Pada hari senin tanggal 18 Juni 20007 saya bersama temen kerja berangkat ke Kasepuhan Cibedug Desa Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak.
Setelah pagi-pagi menyiapkan perlengkapan dan peralatan yang kami butuhkan selama dilapangan kami langsung menuju terminal Bubulak, Bogor. Di terminal Bubulak ini kami akan menuju Cipanas dengan menggunakan angkutan kota. Sebelum menaiki angkot yang menuju ke Cipanas, kami menunggu satu orang teman lagi dari RMI The Indonesian Institute for Forest and Environment yang merupakan salah satu lembaga pendamping masyarakat disana.
Cukup lama menunggu teman yang satu ini, karena saat dihubungi ponselnya dia masih berada di RMI dan baru akan jalan. Sekitar setengah jam kemudian, teman yang bernama Nino ini baru muncul. “Sudah lama menunggu, maaf telat. Tadi ada meeting sebentar dengan teman-teman disana” ucapnya saat saya mau bersalaman dan berkenalan. Tak berapa lama kemudian kami langsung menaiki angkutan kota menuju Cipanas. Tujuan kami dengan angkot ini adalah pertigaan Gajrug, yaitu pertigaan untuk menuju Citorek. “Perjalanan dengan angkot ini sekitar dua jam. Melewati Leuwiliang, Jasinga dan lurus terus sampai perbatasan Bogor-Lebak Banten” ucap Yudi teman saya yang berasal dari Labuan Banten ini. Dia tahu daerah yang akan kami kunjungi karena sering pulang kerumah orang tuanya melalui jalur ini.
Sekitar satu jam perjalanan kepala saya mulai pusing. Bau yang dikeluarkan dari kanalpot angkot yang kami naiki mulai tak sedap. Apalagi disaat angkot ini sering berhenti untuk menaiki dan menuruni penumpang. Saya liat Nino asyik membaca buku novel yang warna sampulnya berwarna hijau. Disaat saya lirik apa judul buku yang dia baca, saya jadi tersenyum sendiri. “Ini pasti buku konyol dan bernuansa komedi, judulnya aja Sakit 1/2 Jiwa” gumamku dalam hati. Karena saya memperhatikan dia membaca buku karangan Endang Rukmana itu, dia lalu menjelaskan sekilas tentang isi buku yang dia baca. “Buku ini bercerita tentang kehidupan seorang laki-laki dalam mencari jati dirinya dan mencari cintanya. Setting tempatnya di Daerah Banten dan Baduy Dalam. Lucu, bahasanya gaul. Ada tebak-tebakkannya lagi”. “Kebetulan, karena saya ngga bawa buku bacaan, saya bisa pinjam nih” balasku.
Sambil menahan rasa mual saya terus berusaha menikmati perjalanan ke Gajrug. Saya sedikit kaget disaat melihat kanan kiri jalan. Disepanjang jalan ini ada tanaman kelapa sawit. Masih ada aja yang nanam kelapa sawit disini. Sambil tertawa Nino memberikan pertanyaan kepada kami yang sedang melamun menikmati perjalanan didalam angkot. “Apa perbedaan bulan dengan matahari??”. Dengan santai Yudi menjawab “klo bulan dimalam hari, klo matahari ada disiang hari”. “Salah, klo bulan bisa ngomong. Klo matahari dapat diskon” jawab nino sambil tertawa dan kembali membaca novelnya.
Taklama kemudian kami tiba di daerah Gajrug. Kami berhenti dirumah makan Simpati, rumah makan masakan sunda. Sambil makan siang kami menunggu mobil elf yang menuju Citorek. Sekitar pukul satu siang mobil yang kami tunggu sudah tiba. Karena kondisi mobil sudah penuh maka kami bertiga terpaksa menumpangi mobil ini dengan naik dibagian atas atap mobil. Rupanya kami adalah penumpang terakhir, setelah kami naik mobil langsung menuju Citorek. Bersama dengan dua penumpang lainnya kami duduk diatas. Sambil duduk menatapi jalan yang tidak terlalu bagus, saya memperhatikan dua orang penumpang yang sedang asyik ngobrol dalam bahasa sunda. Bahasa sunda didaerah ini adalah bahasa sunda kasar. Intonasi dan nada berbicaranya sudah kencang dan keras. Melihat logatnya saya jadi ingat orang madura klo berbicara.
