Friday, August 18, 2006

DARI PORONG DENGAN DERITA - Episode 1. Desa Hantu Kedung Bendo

Matari pagi baru saja merekah, ketika aku duduk di sadel motor Oni seorang relawan WALHI yang sudah hampir 3 bulan ini nyanggong di lokasi pengungsi Lapindo. “ini harmal ke 78, sejak kebocoran tersebut terjadi” sahutnya bercerita memecah kesunyian ketika kami berdua terguncang-guncang di motor astrea lawas miliknya. Saat itu kami menuju desa Kedung Bendo yang merupakan daerah terdekat dengan semburan. Rig masih berdiri angkuh ketika aku menyiapkan posisi tripod. Ternyata asap dan lampu yang sedari malam terlihat dengan jelas berasal dari rig tersebut.

Di tanggul yang memisahkan lokasi semburan dengan jalan tol, sekarang aku berdiri, mengarahkan pandang ke selatan aku dapat melihat mobil yang merayap di tol Surabaya-Gresik di bawah. Terlintas di benakku, bagaimana kalau tanggul setinggi 6-7 m ini jebol, tentunya mobil-mobil di bawah itu langsung terendam dan kota-kota seperti Sidoarjo bahkan Surabaya dan sekitarnya langsung lumpuh. “Mas, lihat itu lokasi pabriknya Marsinah” kata Oni, menunjukkan satu deretan pabrik yang hanya terlihat atapnya saja. Menurut informasi, hingga hari ini lebih dari 19 pabrik berhenti operasi karena tenggelam, entah nasib buruhnya yang tiba-tiba saja kehilangan pekerjaan.

Pagi itu kesibukan truk-truk 10 ton memulai aktivitas rutin, mengangkut lumpur pekat di satu titik di timur terlihat excavator bekerja menyendoki lumpur. Tidak terlalu jelas mau dibawa kemana lumpur-lumpur itu kemudian, opsi membuang ke kali Porong ditentang oleh kalangan akademisi dan LSM, diinjeksi balik ke dalam tanahpun tak mungkin karena tekanan semburan yang lebih kuat. Wacana baru dari seorang pintar dari Belanda untuk memperkuat tanggul dengan polimer pun bukan tindakan mencari solusi, hanya tinggal menunggu hari. Entahlah..

Kembali kami menyusuri jalan, berpapasan dengan truk-truk besar. Di sebelah kananku terlihat lokasi masjid yang tenggelam separo. Di depannya bahkan sebuah rumah hilang sebagian tembok dan atapnya. Itulah desa Kedung Bendo, desa yang sekarang sudah sunyi karena penduduknya sudah diungsikan. Di tembok-tembok rumah berlumpur dengan mudah aku temukan tulisan-tulisan penduduk desa. “ Lapindo Ju***uk”, “Bakrie harus dipenjara”, “Lapindo Brantas harus diberantas” dan tulisan-tulisan lain senada yang meminta pertanggungjawaban LAPINDO.

Bau lumpur bercampur sulfur masih meninggalkan sisa. Masih terlihat olehku, blus bodol dan handuk yang masih menggantung di jemuran, karena si empunya sudah entah kemana. Demikian juga tanaman penduduk yang daunnya sudah lenyap demikian sisa tanaman pisang yang daunnya menguning, seperti mengamini kekalahannya dengan lumpur. Tak ada kehidupan, yang tertinggal hanya bisu, kesunyian yang mencekam. Hanya satu plang berwarna kuning tersisa: “Hati-Hati Lumpur Panas, Anak-Anak dilarang Bermain. ttd PT LAPINDO BRANTAS inc”.

0 comments: