Tuesday, November 11, 2008

Sumbawa Honey - Sustainable Harvesting and Hygienic Filtering


Sumbawa Honey

The majority of Sumbawa forest dwelling peoples are dependent on forest honey for their livelihoods. From tall trees on slopes or in the forest valley, these people climb and risk their lives to harvest honey.

Communities hand-in-hand with the Sumbawa Forest Honey Network (JMHS - Jaringan Madu Hutan Sumbawa), with assistance from the Indonesian Forest Honey Network (JMHI - Jaringan Madu Hutan Indonesia), have changed their methods of honey processing from a squeezing method to a filtering method to maintain the quality of the honey. On the harvesting side, they are practicing sustainable harvesting methods.

Since then, buyer from all level of area and company recognize JMHS as a trusted source of high quality forest honey. At the regency level, the Regent proudly supports this effort to make forest honey as the icon for Sumbawa and Honey Day initiatives.

See more on


Copyright © NTFP and Gekko Studio 2008

Read More...

Saturday, November 8, 2008

Wakumoro - Oase on Muna

Wakumoro - Oase on Muna
Video sent by gekkostudio

Such a small spring on karst area on a beautiful small island. Is it important to the livelihood ?

Read More...

Wednesday, November 5, 2008

EAS Congress 2009 Photo Contest

PEMSEA and HP Philippines present the EAS Congress Regional Photo Contest with the theme, "The Coast, The Ocean, My Community."

Contest entries should demonstrate local actions/implementation and good practices in sustainable coastal and ocean protection, development and management. Entries can show local and national initiatives that address natural and man-made hazard prevention and management; habitat protection, restoration and management; water use and supply management; food security and livelihood management and pollution reduction and waste management.

The contest is open to nationals of the East Asian region, and is divided into three (3) categories:

  • Youth category - for amateur practitioners who are college students or young professionals, between 18 and 25 years of age.
  • Hobbyist/Amateur category - for amateur practitioners, beyond 25 years of age, who pursue photography outside of his/her regular occupation, engaged primarily for personal fulfillment.
  • Professional category - professional practitioners who derive income from the sale of photographs and/or provision of photographic services.
Click here to download the complete contest mechanics.

Source=
http://d130148.u37.wsiph2.com/forms/photocontest/index.htm

Read More...

Tuesday, October 14, 2008

URBAN POOR MEDIA - Tanah Air Bukan Untuk Rakyat Miskin


Rabu, 8 Oktober 2008, pemerintah DKI Jakarta kembali melakukan aksi brutal dengan membakari dan menghancurkan tenda tenda hunian sederhana yang digunakan para warga. Sedikitnya ada 500 KK yang masih bertahan di taman BMW paska gusuran pertama (24/8/2008). Mereka tidak mendapat perlindungan apa apa dari pemerintah DKI dan harus bertahan karena bingung harus pindah kemana. Apa yang pemerintah DKI lakukan ini jelas sebuah pelanggaran HAM keras dan merupakan sebuah tindakan kejahatan atas nilai kemanusian yang juga menjadi dasar negara ini berdiri. Pemerintah semestinya WAJIB MENJAMIN dan MELINDUNGI HAK HIDUP seluruh warga negaranya tanpa terkecuali. Untuk itu, pemerintah DKI Jakarta harus bertanggung jawab atas seluruh pelanggaran HAM dan kejahatan yang telah terjadi di Taman BMW, serta segera memenuhi seluruh kebutuhan para korban baik tempat tinggal (papan), pangan, kesehatan, pendidikan, atau singkat nya seluruh kebutuhan dasar hidup para korban. Sekali lagi, PEMERINTAH DKI JAKARTA HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS TINDAKAN PENGGUSURAN YANG TERJADI DI TAMAN BMW, lebih luas.. nya MENJAMIN TERPENUHINYA HAK HAK HIDUP (DASAR) SEMUA WARGA KOTA JAKARTA. MERDEKA UNTUK SEMUA !!

====================================
Urban Poor Media Billy Moon Blok H-I/7
Jakarta 13450,
Phone: 62-21-8642915,86902407
Fax: 62.21.86902408;
Site: http://www.urbanpoor.or.id/

Read More...

Sunday, September 14, 2008

Vulnerability Exposed: Social Dimensions of Climate Change - A Film Contest

Global climate change is happening now. Developing countries and particularly the world's poorest people are affected first and worst by changes of climate and extreme weather events such as floods, droughts, heat waves, and rising sea levels. The Social Development Department of the World Bank is taking the lead to build a greater understanding of how climate change affects people's lives and communities around the world, especially in developing countries, and of what can be done to reduce their vulnerability and build climate resilience.

Transcript of the Call for Submission Video: English; Chinese; Español; Français

Vulnerability Exposed: Social Dimensions of Climate Change is a competition of 2-5 minute documentaries that highlight the social aspects of climate change as experienced and/or observed by the film-makers. This short-documentary contest is a follow-up to our landmark March 2008 International Workshop on the Social Dimensions of Climate Change (read the story about the Workshop). We hope to receive submissions which creatively showcase the implications of climate change for conflict, migration, urban space, rural institutions, drylands, social policy, indigenous peoples, gender, governance, forests and/or human rights.

There are two award categories:
1) Social Dimensions of Climate Change Award (general category) and
2) Young Voices of Climate Change Award (youth category).
The general category is open to everyone; the youth category is open to entries submitted by filmmakers who are under 24 years old. Award winners will be chosen through a combination of public voting and a judging panel. The film with the most public votes in each theme category will receive honorable mention.

The Award Winners will receive an all expenses paid trip to Washington, DC for a screening of their film and will have the opportunity to attend a series of networking and learning events organized by the Social Development Department of the World Bank in December, 2008. Get more details about the contest! = > Click here to read the contest details.

Read the Press Release: English; العربية,; 中文; Español; Français

THE SUBMISSION PERIOD ENDS 11:59PM (US ET) ON FRIDAY, OCTOBER 24, 2008

SUBMIT YOUR FILM TODAY! = > CLICK HERE TO SUBMIT YOUR FILM

Read More...

Friday, September 12, 2008

Campaign on Climate Change

Climate change is not just destroying our planet - it is threatening the very survival of communities, cultures and languages. Indigenous and minority communities across the world have an unique and close relationship with nature, and because their livelihoods often depend on the environment they are amongst the worst affected by climate change.