Perjalanan Gajrug-Citorek kurang lebih 2 jam. Sekitar pukul empat sore kami tiba di Citorek. Nino yang sudah hafal daerah ini mengajak singgah dulu ke rumah Kang Nana, yaitu salah satu kontak person didaerah Citorek. Sambil melewati jalan kecil yang dipeneuhi rumah dan terkesan kumuh kami menuju rumah Kang Nana yang sedikit tersembunyi dibagian belakang rumah-rumah lainnya. Ketika kami melewati depan rumah penduduk, banyak penduduk sana yang memperhaikan kami. Penampilan kami sudah jelas bisa ditebak. Bahwa kami pendatang.
Kami taklama singgah dirumah Kang Nana. Setelah meneguk segelas air putih dan memastikan apakah Kang Nana bisa menemani ke Cibedug akhirnya kami berempat berangkat ke Cibeduk. “Wah, sudah jam lima nih. Bisa malam kita nyampe sana. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki” ujar Kang Nana kepada kami.
Perjalanan ke Cibedug kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Dipertengahan jalan hari sudah mulai gelap. Karena banyak berhentinya, untuk beristirahat dan mengambil beberapa foto kami tiba di Kampung Cibedug sekitar pukul delapan lebih. Perjalanan dari Citorek ke Cibedug kebanyakan menanjak, dikarenakan lokasi perkampungan berada di balik bukit.
Di Cebedug kami menginap di rumah Ki Nurja’. Karena sudah terlalu capek dan pegel, ngga lama berkenalan dan setelah disuguhi makan malam saya sudah terlelap tidur.
Disini, di Cebeduk tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Di wilayah adat yang luasnya 2.144 Ha yang terdapat didalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun ini masih banyak yang perlu digali lagi lebih mendalam mengenai hutan adat mereka. Apa itu leuweung kolot (hutan yang dituakan), leuweung titipan dan leuweung bukaan. Selama tiga hari dua malam saya disana, masih belum banyak informasi yang bisa saya dapat. Informasi yang saya terima semua masih kabur, apakah mitos/kepercayaan/aturan adat itu masih ada atau sekarang sudah tinggal kenangan. Yang bisa saya lihat adalah tanah yang subur, air melimpah mengaliri disetiap hamparan sawah yang mengelilingi kampung.
Citorek Berubah
Ada yang pernah datang ke Citorek pada tahun 80-90’an??. Apa yang anda rasakan??
Ketika saya melewati perkampungan Citorek dan melewati hamparan sawah Citorek dan menatapi damainya aliran air sungai cimadur, saya bisa merasakan betapa damai dan tentramnya Citorek. DULU.
Ini pertama kali saya datang ke Citorek. Selama ini saya hanya mendengar namanya saja dari media dan cerita teman-teman. Semua ceritanya indah-indah dan memancing hasrat untuk datang kesana.
Ketika saya melihat dan melewati pemukiman-pemukiman yang ada di desa ini, kesan pertama yang saya dapati adalah desa yang kumuh dan suasana yang tidak ramah.
Karena masih penasaran apa sebenarnya yang terjadi di desa ini, saya banyak bertanya-tanya kepada Kang Nana setelah kita pulang dari Cebeduk. Sehabis makan malam dirumah Kang Nana, banyak hal yang saya tanyakan dan saya baru mengerti. “Saya bener-bener merasakan bahwa Citorek ini berubah. Sudah tidak ada lagi suara jangkrik dimalam hari. Tidak ada lagi suara burung yang bernyanyi disekitar kampung” ucap Kang Nana.
Pada tahun 2001 kampung Citorek pernah terbakar. Kurang lebih empat ratus rumah penduduk habis terbakar. Sebelum pemekaran, disini terdapat tiga desa, yaitu; Desa Ciparai, Desa Citorek dan Desa Ciusul. Saat ini Citorek sudah dimekarkan menjadi empat desa; yaitu Citorek Barat, Citorek Timur, Citorek Tengah dan Citorek Kidul (Selatan). Dan sejak tahun 2003 listrik sudah masuk ke Citorek.
