Wednesday, November 28, 2007

Tears of Mother Mooi: Papuan Series Episode 4

Tears of Mother Mooi: Papuan Series Episode 4
Video sent by Films4

The Mooi people talk about how the arrival of palm oil has changed their way of life.

© PT Triton (10:54 minutes)

Episode 4 in a 4 part compilation "Save the People and Forests of Papua"

The set of films made entirely by Papuan NGOs in collaboration with villagers, tell how their communities have been adversely affected by destructive logging and oil palm plantations.

The four short films, launched under the collective banner: “Save the People and Forests of Papua” give an insight into a country which is currently off-limits to journalists.

For more information, please contact:

• Timer Manurung, Telapak, Tel: +62 811 125 006 / Fax: +62 (0) 21 8310570
e-mail: timer.manurung@gmail.com
• Jago Wadley, EIA, Tel: +62 (0) 813 866 21940 / Fax: +62 (0) 21 8310570
e-mail: jagowadley@eia-international.org
• Septer Manufandu, at Foker LSM Papua for information about the “Save the People and Forests of Papua”: septer_manufandu@yahoo.com
Tel: +62 (0)967573511 / Fax: +62 (0) 0967 573 512 / Mob: +62 (0) 812 487 6321

Find out more about the Films4Conservation Initiative at:
http://www.films4.org

Read More...

Defenders of the Tribal Boundaries; Papuan Series Episode 3

Defenders of the Tribal Boundaries; Papuan Series Episode 3
Video sent by Films4

© Mnukwar Production (11:50 minutes)

Episode 3 in a 4 part compilation "Save the People and Forests of Papua"

The set of films made entirely by Papuan NGOs in collaboration with villagers, tell how their communities have been adversely affected by destructive logging and oil palm plantations.

The four short films, launched under the collective banner: “Save the People and Forests of Papua” give an insight into a country which is currently off-limits to journalists.

For more information, please contact:

• Timer Manurung, Telapak, Tel: +62 811 125 006 / Fax: +62 (0) 21 8310570
e-mail: timer@telapak.org
• Jago Wadley, EIA, Tel: +62 (0) 813 866 21940 / Fax: +62 (0) 21 8310570
e-mail: jagowadley@eia-international.org
• Septer Manufandu, at Foker LSM Papua for information about the “Save the People and Forests of Papua”: septer_manufandu@yahoo.com
Tel: +62 (0)967573511 / Fax: +62 (0) 0967 573 512 / Mob: +62 (0) 812 487 6321

Find out more about the Films4Conservation Initiative at:
http://www.films4.org

Read More...

GAHARU BUSINESS: Blessing or Disaster; Papuan Series EP 2

GAHARU BUSINESS: Blessing or Disaster; Papuan Series Episode 2
Video sent by Films4

The impacts of trade in Gaharu wood in the villages of Eei and Assue.

© SKP-KAM Merauke (15:35 minutes)

Episode 2 in a 4 part compilation "Save the People and Forests of Papua"

The set of films made entirely by Papuan NGOs in collaboration with villagers, tell how their communities have been adversely affected by destructive logging and oil palm plantations.

The four short films, launched under the collective banner: “Save the People and Forests of Papua” give an insight into a country which is currently off-limits to journalists.

For more information, please contact:

• Timer Manurung, Telapak, Tel: +62 811 125 006 / Fax: +62 (0) 21 8310570
e-mail: timer@telapak.org
• Jago Wadley, EIA, Tel: +62 (0) 813 866 21940 / Fax: +62 (0) 21 8310570
e-mail: jagowadley@eia-international.org
• Septer Manufandu, at Foker LSM Papua for information about the “Save the People and Forests of Papua”: septer_manufandu@yahoo.com
Tel: +62 (0)967573511 / Fax: +62 (0) 0967 573 512 / Mob: +62 (0) 812 487 6321


Find out more about the Films4Conservation Initiative at:
http://www.films4.org

Read More...

DESTINY . . . My Land Papuan Series Episodes 1

DESTINY ... My Land Papuan Seires Episode 1
Video sent by Films4

© Mnukwar Production

For generations the indigenous communities of Bintuni Bay have benefitted from their natural resources in a sustainable way. But when industrial forestry arrived, the benefits for the people of Bintuni Bay became less clear.

Episode 1 in a 4 part compilation "Save the People and Forests of Papua"

The set of films made entirely by Papuan NGOs in collaboration with villagers, tell how their communities have been adversely affected by destructive logging and oil palm plantations.

The four short films, launched under the collective banner: “Save the People and Forests of Papua” give an insight into a country which is currently off-limits to journalists.

For more information, please contact:

• Timer Manurung, Telapak, Tel: +62 811 125 006 / Fax: +62 (0) 21 8310570
e-mail: timer@telapak.org
• Jago Wadley, EIA, Tel: +62 (0) 813 866 21940 / Fax: +62 (0) 21 8310570
e-mail: jagowadley@eia-international.org
• Septer Manufandu, at Foker LSM Papua for information about the “Save the People and Forests of Papua”: septer_manufandu@yahoo.com
Tel: +62 (0)967573511 / Fax: +62 (0) 0967 573 512 / Mob: +62 (0) 812 487 6321

Find out more about the Films4Conservation Initiative at:
http://www.films4.org

Read More...