UN member states are locked in negotiations to get a climate change deal through by 2009, but indigenous and minority communities have been left out of these crucial negotiations.

Their voices must be heard.

Please join our campaign - a show of hands for communities combating climate change

Click here to take action now

Thank you for your support.

Farah Mihlar
MRG Campaigns team
mail: showofhands@mrgmail.org

Minority Rights Group International
54 Commercial Street
London E1 6LT
Tel: +44 (0)20 7422 4205
Mob: +44 (0)7870 596 863
Email: minority.rights@mrgmail.org
Website: http://www.minorityrights.org

**
Minority Rights Group International (MRG) is a non-governmental organization working to secure the rights of ethnic, religious and linguistic minorities and indigenous peoples worldwide, and to promote cooperation and understanding between communities.

MRG is a registered charity no. 282305, and has consultative status with the United Nations Economic and Social Council and observer status with the African Commission for Human and Peoples' Rights.

Read More...

Wednesday, September 10, 2008

Perjalanan Ke Pulau Timor

“Kalau mau hidup sejahtera selamat dan Pulau Timor, NTT (Nusa Tenggara Timur). Jagalah Molo”
Itulah sebuah kata yang diucapkan oleh seorang mama di Pulau Timor yaitu Mama Aleta saat saya berkesempatan untuk mencoba mendokumentasikan perjuangan beliau dan Masyarakat Adat Molo dalam mempertahankan tanah adatnya dari ancaman pertambangan marmer di Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Perjalanan saya ke Molo kurang lebih tiga minggu, 21 Agustus 2008 - 6 September 2008.
Perjalanan ke Molo sebenarnya sangat mendadak. Rencana perjalanan saya sebenarnya adalah ke Masyarakat Talang Mamak di Riau. Tapi berhubung ada beberapa masalah teknis, maka rencana berangkat ke Riau diundur. Setelah mengetahui rencana itu diundur, akhirnya saya diminta ke Molo. Persiapan perjalanan kesana hanya dua hari. Tanya sana sini situasi dan kondisinya, beli obat-obatan dan vitamin, siapkan peralatan trus berangkat sudah.

Sebenarnya sewaktu kuliah saya sudah pernah ke NTT, tapi saat itu ke Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Setelah lihat peta dan tahu dimana lokasi tempat saya akan tinggal, baru saya ketahui ternyata Labuan Bajo dan Pulau Komodo sangat jauh dan beda pulau dengan Molo.

Tiga jam perjalanan dan transit selama dua puluh menit di Surabaya saya sudah bisa melihat dari jendela pesawat pulau-pulau yang didominasi warna-wana cokelat. Inilah pemandangan yang akan kita lihat jika kita datang ke Pulau Timor, terutama pada musim-musim kering. Hampir semua rumput-rumput kering dan pepohonan kehilangan daunnya alias berguguran. Mungkin jika orang yang sudah terbiasa matanya melihat kehijauan pepohonan dan dedaunan, menikmati kesejukan dibawah pohon yang rindang serta terbiasa hidup enak, dalam hatinya akan akan bertanya “Bisakah kita hidup di pulau ini?”. Sama halnya saya, ketika akan mendarat di Bandara El Tari, Kupang. “Serasa tidak yakin disini ada kehidupan” celoteh saya kepada Melly Nurmawati, seorang teman satu kerja yang berangkat bersama saya yang juga merangkap sebagai leader dilapangan.

Tapi orang timor bisa hidup tuh disana… dan beranak pinak lagi hehehe….” Mungkin itu jawaban kalian setelah membaca celotehan saya kali ya... :-)
Sesuai pesan yang disampaikan kepada kami bahwa setelah tiba di badara akan langsung dijemput oleh seseorang maka kami pun menunggu jemputan disebuah cafe dekat pintu keluar bandara.
Tunggu saja disana ya bapak, kami baru jalan ini. Mungkin sekitar dua jam-an lagi sampai sana” suara yang keluar dari handphone saya disaat saya memastikan orang yang akan menjemput kami lewat telpon.
Yahh.. itulah jemputan kami.
Harus menunggu dulu dua jam.
Kebetulan saya membawa sebuah buku dari Bogor, maka saya habiskan dua jam untuk membaca buku. Buku yang saya bawa adalah Buku City of Joy, Negeri Bahagia karangan Dominique Lapierre.
Menceritakan sebuah Kota Calcutta di India. Kalian harus baca buku ini. Kalian akan tahu bagaimana orang India bertahan hidup dengan sumberdaya yang minim dan bertahan dengan ketermisinan yang amat sangat. Seperti salah satu komentar yang ada disampul belakang buku ini yang ditulis oleh New York Post. “Ada pahlawan di setiap senti karya ini……

Bapak posisi dimana? saya ada di parkiran motor” sebuah sms masuk ke handphone saya. Saya langsung telpon dan menunjukkan dimana posisi kami. “Selamat sore pak. Saya Nivron. Saya diminta Ma Leta untuk jemput bapak”. “Selamat sore. Saya Een dan ini Melly” saya membalas jabat tangan Pak Nivron dan memperkenalkan teman saya. “Bapak pakai apa jemput kita?” tanya saya kepada Pak Niv. “Kita bawa motor pak, satu lagi teman masih di belakang”. Saya dan Melly sempat shock dan termangu beberapa detik. “Bapak jemput kita dengan perjalanan hampir tiga jam pakai motor?” Oh my God!. Bayangan saya karena sudah tau kita bawa cukup banyak barang, jadi akan dijemput dengan sebuah mobil. Dan kita bisa tidur selama perjalanan karena dari Bogor berangkat subuh ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Tapi nyatanya?? Huuhh…

Karena tidak mungkin menolak jemputan yang sudah ada dan tidak mungkin untuk meminta mereka pulang sendiri tanpa jemputan sementara kita menginap dulu semalam di Kupang atau kita rental mobil saja menuju lokasi perkampungan. Maka sekitar pukul 18.30 waktu Kupang kami pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Sebuah tas besar yang berisikan peralatan saya harus berada dan menempel dipunggung saya. Sementara tas pakaian diselipkan antara ujung jok depan motor. Saya berangkat bersama dengan Pak Niv dengan Motor Bebek Yamaha Vega, sementara Melly berdua dengan Pak Hedrik dengan menggunakan sepeda motor Suzuki Smash. Selama perjalanan yang malam itu angin sudah mulai berhembus kencang dan dingin, saya sudah tidak kuat menahan kantuk. Saya tidak bisa menikmati lagi perjalanan yang selalu menanjak dan memutari beberapa bukit karena diantara menahan kantuk dan menahan keseimbangan tas besar yang menempel dipungggung. Mata sudah sempat terpejam beberapa kali.