“Semenjak sudah ada jalan dan listrik sudah masuk, pola hidup masyarakat disini mulai berubah”.
“Sekarang sudah jarang para laki-laki dewasa memakai ikat kepala. Sudah banyak yang punya motor, bahkan ada yang menjual sawahnya untuk membeli motor. Menjadi tukang ojek”.
“Anak-anak sudah ngga pernah main kesawah lagi. Semua lebih senang nonton televisi. Membangun rumah besar-besar”.
Saya rindu suasana seperti dulu. Bentuk rumah masih sama, orang-orang ramai berkeja disawah. Sekarang Citorek benar-benar berubah” tegas Kang Nana kepada saya.
Pola hidup yang berubah di masyarakat Citorek juga berdampak kepada kondisi sungai dibelakang kampung. Disaat saya menyusuri sungai cimadur yang berada dibelakang kampung, saya memperhatikan seorang ibu yang membuang bungkus mie instan sebanyak satu kardus ke sungai. Sementara dibawahnya masih banyak masyarakat yang menggunakan sungai tersebut untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan bahkan buang air besar. Dipinggiran sungai sudah mulai menumpuk sampah-sampah plastik. Sudah mulai bau.
“Dulu belum ada samah-sampah plastik disepanjang sungai cimadur. Yang ada hanya sampah-sampah dedaunan. Disepanjang sungai ditanami tanaman pisang. Sekarang sampah ada dimana-dimana”. Keluh Kang Nana.
Malam itu saya hanya bisa berharap kepada Kang Nana agar bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat agar menjaga lingkungan kampung. Tidak membuag sampah disembarang tempat dan di sungai. Saya tidak bisa bayangkan Citorek dalam sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Apakah desa yang dulunya asri akan mengikuti jejak daerah-daerah di ibu kota negara. Kumuh, bauk, penuh sampah dan sungai yang airnya sudah menghitam. Selagi masih bisa berubah, mumpung belum terlalu parah. Baiknya dicegah.*(EN)
Saturday, June 23, 2007
Perjalanan Menuju Cibedug
Labels: On Site
Posted by Gekko Studio at Saturday, June 23, 2007 0 comments
Sunday, June 17, 2007
Tahura Wan Abdul Rachman
Taman Hutan Raya atau yang sering disebut dengan Tahura menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi.
Tahura Wan Abdul Rachman (WAR) dibentuk berdasarkan SK Menhut No. 408/kpts-II/1993 dengan luas 22,.244 Ha. TAHURA Wan Abdul Rachman memiliki topografi bergelombang ringan sampai berat dan sebagian datar, di dalam kawasan terdapat 4 (empat) buah gunung yaitu : G. Rantai (1.671 m dpl), G. Pesawar (661 m dpl), G. Betung (1.240 m dpl) dan G. Tangkit Ulu Padang Ratu (1.600 m dpl).
Lokasi Tahura WAR tidak terlalu jauh dari Kota Bandar Lampung (12 Km), yaitu melalui route Lampung-Hanura.
Kesadaran Untuk Bersatu
SHK Lestari adalah sebuah Kelompok Swadaya Masyarakat yang didirikan di Muara Tiga Desa Hurun Kec. Padang Cermin Kab. Lampung Selatan pada tanggal 14 Februari 2002. Kelompok ini berdiri karena adanya kesadaran sebagai masyarakat yang tinggal dan mempunyai usaha sebagai petani di kawasan register 19 dan bertekad untuk mewujutkan kehidupan yang adil dan sejahtera dan mengembalikan fungsi konservasi dan melestarikan alam yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya. Anggota SHK Lestari adalah masyarakat yang tinggal di talang (kebun/ladang) Muara Tiga. Saat ini anggota SHK Lestari sudah mencapai seratus orang lebih.
Sebagai warga masyarakat yang mempunyai ketergantungan serta sudah menyatu dengan lingkungan dan alamnya membuat anggota kelompok SHK Lestari sadar akan pentingnya peran kelompok dalam melestarikan dan menjaga lahan garapan sehingga bisa dimanfaatkan untuk generasi selanjutnya.
