian and Slamet Widodo, ---both of them are Indonesian artists who have dedicated their talent for writing this poetry and wrapping it into dayak’s traditional music rhythm, --- We bring the ‘THE FOREST LAMENT’ to get your attention. If you already watched this video, and you are the same dream with us, just share it to your friends. Together we can save one of the last tropical forest in the world.
The planet future is on your hand.
With regard,
Gekko Studio
Labels: Film
Posted by Dwi Lesmana at Tuesday, April 22, 2008 0 comments