Sekitar pukul 21.30 kami tiba di SoE. Ibu Kota Kabupaten TTS. Karena sudah tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan ke Molo, yaitu kearah Gunung Mutis dan sekitar 1 jaman lagi waktu perjalanan maka setelah bertemu dengan Mama Aleta kami minta diri untuk istirahat semalam di SoE dan besok pagi dilanjutkan lagi perjalanannya. “Ya sudah, kalian menginap dulu saja di SoE. Kalian pasti sudah sangat capek sekali” ungkap Ma Leta setelah melihat wajah kami yang sudah lemas. Alhamdulilah Maleta (pangilan akrab Mama Aleta) bisa mengerti.

Perjuangan Perempuan Molo
Pada hari Jum’at pagi tanggal 22 Agustus kami berangkat ke Molo, tepatnya ex camp sebuah pertambangan di Desa Nousus. Dari SoE menuju Kapan dan lanjut kearah Gunung Mutis. Daerah ini ternyata suhunya sangat berbeda jauh dengan Kupang. Sangat dingin, berangin dan selalu berkabut. Diperkirakan ketinggiannya sekitar 1200 mdpl. Selama dua hari berada disana, dari pagi hari sampai sekitar jam 3 sore saya tidak bisa ngapa-ngapain. Hanya meringkuk didalam sleeping bag dan duduk baca buku didalam sebuah ruangan yang sedang diperbaiki. Suhu diluar sangat dingin, hujan dan angin berhembus sangat kencang. Beberapa orang lokal mengatakan angin kencang ini bawaan dari Australia karena keberadaan daerah ini tidak jauh dari Australia. Mereka juga bilang kalo bulan Agustus angin sudah mulai berkurang. Bulan Januari-Maret adalah bulan yang dimana anginnya sangat kencang dan bisa merobohkan beberapa rumah disini. Saya tidak bisa bayangkan sekencang apa angin pada bulan-bulan tersebut. Saat ini saja anginnya sudah sangat kencang bagi saya pribadi.

Perjuangan masyarakat adat Molo dan para mama-mama yang menolak sebuah pertambangan marmer ditanah adatnya beberapa tahun yang lalu mendapat banyak sorotan media, NGO, pemerintah dan lembaga lainnya. Karena perjuangannya itulah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang kantor pusatnya berada di Jakarta, Tebtebba - Indigenous Peoples’ International Cantre for Policy Research and Education dari Thailand dan Asia Indigenous Peoples Pact Foundation (AIPP) dari Filipina mengadakan sebuah training untuk para perempuan adat. Peserta training ini selain dihadiri oleh masyarakat di beberapa kampung di Molo juga dihadiri oleh beberapa perempuan adat di Nusantara. Training ini mengangkat tema ‘Perempuan Adat dan Pengambilan Keputusan. Persiapan Pengumpulan Data dan Kisah Perempuan Adat tentang Penerapan CEDAW dan Dampak Industri Ekstraktif’. Dalam training ini mereka mencoba memperkuat posisi kaum perempuan dalam sebuah komunitas, pekerjaan ataupun aktivitas lainnya. CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms Against Women) adalah sebuah perjanjian internasional dimana ada beberapa negara termasuk Indonesia yang menandatanganinya. CEDAW dibuat untuk menghapuskan kekerasan dan deskriminasi terhadap perempuan. Ada beberapa pasal yang terdapat didalam perjanjian ini yang mengatur hak-hak kaum perempuan dan harus dihormati dan dihargai.

Selain mendokumentasikan kegiatan training ini. Kami juga mencoba membuat sebuah film tentang perjuangan Mama Aleta dan Komunitas Adatnya. Perjuangan mereka bisa dikatakan berhasil. Dari empat perusahaan tambang yang masuk ke wilayah mereka. Tiga perusahaan berhasil mereka usir dan mereka duduki lokasi pertambangannya. Hanya tinggal satu lagi yang sampai sekarang masih beroperasi, yaitu sebuah perusahaan yang berada di Batu Naitapan.

Mendengar penjelasan dari Mama Aleta membuat saya kagum dengan perjuangan beliau. Maleta memang T.O.P dan memang bukan perempuan biasa. Seorang mama yang bernama lengkap Aleta Ba’un yang lahir pada tanggal 16 Maret 1966 di sebuah kampung yaitu Desa Lelobatan ini menerima nobel prize yaitu salah satu dari 1000 wajah perempuan perdamaian (Women’s Nobel Prize for Peace) dan Penghargaan Saparinah Sadli pada Tahun 2007. Nama Aleta Ba’un sudah ada dimana-mana, media lokal, nasional maupun internasional. Beliau adalah anak seorang petani dari masyarakat adat Molo. Beberapa tahun yang lalu beliau menyadarkan dan menggerakkan masyarakatnya untuk menolak pertambangan yang akan menghancurkan kehidupan masyarakat adat yang ada di Molo. Ribuan orang baik kaum perempuan maupun laki-laki ikut turun ke lokasi pertambangan dan menuntut perusahaan tersebut ditutup. Berminggu-minggu dia dan masyarakatnya menginap di hutan dan terus berjuang sampai perusahaan tersebut berhenti beroperasi. Walaupun dalam kondisi hamil tidak mengedorkan niat Mama Aleta untuk terus bergerak dan memberi dukungan kepada masyarakatnya. Bukan hanya menduduki lokasi pertambangan saja. Mereka juga mendatangi Kantor Bupati TTS dan DPRD untuk mendesak pemerintah daerah mencabut izin operasi perusahaan tersebut. Usaha yang dilakukan selama bertahun-tahun memang bukan usaha yang sia-sia. Dari empat perusahaan yang ada masih tersisa satu yang belum berhenti. Tapi secara tegas mereka katakan, masih akan tetap berjuang untuk mengusir perusahaan tersebut.