Kelompok yang berkedudukan di Muara Tiga ini terdapat enam kelompok kecil, yaitu:
Di masing-masing kelompok kecil terdapat koordinator kelompok. Masyarakat yang tinggal didalam kawasan Tahura Wan Abdul Rachman sudah sejak tahun 1960-an dimana kawasan ini belum ditetapkan sebagai Tahura. Pada tahun 1997 Aparat Dinas Kehutanan dan TNI melakukan pengusiran terhadap masyarakat yang tinggal didalam kawasan yang diklaim oleh pemerintah sudah menjadi Tahura. Aparat pemerintah tersebut bukan saja melakukan pengusiran, tetapi juga membakar seluruh bangunan rumah tempat tinggal dan sekolah yang sudah bediri disana.
Setelah dilakukannya pengusiran tersebut, sebagian masyarakat yang berada didalam kawasan sudah keluar dan mengungsi. Akan tetapi, pada tahun 1998 banyak masyarakat kembali lagi kedalam kawasan karena mereka merasa tempat mereka tinggal dan mencari nafkah hanya ditempat yang sejak dulu mereka tempati. Masyarakat yang tinggal disana seluruhnya berladang dan menanam tanaman keras, seperti padi, kopi, cengkeh, coklat, kopi dll. Sama seperti didaerah lainnya, seluruh tanaman cengkeh masyarakat pada tahun 1982 mati dibunuh oleh Tommy Suharto. Pada saat itu Tommy ingin memonopoly tanaman cengkeh di Indonesia. Pada saat itu tanaman cengkeh milik masyarakat tumbuh subur dan mulai berbuah.
Sampai dengan saat ini kenyamanan mereka untuk tinggal dan berladang tidaklah seperti dulu lagi. Rasa takut, resah dan was-was akan dilakukannya pengusiran warga oleh aparat masih menyelimuti diseluruh masyarakat yang tinggal disana.
Karena pentingnya bersatu serta bisa menyatukan suara untuk bernegosiasi dengan Pemerintah Lampung agar bisa menjaga keharmonisan hidup mereka dengan alam, memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari, maka mereka sadar pentingnya sebuah kelompok dan berorganisasi. Untuk itulah mereka yang tinggal didalam kawasan yang berbeda-beda suku bangsa ini seperti Jawa, Sunda, Lampung dan Semende (Sumatera Selatan) membentuk sebuah organisasi rakyat yaitu SHK Lestari.
Ekowisata Berbasis Komunitas
Kurangnya perhatian dan pengawasan dari pemerintah saat ini kerusakan Tahura Wan Abdul Rachman sudah mencapai 80% dari luasan ± 22.000 Ha. Dalam upaya turut menjaga kawasan Tahura, SHK Lestari mencoba merancang konsep ekowisata yang berbasiskan komunitas yang tinggal didalam kawasan. Pengembangan ekowisata di Tahura WAR bisa melibatkan masyarakat yang tinggal didalam kawasan, begitu juga aplikasinya dilapangan. Sebagai langkah awal, SHK Lestari sudah melakukan pemetaan yang secara partisipatif melibatkan seluruh masyarakat yang tinggal di Muara Tiga dan luas kawasan kelola kelompok SHK Lestari seluas 625,75 Ha.
Konsep ekowisata dilakukan dalam upaya untuk mendekatkan kelompok masyarakat pada pemerintah dan mengkolaborasikan program pengelolaan kawasan Tahura. Berdasarkan rencana UPTD Tahura WAR, fungsi Tahura WAR adalah sebagai pusat penelitian, pendidikan dan ekowisata. Diharapkan dengan adanya kolaborasi dan pengakuan dalam hal pengelolaan kawasan ini, masyarakat yang tinggal didalam kawasan bisa mendapatkan ketenangan dalam mengelola hutan agar tetap lestari dan masyarakat juga bisa meningkatkan nilai ekonomi pendapatan dengan pengelolaan hasil hutan bukan kayu sehingga keadilan dan kesejahteraan bisa tercapai.
