StoS are providing visual information on exploitation portrait in southern countries. Most of them are third world countries with rich biodiversity, including Indonesia. Ironically, the southern countries suffer the most from impact of natural resources exploitation. Yet their fight and movement sound was not able to reach public. StoS will inspire us on how communities in several areas were truly struggling in facing the impact of natural resources exploitation, starting from those that also threatened their life, livelihood productivity, and service of nature.
StoS 2008, Menggugah Publik lewat Festival Film
Informasi yang benar dan mencerdaskan, susah didapat di negeri ini. Tayangan Televisi lebih memilih mengejar rating ketimbang menayangkan acara yang mencerdaskan anak negeri. Bioskop, didominasi film-film percintaan, hantu dan mistik. Belum lagi, pernyataan pejabat publik di media cetak, yang kadang tak bisa dibedakan, apa ia sedang menjadi pejabat atau pelaku bisnis. Informasi itu, seolah tak ada hubungannya dengan kondisi memprihatinkan yang dihadapi warga sejak lama.
Tahun lalu saja, keluar berbagai kebijakan yang tidak pro keselamatan masyarakat dan lingkungan. Tahun dimana kasus-kasus lingkungan utama yang naik sepanjang pemerintahan SBY, dikalahkan di pengadilan. Tahun yang ditutup dengan meningkatnya bencana akibat kerusakan lingkungan, yang terus menerus tak tertangani.
“Semua kondisi tersebut membuat kami prihatin. Keprihatinan inilah yang mendorong kami mempersembahkan South to South Film Festival 2008. Kami berharap dengan datang ke acara ini publik mengetahui apa keterkaitan kebijakan, ekspoitasi sumber daya alam dan penghidupan mereka”, ungkap Siti Maimunah, Koordinator Nasional JATAM, salah satu organisasi penyelenggara StoS 2008.
South to South Film Festival atau disingkat StoS 2008, merupakan Festival Film Lingkungan yang digelar rutin sejak tahun 2006. Kali ini mengusung tema Vote for Life, digelar dari tanggal 25 - 27 Januari di Goethe Institute Jakarta.
Pemutaran film, akan menjadi bagian utama festival ini. “Film dipilih agar publik mudah menangkap pesan dan terhubung dengan situasi di kawasan-kawasan kaya sumber daya alam, terpencil, bahkan tak pernah mereka dengar, apalagi mereka kunjungi. Ini penting membangun solidaritas warga dari kawasan pedesaan hingga perkotaan”, ujar Rizki Rinanto Sigit, Direktur Gekko Studio
“Ada sekitar 16 film pilihan yang akan diputar, baik film pendek dan panjang, dengan cerita seputar kehidupan masyarakat di kawasan kaya sumber daya alam dari 11 negara dan juga tentang perubahan iklim”, tambah Voni Novita, Ketua Penyelenggara. StoS kali ini tak hanya memberikan info searah, tetapi juga membahasnya bersama penonton lewat acara Bincang-Bincang. Bahkan, pikiran-pikiran dan usulan nakal publik terhadap kondisi yang ada, akan diekspresikan lewat Lomba Puisi dan Poster bertajuk Pesan untuk Presiden 2009.
“Isu-isu seputar eksploitasi hutan dan perubahan iklim, akan menjadi salah satu topik StoS 2008. Ini menjadi penting di saat kondisi hutan alam kita kritis, dengan laju kerusakan mencapai 4 kali pulau Bali setiap tahunnya. Belum lagi ancaman dari pertambangan di hutan lindung dan juga ekspansi perkebunan skala besar”, ungkap Cristian Purba dari Forest Watch Indonesia, penyelenggara lainnya.
Ecosister, penyelenggara StoS 2008 berharap, kali ini lebih banyak penunjung yang datang, dibanding sebelumnya yang tercatat sekitar 400 orang pengunjung. “Semoga banyak perempuan yang datang. Kami ingin pesan StoS sampai pada kaum perempuan. Dalam keluarga para ibulah yang nantinya bisa meneruskan pesan-pesan StoS 2008. Mereka juga ujung tombak keluarga dalam berbelanja barang kebutuhan harian, yang hampir semuanya tak lepas dari alam. Misalnya, mereka perlu tahu, ada 7 dari 10 barang di Supermaket dibuat dari minyak Sawit”.
StoS 2008, juga akan menggelar pameran bertajuk Kita Terhubung. Ada puluhan potret akan digelar, yang menggambarkan apa keterkaitan kebutuhan harian kita, dengan kawasan-kawasan eksploitasi sumber daya alam.
“StoS bukan Festival Film biasa. Ia ingin mengajak publik memahami masalah, lebih kritis dan bersolidaritas dengan warga lain di kawasan eksploitasi sumber daya alam, untuk kehidupan yang lebih adil. Catatan-catatan buruk sepanjang tahun 2007, akan menjadi masukan penting ke depan dalam memilih wakil-wakil mereka, yang pro rakyat dan lingkungan. Kami mengundang publik Jakarta dan sekitarnya untuk beramai-ramai datang”, tutup Chalid Muhammad dari WALHI.
Kontak Media : Luluk Uliyah (0815 9480 246)
Read More...