Mama Aleta adalah salah satu perempuan Indonesia yang rela mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya demi keadilan, perbaikan kondisi masyarakat adatnya dan lingkungannya. Berbagai ancaman dan intimidasi terhadap dirinya dan keluarganya dalam beberapa tahun terakhir ini sering ia dapatkan. Rumah yang beberapa kali dilempari batu dan beberapa kaca pecah. Beberapa kali Mama Aleta dan suaminya mendapat ancaman akan dibunuh. Suaminya Godlif Sanam yang seorang guru di Kapan meminta Mama Aleta untuk menghentikan aktivitasnya. Tapi berkat pengertian yang diberikan oleh Mama Aleta, beliaupun mendukung perjuangan Mama Aleta dan masyarakat adatnya. Pesan Pak Godlif Sanam hanya satu, yaitu saling percaya dan ingat keluarga. Pada tahun 2006 disaat mau pulang ke SoE Mama Aleta sempat dihadang oleh preman-preman bayaran sekitar 20 orang yang memakai topeng. Saat itu Mama Aleta sempat mendapatkan beberapa kali pukulan dan tendangan oleh preman-preman tersebut. “Para preman itu juga sempat mengeluarkan golok dan menebaskannya ke kaki saya disaat saya jatuh. Tapi mungkin karena pertolongan Tuhan dan mereka buru-buru bagian tumpulnya yang mengenai kaki saya. Setelah menebas mereka lari” cerita Mama Aleta kepada kami.

Karena merasa hidupnya sangat terancam, para keluarga dan sahabat mengevakuasi Mama Aleta. Selama tiga bulan Mama Aleta hidup di beberapa tempat seperti di Kupang, SoE dan akhirnya berpindah-pindah dari kampung ke kampung dibawah naungan tokoh-tokoh adat yang ada. Saat evakuasi perjuangan Mama Aleta tidak berhenti disitu. Proses evakuasi dia manfaatkan untuk konsilidasi dan mencari dukungan orang yang lebih banyak lagi. Untuk bertemu dengan suami dan anak-anaknya Mama Alete terpaksa datang sembunyi-sembunyi dan janjian ketemu disuatu tempat.

Sampai dengan saat ini perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Molo tidak pernah luntur. Mama Aleta dan masyarakatnya akan tetap berjuang jika ada perusahaan yang sementara ini berhenti beroperasi akan masuk kembali ke wilayahnya. Perjuangan untuk menutup pertambangan yang masih beroperasi di Naitapan yaitu PT Sumber Alam Marmer juga menjadi salah satu agendanya.

Perjuangan kaum perempuan di Molo bukan hanya tumbuh jiwa Maleta saja, tetapi juga ada di mama-mama yang lainnya di beberapa desa di Molo Utara. Seperti Mama Ety yang berasal dari Desa Kuannoel. Seorang mama yang kalo bercerita penuh dengan ekspresi ini juga menceritakan bahwa ia dan keluarganya sempat dimusuhi oleh saudara-saudaranya yang ada di kampung karena dia menolak pertambangan yang ada di Desa Kuannoel. Dibeberapa desa memang ada beberapa orang pro dengan pertambangan, terutama mereka yang menikmati hasil dari pertambangan dan mereka yang terkena iming-imingan dari perusahaan. Sambil menangis Mama Ety menceritakan bagaimana dia sangat sedih sekali melihat perpecahan ikatan kekeluargaan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun hanya karena sebuah perusahaan tambang. Mama Ety juga sangat sedih sekali karena seoarang tantenya yaitu Mama Marselina Lake yang juga ikut berjuang saat menduduki lokasi pertambangan meninggal dunia karena terlalu banyak menghirup debu-debu dari bor-bor yang beroperasi disaat mencoba menghentikan dan merebut bor dari tangan pekerja. Setelah sakit selama satu minggu akhirnya nyawa Mama Marselina tidak bisa diselamatkan lagi.

Di Desa Tunua juga terdapat para pejuang perempuan. Diantaranya adalah Mama Omi. Wanita muda yang baru berumur 29 tahun ini dengan gigih berjuang untuk menolak pertambangan marmer yang ada di Naitapan. “Di Tunua banyak juga orang yang pro terhadap marmer. Dengan berbagai macam janji perusahaan mengambil hati masyarakat” ungkap Mama Omi. Sebelum memulai operasi di Desa Tunua, Kecamatan Molo utara, kabutapen TTS, perusahaan sempat menjanjikan pembangunan jalan aspal sepanjang 5 km, pembangunan gereja 2 buah, pembangunan gedung Sekolah Dasar 2 buah, rumah masyarakat 150 KK. Tapi sampai saat ini tidak ada yang direalisasikan padahal gunung batu yang ada di Naitapan sudah terpotong-potong dan erosi sudah melanda desa. “Banyak sumber-sumber air disini kering dan hilang walaupun belum masuk musim kering atau kemarau. Salah satu sungai yang hulunya di batu yang ditambang itu sekarang sudah tercemar dan membuat gatal-gatal” keluh Mama Omi.

Batu-batu yang ada di Molo ibarat tulang bagi masyarakat Molo. Air adalah darah. Tanah adalah Daging. Hutan adalah rambut. Tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu hilang maka kehidupan tidak akan ada. “Kami yang ada di dataran Molo, kami menganggap bumi, batu, kayu dan air itu adalah merupakan ibu yang menyusui” tegas Om Heis yaitu salah satu tokoh adat dari Desa Ojoabaki. Oleh karena itulah masyarakat Molo berjuang mati-matian mempertahankan Batu yang ada di Molo. Dulunya nenek moyang mereka juga tinggal di gua-gua yang ada dibatu tersebut dan masih ada sisa-sisa peninggalan nenek moyang mereka. Di setiap gua-gua yang ada merupakan salah satu tempat tinggal sebuah marga yang ada di Molo. Seperti yang ada di Batu Nausus, ada beberapa gua yang dimiliki oleh Kafetoran Netpalak yaitu Marga Tefui’ Sembanu, Seko Ba’un, Toto Tanesif dan Nani Lasak. Jika batu-batu itu ditambang dan dihancurkan bukan hanya kehidupan mereka yang terganggu tetapi juga identitas masyarakat adat Molo akan ikut musnah. “Kami tolak pertambangan yang ada di Molo, karena inilah tempat ritus kami, tempat tinggal kami yang pertama. Istana daripada marga kami yang tidak boleh diganggu oleh siapapun!” tegas Om Heis lagi.