Perjalanan Menuju Tahura
Setibanya di Bandara Radin Inten II, Branti kami langsung menuju Sekretariat Kawan Tani dan SHK Lestari di Jalan Teuku Umar Gg. Parahiayangan No.13. Didalam taksi saya baru menyadari klo lokasi bandara di Bandar Lampung sangat dekat dengan jalan raya/jalan lintas sumatera. Padahal saya sudah beberapa kali melewati jalan ini ketika akan pulang kampung tapi tidak tahu kalo bandara itu ada disana :)
Karena masih menunggu teman-teman SHK Lestari yang masih ada pertemuan di Walhi Lampung dan akan selesai sore hari, maka kami memutuskan untuk menginap dulu di Bandar Lampung dan esok paginya baru menuju lokasi tahura.
Keesokan harinya kami berangkat menuju lokasi tahura dengan mencharter angkot. Saat tiba di secretariat SHK Lestari, Mas Agus Guntoro yang sebagai pengurus SHK Lestari menunjukkan kepada saya sebuah maket (peta 3 dimensi) wilayah SHK Lestari. Dia juga menunjukkan rencana lokasi perjalanan pada esok harinya. Dengan adanya maket ini, informasi dan kondisi lapangan bisa tergambarkan secara jelas. Begitupun batas-batas wilayah, lading ataupun kontur kawasan.
Sejak dari subuh hujan sudah membasahi Desa Hurun dan kawasan Tahura WAR. Rencana untuk mengambil gambar dipagi hari di sekitar perkampungan tidak jadi saya lakukan. Kira-kira pukul enam pagi hujan sudah mulai reda. Saya buru-buru mengeluarkan kamera video yang saya bawa. Baru mau keluar dari Sekretariat SHK Lestari hujan sudah mulai turun lagi.
Tidak jauh dari secretariat SHK Lestari saya melihat Pak Masdi berjalan dengan buru-buru karena kehujanan. Sambil membawa sepiring singkong goreng Pak Masdi menyapaku, “masih hujan mas, masuk aja dulu. Kita makan singkong goreng dengan ditemani teh manis panas”. Karena hujan sepertinya belum reda, akhir saya masuk lagi kerumah.
Dengan suasana yang masih kedinginan kami berdiskusi mengenai kehidupan masyarakat di talang dan kondisi Tahura WAR saat ini. Setelah dua hari disini banyak informasi yang saya dapatkan dari pengurus anggota SHK Lestari. “Hari ini kalian akan ditemani oleh beberapa teman SHK untuk menuju talang-talang didalam tahura” ucap Pak Jahari. Pak Jahari adalah ketua SHK Lestari untuk periode 2007/2008.
Karena hujan sudah reda, sekitar pukul sembilan pagi kami bersiap berangkat menuju talang didalam kawasan. Perjalan menuju lokasi yang kami tuju ternyata cukup melelahkan. Dari perkampungan perjalan selalu menanjak dan cukup jauh menanjaknya. “Huhh butuh nafas panjang nih buat nanjak” gumamku.
Capeknya perjalanan sudah mulai tak terasa disaat saya melihat pemandangan teluk lampung dan panorama di perbukitan. Sepanjang perjalan saya juga menemui beberapa orang kampung yang mulai beraktivitas diladangnya. Ada yang memanen coklat, mengangkut hasil panen kopi. Terlihat sekali bagaimana harmonisnya mereka dengan alamnya. Bagaimana alam ini yang selalu tak henti-hentinya memberikan kebahagian dan berkah bagi umat manusia.
Dengan kondisi bajuku yang sudah basah oleh keringat selama perjalanan, akhirnya kami tiba di Damar Kaca. Damar Kaca adalah talang pertama yang akan kita temui disaat mengikuti jalan setapak menuju talang-talang berikutnya. “Masih nanjak pak, klo mau ke talang berikutnya??”. “Sudah ngga ada tanjakan yang curam kayak tadi, tanjakannya sudah sedikit lagi kok” jawab Mas Agus. Di Damar Kaca kami beristirahat sejenak di homestay yang dibuat oleh anggota SHK.
Sambil menunggu teman-teman beristirahat, saya dan tiga rekan SHK melihat dua buah lokasi air terjun yang terdapat di Damar Kaca. Karena jalan setapaknya sudah lama tidak dilewati manusia, maka tidak heran jika jalannya sekarang sudah mulai semak belukar. Pertama saya sempat jengkel karena harus naik turun dijalan setapak yang semak belukar.
