Kembali di Astreanya Oni, kami merayap menuju pasar baru Porong. Sebuah pasar yang sudah di huni oleh pengungsi dari desa-desa yang terendam oleh lumpur. Jatirejo, Kedungbendo, Talangangin sebagian dari yang kuingat. Lokasi ini adalah lokasi pasar baru yang belum sempat dibuka oleh pemda, sehingga pengungsi yang 6.000 an jiwa itu dapat tidur lebih baik di lokasi-lokasi toko dibandingkan di tenda-tenda biru pengungsi yang umum jika ada bencana di republik ini. Untuk meredam keresahan warga, Lapindo pun menyiapkan komedi putar untuk anak-anak pengungsi, mushola, kamar mandi demikian juga jatah nasi bungkus setiap harinya. “yang itu untuk ML buat pasutri, mas” kata Oni menunjuk bilik-bilik kecil yang berkorden.
Tak jauh dari tempat yang semalam digunakan oleh relawan dan organizer untuk berkonsolidasi dengan para pemuda, kami berhenti. Aku melihat segerombolan anak kecil yang sedang bercatur. Anak-anak balita berlarian diseputar ibunya yang sedang duduk-duduk di beranda. Musik dangdut berkumandang, dibelakangi oleh sekelompok anak muda cengengesan yang duduk di bawah spanduk ala cover dewa bertuliskan “laskar cinta porong”.
Suara adzan duhur menyapa ketika kami berjalan ke tempatnya bu Kuswarti (35 tahun) di blok P no 16. “suami saya sedang kerja mas, nyambung hidup. Kalau saya ini sudah ndak kerja lagi, pabrik kerupuk tempat saya kerja kelelep lumpur”, katanya. Sambil melanjutkan bahwa 2 anaknya yang kelas 2 smp dan 2 sd hampir 3 bulan ini tidak melanjutkan sekolah lagi karena sekolahnya juga tutup. “ya, hanya sebagian anak pengungsi saja yang sekolah, yang lainnya tidak” katanya melanjutkan pertanyaan saya bahwa ada anak-anak berbaju putih merah bersepeda di blok depan. Seperti air yang bertemu sungai, iapun menumpahkan unek-uneknya padaku dan kawanku Torry. “meskipun tampaknya hidup di sini enak, anak-anak pada ga betah lho mas, anak saya yang kecil dari pagi sampai magrib main terus, yang besar ga mau makan, ga enak katanya, nanya terus sama saya, kapan bu kita pulang kerumah, kapan bu ….”. Sambil membayangkan gigitan nyamuk semalam yang menyergapku, iapun berlanjut bertutur “saya hanya ingin pulang mas kembali lagi ke rumah saya bareng dengan tetangga-tetangga saya yang dulu, pokoknya Lapindo harus ngebangun lagi langgar di depan rumah saya dan membangunkan lagi rumah saya dan rumah tetangga-tetangga saya di Jatirejo”
Perpecahan warga di pengungsian saat ini sangat mengkuatirkan. Sebagian sudah mau menurut dengan keinginan Lapindo, demikian Torry menjelaskan padaku. Seperti tertera dalam draf pernyataan yang dibuat manajemen Lapindo, warga diiming-imingi untuk mau menerima santunan rumah kontrak 5 juta dan menyetujui uang jadup 300 ribu perbulan selama 6 bulan. Tawaran itupun sudah diambil oleh sebagian kecil dari warga yang pasrah.
0 comments:
Post a Comment