Melihat dan mendengar cerita dari kaum perempuan yang ada di Pulau Timor ini membuat saya kembali bingung kepada Pemerintah Indonesiah ini. Rakyatnya mati-matian berjuang mempertahankan kesejahteraan alam dan manusianya, mempertahankan identitas dan budayanya. Tapi Pemerintah kita yang tercinta ini malah dengan entengnya dan menjual memberikan izin untuk dihancurkan sumber-sumber kehidupan mereka. Identitas diri mereka. Capek deh!!

Read More...

Tuesday, September 9, 2008

Under Threat


The video shows the rejection of the indigenous Dayak of Borneo to large-scale oil palm plantations set up in their territories. Oil palm plantation is held accountable for the vast destruction of much of the island’s ecosystems. The plantation scheme has also expelled the nomad Dayak, who depend primarily on forests.

Read More...

The Guardian of Sebesi Island


Pulau Sebesi islander make an important decision about their own live. They initiate a community based marine sanctuary. The community realized that they have to protect their own natural resources, especially coral reefs, with a sustainable way in order to maintain their own live.

Read More...

Friday, September 5, 2008

Gekko Studio Films on FreedomFilmFest 2008





The Indigenous People of Knasaimos

* Director: Ritzki Sigit/ Nanang Sujana
* Duration: 32m
* Country: Indonesia
* Languages: BI,Eng
* Official Website: www.gekkovoices.com
* Film link: http://blog.gekkovoices.com/indigenous-people-of-knasaimos.html

At present Indonesian forests are in a very dangerous situation due to massive exploitation that has happened in the past couple of years. Every year, areas as big as three times the island of Bali are being destroyed. On the other hand there is still hope, especially in the ancestral forests that are being managed by the indigenous people. Forests for them mean not only the number of standing stock, but it is related to their religion, wisdoms and many other kinds of socio-cultural aspects.


Voices From The Forest (2007)
* Director: Gekko Studio/Dusty Foot Production
* Country: India
* Official Website: www.gekkovoices.com
* Film link: http://blog.gekkovoices.com/voices-from-forest-in-india.html

Non-timber forest produce (NTFP) spell a critical source of income for indigeneus people and forest-dwelling communities, who are among the poorest of the poor. Not only do the NTFPs play a crucial role in the livelihood of these people, but from a key incentive to conserving the forest of India. Moreover NTFPs are woven in with the social and cultural fabric of the communities.

Communities are working hand in hand with grassroot non-government groups, traders, and government to address the challenges posed by low productivity, lack of tecnology, irrational NTFP law, and wide-scale contract based extraction. Over the years of hard work, inroads are being made. Community-based conservation, management, value addition, and marketing of NTFPs are being successfuly practiced. Honey, mahua, resin, amla, sal leaf, and the thousands of other NTFP species will continue to flourish and play its role in the lives of communities today and in the future.

See more on:
http://freedomfilmfest.komas.org/about/screenings/

Read More...

Wednesday, September 3, 2008

International Day Against Monoculture

Dear friends,
This coming 21 September we will once again be marking the International Day Against Monoculture Tree Plantations.

As a way of raising awareness about the different kinds of impacts suffered by communities in countries around the world as a result of monoculture tree plantations, we at WRM, Friends of the Earth and the Global Forest Coalition invite you to join in this worldwide day of protest.

You may be wondering what you can do on this day. There are a wide variety of activities that can be planned in our different countries and communities. While the activities chosen will depend upon the possibilities of each one of us, there are a number of ideas that we would like to share with you. For example:

- Meetings about plantations (conferences, seminars, workshops).
- Media activities (press releases, press conferences, interviews with newspapers, radio and TV programmes, internet articles).
- Public events (in urban and rural areas) to inform the public about the impacts of plantations.
- Dissemination of testimonials from people affected by plantations.
- Meetings with government representatives.

However there are also very simple things that can be done at an individual level, such us:
- Hanging a sign/banner in the window of your office or home.
- Putting a bumper sticker on your vehicle.
- Sending your email contacts a message about the meaning of the International Day Against Monoculture Tree Plantations.
- Placing a banner on your website and on blogs.

We are preparing a series of tools that can help you to organize the kind of activities we have recommended. If you would like to receive them, please do not hesitate to contact us

In addition, remember that WRM has two other tools already developed that are available for use at:
1) The video “Mountains of Paper, Mounting Injustice” (Available at: http://www.wrm.org.uy/Videos/Paper_Consumption.html)
2) The “Appeal from literature and journalism for socially and environmentally clean paper” (Available at: http://www.wrm.org.uy/plantations/writers.html)

Please feel free to write to us if you need further information.

Kind regards,
The WRM Team

Read More...

Mountains of Paper, Mounting Injustice


Mountains of Paper, Mounting Injustice from WRM on Vimeo.

Produced by the World Rainforest Movement - 2008
Sreenplay: Antonis Diamantidis and Flavio Pazos
With the support of the WRM International Secretariat Team
Voice: Cecilia Carrère



The Appeal from Literature and Journalism for Socially and Environmentally Clean Paper
Paper is a wonderful material, which for centuries has served for a fertile exchange of ideas among human beings. For us all who use it as an essential vehicle to share what we think, imagine, dream, know or believe we know, paper is a wonderful tool that we want to be able to continue using ... but not at the expense of people and the environment.
As people who live in this reality, we are aware of the serious injustices and inequalities - social and environmental – arising from the world production and consumption of paper.

In addition to the destruction of forests for making paper, now forests and grasslands are being replaced by vast monoculture tree plantations, destroying communities, water, soil and all life. Both the destruction of forests and the installation of monoculture tree plantations – occupying food-producing land – bring about enormous damage to the local population, who see their rights violated, their environment destroyed and their way of life irremediably affected.

The destructive cycle is continued with pulp production, in which fewer and increasingly larger companies take possession of land where they plant trees, of water that their trees and mills consume and contaminate, of political power acquired through their billion dollar investments, and of the environment that they destroy in the regions where they are installed.