Kondisi air terjun di Damar Kaca tidak terlalu besar air yang mengalir. Dan karena tadi pagi baru saja hujan, air-air yang mengalir masih keruh.
Sehabis makan siang di homestay, kami melanjutkan perjalanan ke Muara Tiga yaitu lokasi talang tersenyum, talang tengah dan talang pelita. Yang membuat hati lega adalah perjalanan menuju talang ini selalu menurun dan tidak terlalu curam. Karena lokasinya berada ditengah lembah, maka kita bisa melihat gubuk dan kebun masyarakat yang ada didalam kawasan tahura dari atas.
Sepanjang perjalanan yang kami lalui, kondisi lahan yang berhutan sudah jarang sekali terlihat. Apalagi pohon-pohon yang berdiameter besar. Sepanjang jalan yang dilewati didominasi tanaman coklat dan kopi. Saya tidak tahu apakah dulunya berhutan lebat.
Tak lama berjalan menuruni lembah kami sudah sampai di talang tersenyum. Talang ini cukup ramai karena ada sekitar 20 an gubuk pemukiman yang berdekatan antara yang satu dengan yang lainnya. Hampir semua gubuk yang dibangun berbentuk panggung. Model gubuk ini adalah khas Sumatera Bagian Selatan. Karena yang pertama kali memasuki wilayah ini adalah orang dari Sumbagsel (Semende), maka para pendatang baru mengikuti model bangunan yang sudah ada.
Digubuk ini mereka hanya tempat beristirahat dan tempat penyimpanan sementara hasil-hasil pertanian. Keluarga besar mereka ada yang tinggal di kota. Dan ada juga yang membawa anak istri ke talang. Kemungkinan hal ini dikarenakan factor ekonomi mereka.
Di Muara Tiga kami menginap dua malam disana. Tidur disebuah gubuk milik Pak Kasmudin di talang pelita. Heningnya suasana kebun yang berada ditengah hutan membuat kita bisa beristirahat dan menenangkan pikiran serta menjauhkan diri dari kepenatan kota. Sarapan dan makan malam dengan ikan asin goreng dan sambal terasi yang pedasnya huah…bikin betah. Tampat makan yang paling saya senangi dan bisa menambah selera makan saya, yaitu makan di tengah hutan atau di kebun. Ehhmmm.. lauk apapun deh, pasti nikmat.
Selama dua hari di Muara Tiga, saya sempat mengunjungi air terjun Talang Pelita yang ketinggiannya hampir 20 an meter dan cukup besar airnya. Saya bisa melihat betapa semangatnya anggota kelompok SHK dalam melakukan kerjasama dan koordinasi antar sesama serta mengkoordinir anggota. Hal ini terlihat ketika malam-malam mereka harus rapat kelompok yang lokasi antar talang cukup jauh dan gelap, tapi mereka tetap hadir agar bisa mendengar informasi dan perkembangan kegiatan-kegiatan SHK. Pada hari minggu anggota SHK bergotong royong membersihkan serta melebarkan jalan-jalan setapak dari dan menuju talang-talang mereka agar mudah dilalui untuk membawa hasil-hasil pertanian atau nanti jika konsep ekowisata yang mereka bangun sudah banyak pengunjung yang datang, pengunjung tidak kecewa datang ke talang-talang mereka dan bisa menikmati suasana kebun yang asri.
Ketika saya melihat semangat itu, saya merasa terharu dan berharap apa yang mereka perjuangkan bisa tercapai. Pengakuan dan diberinya hak untuk mengelola kawasan oleh masyarakat didalam kawasan dan disekitar kawasan tahura dalam hal ini SHK Lestari bisa terwujud.
Seperti yang disampaikan Pak Gondo yaitu salah satu tokoh masyarakat di Talang Tersenyum ketika kami berdialog dengan beliau. Dengan nada pasti dan jelas beliau berucap “Saya harap untuk penyelenggara kedepan itu (pemerintah) bisa bermasyarakat. Kasihan kepada masyarakatlah… mereka sudah terombang-ambing”. *(EN)
Labels: On Site
Posted by Gekko Studio at Sunday, June 17, 2007 0 comments