Dampak Industri Kayu dan Sawit Terungkap Lewat 4 Film LSM Papua

JAKARTA, 28 NOVEMBER 2007: Launching kompilasi film unik ini menggambarkan dampak hadirnya perusahaan kayu dan sawit di Papua, sekaligus juga menunjukkan peningkatan upaya dan peran serta masyarakat sipil dalam pengambilan keputusan terkait pemanfaatan hutan mereka.

Kompilasi yang terdiri atas 4 (empat) film ini di-launching sehubungan agenda besar konsolidasi masyarakat sipil Papua yang bertema “Selamatkan Manusia dan Hutan Papua”. Seluruh proses pembuatan film ini dilakukan oleh LSM-LSM Papua dan bekerjasama dengan masyarakat lokal yang merasakan dampak hadirnya industri kayu dan sawit.

Papua, pemilik hutan terluas di Asia Pasifik, merupakan salah satu tempat paling beragam masyarakat adatnya di dunia dan yang masih menggantungkan hidupnya pada hutan. Akan tetapi, hubungan antara masyarakat dan hutan ini menghadapi ancaman akibat eksploitasi hutan berlebihan dan rencana jutaan hektar untuk perkebunan sawit.

Film- film yang dibuat di Sorong, Arfak, Bintuni, dan Mappi menunjukkan bagaimana kehadiran perusahaan kayu, perkebunan sawit, dan bisnis gaharu mengakibatkan konflik horizontal, kerusakan lingkungan, masyarakat kehilangan hak ulayat dan sumber kehidupan. Di beberapa tempat bahkan terjadi itimidasi dan penipuan terhadap masyarakat.

Ronny Dimara, Ketua Perkumpulan Triton Sorong mengatakan, “Masyarakat adat Malamoi mendesak pemerintah menghentikan aktivitas penebangan dan perkebunan sawit yang mengeksploitasi dan merusak lahan adat mereka. Film yang kami buat dengan dukungan mitramitra kami didekasikan sebagai saluran suara mereka.”

“Kasus di Arfak dan Bintuni memperlihatkan model industri kehutanan dan perkebunan sawit milik negara yang berdampak sosial, keuangan dan persoalan lingkungan besar di Papua”, tambah Sena Aji Bagus dari Mnukwar Productions Manokwari.

Ke depan, jejaring kelompok masyarakat sipil yang terlibat dalam pembuatan film ini akan menggunakan film ini untuk mendorong adanya mekanisme konsultasi publik dalam proses pengambilan kebijakan publik di sektor kehutanan Papua. Selain itu, kerja sama dan film ini pun akan digunakan untuk mendorong terbukanya akses informasi di sektor kehutanan di Papua secara khusus, dan Indonesia secara umum.

Keempat film pendek ini yang dibuat selama tiga bulan ini tidak hanya memaparkan beragam persoalan yang terjadi di Papua, tapi juga menunjukkan bagaimana kelompok-kelompok masyarakat melibatkan diri dalam proses penyelesaian persoalan tersebut.

Pastor Decky Ogi, MSC, Direktur SKP-KAM mengatakan, “Untuk menyelesaikan problem seperti deforestasi dan HIV/AIDS yang terkait erat dengan bisnis gaharu di Mappi, kami telah melakukan advokasi yang mendorong adanya kebijakan yang demokratis dan sekaligus mengajak pemerintah dan para pihak duduk bersama.”

Kompilasi film ini dirilis sehubungan dengan agenda konferensi dunia tentang perubahan iklim di Bali bulan Desember 2007 yang mana salah satu agenda pentingnya adalah avoiding deforestation. Relevansi film ini dengan agenda tersebut sangat jelas: masyarakat lokal di Papua telah menderita akibat deforestasi (karena eksploitasi), padahal seharusnya mereka memainkan peran penting untuk menghindari deforestasi (dan penderitaan) lebih lanjut.

KONTAK
Untuk informasi lebih lanjut hubungi :


CATATAN EDITOR
• Tersedia lembar fakta masing-masing film, baik dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris.
• Garis besar dari kompilasi film-film tersebut, adalah :
  1. Nasib Tanahku. Bertutur tentang pengusahaan hutan di Teluk Bintuni, Propinsi Papua Barat yang justru menghadirkan intimidasi, kerusakan hutan, sampai pada hilangnya sumber penghasilan masyarakat. Dibuat oleh Mnukwar Productions-Manokwari.
  2. Gaharu : Bencana atau Anugerah? Berkisah tentang problem multidimensional di kalangan masyarakat adat Auwyu dan Wiyagar di Kabupaten Mappi, akibat bisnis gaharu. Dibuat oleh SKP-KAM Merauke.
  3. Berdiri Menjaga Batas. Terganggunya pola dan budaya hidup masyarakat adat di Dataran Prafi dan Pegunungan Arfak karena hadirnya perusahaan sawit milik negara. Dibuat oleh Mnukwar Productions-Manokwari.
  4. Airmata Ibu Suku Malamooi. Terancamnya lahan dan sumber penghidupan masyarakat adat Malamoi karena tingkah polah perusahaan kayu dan perkebunan sawit. Dibuat oleh Perkumpulan Triton-Sorong.
• Untuk informasi lebih lanjut tentang “Selamatkan Manusia dan Hutan Papua”, hubungi :
Septer Manufandu, di
Foker LSM Papua
Jl. Sentani Raya No.89,
Waena, Jayapura-Papua.
Telp : +62 (0) 967-573511
Fax : +62 (0) 967-573512
HP 08124876321
e-mail : septer_manufandu@yahoo.com

Tersedia klip video dan gambar yang relevan, juga perbanyakan copy film dan lembar fakta dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Read More...