To destruction are added inequities. The enormous volume of paper produced from this pulp feeds a “world market” centred on rich and powerful peoples’ consumption. The average figures (that hide enormous inequalities on a national level), show that consumption per capita is more than ten times higher in the countries of the North than in those of the South.

To inequity is added excessive consumption. Only as an example it is enough to see the mountains of paper and cardboard growing night after night in the streets of New York to understand that most of the pulp production does not end up as books, newspapers or journals, but simply as trash. In general terms, at least half the pulp produced goes to the production of paper and cardboard for wrapping and packaging, most of it totally unnecessary.

We do not want to have anything to do with paper produced in this way. We do not want to become accomplices to the social and environmental destruction this implies. We do not trust certification schemes that have given their seal of “sustainability” to these same monoculture plantations whose impacts we know so well.

This situation has already reached intolerable limits and its solution requires policies discouraging unnecessary consumption, promoting a rational and socially appropriate use of paper, ensuring an equitable use among countries and within countries, facilitating the development of diversified models on a smaller scale for the production of pulp, respecting both people and the environment.

The above is perfectly feasible and no technical limitations of any kind exist to prevent it from becoming a reality. The only and real obstacle is the economic interest of large companies, whose objective is to continue making profits by imposing an increasingly large and unlimited consumption of paper. The time has come to tell them that this is enough.

We are therefore appealing to those, who like us want to be able to continue communicating through this marvellous material called paper, to join in this struggle for a socially and environmentally clean paper.

Please sign-up the appeal here.

Read More...

Monday, September 1, 2008

FreedomFilmFest 2008

The annual FreedomFilmFest will be returning to screens around Malaysia when the festival kicks off in September.

FFF adopts the themes encompassed in the Universal Declaration of Human Rights (UDHR) which expresses our aspirations for genuine justice, peace, equality and democracy.

Through an annual film contest, workshops and screenings, FFF creates an annual showcase of outstanding films and documentaries focusing on social issues that affect ordinary people like HIV/AIDS, human rights, poverty and the environment; alternative films which, due to a lack of commercial backing and because of the tyranny of popular mainstream media, are out of the reach to most Malaysians.

FFF is a vital event, providing a venue for the Malaysian public to use the video medium as a tool for social documentation and filmmaking. Technological advances have brought about a democratising effect to filmmaking in recent years. With a video camera in hand, almost any person on the street, and even entire communities, can share their story in the way they want to tell it. Filmmakers are better equipped now to explore and express their skills and passion to produce socially relevant films.


Screening

Kuala Lumpur (5-7 Sep 2008)
The Annexe Gallery Studio Theatre
1st & 2nd Floor,
Central Market Annexe,
Jalan Hang Kasturi,
50470 Kuala Lumpur.
MAP
Tel / Fax: +603 2070 1137
Johor Bahru (12-14 Sep 2008)
Tropical Inn Johor Bahru
15 Jalan Gereja
80100 Johor Bahru, Johor
MAP
JB Coordinator:
Nyam +6016 778 2707
Kuching (19-21 Sep 2008)
Old Court House
Jalan Tun Abang Haji Openg
93000 Kuching
MAP
Kuching Coordinator:
Ahmad +6019 438 3706

Penang (26-28 Sep 2008)
Wawasan Open University (WOU)
54 Jalan Sultan Ahmad Shah
10500 Penang
MAP
Penang Coordinator:
Josh +6016 462 2650



Organized by:
Komas (Community Communication Centre)
40-A, Jalan 52/18,
46200 Petaling Jaya,
Selangor,Malaysia

Tel: 603-7968 5415
Fax: 603- 7968 5415
Email: komasjj@pc.jaring.my

Source: freedomfilmfest.komas.org

Read More...

Tuesday, August 26, 2008

Symposium "Media on the Move"

Media influence the complex social, cultural and political relationships between majorities and minorities or migrants. The discussion about the coverage of migration issues and ethnic minorities has primarily focused on the Western media, while it rarely has taken into consideration the practical and theoretical approaches of Sotuhern and Eastern countries.

This symposium widens the scope and pays special attention to concrete experiences from Africa, Asia, Latin America and South-Eastern Europe. E.g., it provides insights into:
- Radio Work with Refugees in Tanzania;
- World Migration Day Radio Campaign;
- Media Integration Policies in Canada, Germany and the US;
- Media Monitoring in South Africa;
- Minority Media Assistance in (South-)Eastern Europe;
- Communication Strategies of Burmese and Zimbabwean Exile Media;
- Internet Sphere of Turkish and Russian Migrants in Germany.

This symposium is a joint initiative of the Forum Media and Development (Deutsche Welle Academy, Friedrich Ebert Foundation, Konrad Adenauer Foundation, InWEnt, Centre for Development Research of Bonn University, CAMECO), the Protestant Academy of the Rhineland and the German Federal Office for Migration and Refugees.

the Symposium "Media on the Move" takes place in Bonn, Germany, from September 25 to 27. Download the invitation at:
http://www.cameco.org/files/invitation_media_on_the_move.pdf.

The contributions of this symposium will be published. See also the last year's documentation on "Measuring Change: Planning, Monitoring and Evaluation in Media and Development Cooperation" at
http://www.cameco.org/files/measuring_change_1.pdf.


CAMECO
CAMECO is a consultancy specialising in media and communications in Africa, Asia, Latin America, Central and Eastern Europe, the Middle East and the Pacific.
The overall aim of CAMECO's services, publications, and resources is to contribute to the capacity building of partners and to empower community-oriented media and communication initiatives.
We screen projects, coordinate evaluations, facilitate planning and change processes, and conduct training courses. CAMECO offers these services to local partners, organisations that are active in delivering media assistance, and to donors - among them many faith-based agencies.

Contact
Postal address:
Postfach 10 21 04
52021 Aachen
Germany

Office address:
Anton-Kurze-Allee 2
52064 Aachen
Germany

Phone: +49 (0) 241- 70 13 12-0
Fax: +49 (0) 241- 70 13 12-33
E-mail: cameco[at]cameco.org

Read More...

Thursday, August 14, 2008

Green Unplugged Film Festival: Call for Entries

Culture Unplugged Studios will be launching 'Green Unplugged' - the festival where we unite to share our voices, not only as film-makers but culture-makers. The festival will facilitate contemplation, connection & celebration of life, culture & nature through cinema. We invite your green & socially conscious films that bring to light nature's demand to wake us to our future - an integrated individual and the human society. Share stories that reveal where we come from, our collective journey leading to our present and contemplating the path beyond.

With this, Culture Unplugged wishes to create a global community of conscious creatives and their audiences, to reflect on issues and life experiences in contemporary world – creatives/storytell ers wishing to express and exchange primarily through language of film (visual/aural communication), framing the spirit in motion.

FESTIVAL DATE : 2008-2009

FESTIVAL PARTNERS :
Barrie Osborne (Producer, New Zealand, 7 times - Oscar winner)
Michael Pyser (Producer, USA, Several Oscar Nomination)
Shekhar Kapoor (Film-maker/ Director, India, Oscar Nominated 2007)

Last date for receiving of the film 1st week of October, 2008

Awards/Rewards :
PEOPLE'S CHOICE (Best Rated) : $5000
POPULAR (Most Viewed) : Conversation with Conscious Creative
VIRAL (Most Shared/Linked) : Media Storage Unit - 300 GB
JURY'S CHOICE (Must View) : Premier Pass to Sundance Film Festival
FILM-MAKERS' CHOICE (Best Art) : $5000

To submit your film to us please go through the following information:

CRITERIA :
1) Films: On Social / Cultural / Environmental Issues.
2) Any form: Shorts (less than 15 min.) Short Features (upto 60 min.) Full Feature (upto 180 min.) + Mobi- films (upto 3 min.)
3) Film projects which are open to non-exclusive distribution (online and /or broadcast worldwide).
4) Films which are in English or suitably sub-titled in English (films originally produced in regional languages are welcome).

Multiple submissions welcome.

------------------------------------------

If you participate in the festival, you will be contacted shortly prior to the launch of this festival. Post festival, we will be launching a permanent venue with the film archive with intention to promote transformative films and its film-makers on global level. With this venue we intend to create an open & transparent system for film-makers and facilitate dialogue among them, their audiences and other professionals to fertilize social consciousness.

For participation kindly fill the online form and send us the film/DVD . Multiple entries are welcome. Fill the individual form for each film.

To submit the form, please visit: http://www.cultureunplugged.com

For sending us the film our office address are
For India & SE Asia
Culture Unplugged Studios
Clover Centrum, 2nd Floor, Galaxy Society, Plot No.5, Boat Club Road, Pune 411001, Maharashtra, India
For USA, Canada & Europe:
Culture Unplugged Studios
1825 South Grant Street, Suite 200 San Mateo, CA 94402 USA
For Australia & New Zealand:
Culture Unplugged Studios
P.O. Box 21077 Henderson, Auckland, AZ

Join us on facebook:
http://www.facebook.com
Current Festival:
http://www.cultureunplugged.com

Read More...

Kompetisi Film Dokumenter Indonesia 2008

Call for Entry Kompetisi Film Dokumenter Indonesia (Festival Film Dokumenter VII 2008)

Kompetisi Film Dokumenter Indonesia (Festival Film Dokumenter - FFD) telah menginjak penyelenggaraan yang ke-7. FFD sampai saat ini masih menjadi satu-satunya festival film khusus film dokumenter di Indonesia dengan kompetisi film dokumenter sebagai salah satu program utama, selain program-program pemutaran, diskusi, workshop, masterclass, schooldoc, dan lain-lain. Selama penyelenggaraannya, Kompetisi FFD telah diikuti lebih dari 300 filmmaker dari seluruh Indonesia, dengan para juri dari dalam dan luar negeri.

Kompetisi FFD 2008 tampil dengan format baru yang diharapkan dapat semakin memajukan perkembangan film dokumenter di Indonesia, dengan kategori: LENGTH DOCUMENTARY(Kompetisi Film Panjang Dokumenter Indonesia), SHORT DOCUMENTARY(Kompetisi Film Pendek Dokumenter Indonesia), dan Kompetisi Film Dokumenter Pelajar.

Kompetisi FFD terbuka untuk umum, tanpa biaya pendaftaran. Penerimaan karya akan dimulai 17 Juni sampai 30 Oktober 2008. Kompetisi FFD akan memilih masing-masing 10 film finalis untuk setiap kategori yang akan ditampilkan dalam puncak festival di bulan Desember. Para finalis juga berhak untuk ikut dalam program Master Class Film Dokumenter Indonesia atau program-program FFD yang lain. Pemenang akan mendapatkan piala, piagam, uang tunai, dan hadiah dari sponsor.

Berita selanjutnya ikuti link ini, dan
Formulir dapat diunduh disini - pdf
---
Festival Film Dokumenter 2008
Jalan Sajiono No. 15, Kotabaru
Yogyakarta 55224, Indonesia
Telp: 0274-7102672

Info lengkap:
Email : ffdnews@yahoo.com
Blog : www.festivalfilmdokumenter.blogspot.com
Web : www.festivalfilmdokumenter.org

Read More...

Saturday, August 9, 2008

Siaran Pers Aliansi Masyarakat Adat Nusantara

Peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Se-Dunia
9 Agustus 2008


Jadikan Deklarasi PBB Tentang Hak-Hak Masyarakat Adat sebagai Dokumen Hidup, Dasar Pengakuan, Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Masyarakat Adat di Indonesia

Masyarakat Adat di Indonesia merayakan disahkannya Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Masyarakat Adat, pada tanggal 13 September 2007. Sebagai salah satu standar minimum internasional untuk perlindungan, penghormatan dan pemenuhan HAM Masyarakat Adat, Deklarasi ini menegaskan hak-hak kolektif Masyarakat Adat untuk menentukan nasibsendiri,hak atas tanah, wilayah dan sumber daya alam, hak atas identitas budaya dan kekayaan intelektual, hak untuk menentukan keputusan bebas, didahulukan dan diinformasikan (free, prior and informed consent - FPIC), dan hak untuk menentukan model dan bentuk-bentuk pembangunan yang sesuai bagi mereka sendiri. Masyarakat Adat di Indonesia bersama-sama merayakan kemenangan ini sebagai kemenangan Masyarakat Adat se-dunia.
Deklarasi ini akan menjadi instrumen penting untuk membangun kesadaran sosial secara lebih luas tentang Hak-Hak Masyarakat Adat, sekaligus mendorong Pemerintah untuk mencerna situasi Masyarakat Adat di Indonesia yang sudah lama menderita, mengalami diskriminasi dan marjinalisasi, serta terabaikan dari proses-proses keadilan. Deklarasi ini akan menjadi instrumen untuk memperkuat Hak-Hak Masyarakat Adat di Indonesia.

Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat ini telah diperjuangkan selama 23 tahun, sampai akhirnya disahkan oleh badan tertinggi PBB yakni Sidang Umum. Bagi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), juga bagi organisasi-organisasi Masyarakat Adat lainnya dari seluruh dunia yang sudah berjuang di PBB, pengesahan Deklarasi ini merupakan tonggak bersejarah menuju perlindungan dan pemenuhan Hak-Hak Masyarakat Adat di dunia. Walaupun proses pembuatan draft dan pembahasan isi Deklarasi ini sudah dimulai tahun 1994, Kelompok Kerja Draft Deklarasi baru berhasil menyelesaikan tugasnya dan menyerahkan hasilnya ke Komisi PBB tentang HAM pada bulan Februari 2006. Pada tanggal 29 Juni 2006, dalam sidang pertama Dewan HAM PBB di Jenewa Deklarasi ini secara resmi diadopsi oleh Dewan HAM dengan suara mendukung 30 negara, abstein 12 negara dan tidak mendukung 2 negara (Kanada, Rusia). Deklarasi ini kemudian dibahas dan disahkan dalam Sidang Umum PBB di New York pada tanggal 13 September 2007 dengan suara mendukung 144 negara, abstein 11 negara dan tidak mendukung 4 negara (Kanada, AS, Australia, Selandia Baru), serta tidak hadir 30 negara. Indonesia adalah salah satu negara anggota PBB yang konsisten memberikan suara mendukung dan ikut menjadi penandatangan dalam pengesahan Deklarasi ini di Sidang Dewan HAM dan Sidang Umum PBB. Dalam perjalanan mencapai pengesahan tersebut, terjalin kerjasama dan pengertian yang lebih baik di negara-negara anggota PBB tentang apa yang menjadi aspirasi dan tuntutan Masyarakat Adat.

Untuk Masyarakat Adat di Indonesia yang memiliki populasi 70-an juta jiwa, pengesahan Deklarasi PBB ini secara signifikan menandai :
* Penegasan bahwa Masyarakat Adat memiliki hak-hak kolektif dan individu yang sejalan dengan Hukum Internasional Hak Asasi Manusia.
* Terbangunnya standar minimum internasional bagi perlindungan, penghormatan dan pemenuhan Hak Asasi Masyarakat Adat dan kebebasan fundamental.
* Adanya ukuran untuk menilai hukum, kebijakan dan program-program yang telah ada terkait dengan Masyarakat Adat, sehingga kemudian dapat membangun yang baru, di semua level dan arena.
* Bahwa badan-badan, dana-dana dan program-program PBB di tingkat global, regional dan lokal akan mengacu pada Deklarasi ini, serta memastikan bahwa Deklarasi ini akan menjadi pedoman utama dalam pekerjaan-pekerjaan mereka yang berdampak pada Masyarakat Adat.
* Bahwa Deklarasi ini merupakan Kerangka Kerja dan Dasar bagi kerja-kerja Permanent Forum PBB untuk Issue-Issue Masyarakat Adat.
* Bahwa Deklarasi ini akan menjadi dasar bagi kemitraan antara Masyarakat Adat dengan Negara dalam mengimplementasikan Program Aksi Dekade Kedua PBB untuk Masyarakat Adat Se-dunia dan lainnya.

Dengan tetap menghormati interpretasi-interpretasi pemerintah terhadap Deklarasi ini, Masyarakat Adat meyakini bahwa implikasi legal dan signifikan dari Deklarasi ini tidak semestinya dikecilkan dalam bentuk apapun karena hal tersebut merupakan suatu bentuk lain dari diskriminasi terhadap Masyarakat Adat. Bagi Masyarakat Adat, cara terbaik untuk menginterpretasikan Deklarasi ini adalah dengan membaca keseluruhan isi Deklarasi dan menghubungkannya dengan hukum-hukum internasional yang ada.

Perjuangan bagi penghormatan, perlindungan dan pemenuhan Hak-Hak Masyarakat Adat baru dimulai. Masyarakat Adat memperkirakan bahwa akan ada hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan dalam mengimplementasikan Deklarasi ini, karena kurangnya keinginan politik dari pihak pemerintah, kurangnya sumber daya serta adanya pengaruh dari kepentingan-kepentingan individu dan koorporasi-koorporasi kuat dan kaya. Bagaimanapun, Masyarakat Adat akan tetap memperhitungkan berlanjutnya niat baik yang ditunjukkan oleh pemerintah yang memilih untuk mengadopsi Deklarasi ini

Masyarakat Adat mendorong Pemerintah Indonesia untuk bekerja secara lebih dekat dalam kemitraan dengan Masyarakat Adat untuk mengimplementasikan Deklarasi ini. Masyarakat Adat akan secara aktif membangun hubungan dengan pemerintah untuk memastikan implementasi dari Deklarasi ini dan mendorong PBB serta NGOs untuk ikut mendorong proses-proses ini. Selanjutnya menyerukan kepada Badan-Badan, Program-Program dan Dana- Dana PBB serta lembaga-lembaga internasional di Indonesia untuk melakukan analisa terhadap kebijakan-kebijakan, program-program dan project-project mereka sehingga dapat disesuaikan dengan Deklarasi ini, sebagaimana juga telah ditetapkan dalam Pedoman bagi Kelompok Pembangunan PBB tentang Issue-Issue Masyarakat Adat (UN Development Group Guidelines on Indigenous Peoples’ Issues), Februari 2008.

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjadikan Jadikan Deklarasi PBB Tentang Hak-Hak Masyarakat Adat sebagai Dokumen Hidup, Dasar Pengakuan, Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Masyarakat Adat di Indonesia

“Selamat Merayakan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, 9 Agustus 2008.”

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)
Jl. B, No. 4, RT 001 RW 006
Kompleks Rawa Bambu I, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12520
Telp/Fax. +62 21 7802771 ;
Email : rumahaman@cbn.net.id
Website : www.aman.or.id


Kontak Person :
Abdon Nababan : HP 0811111365 ; email : abdon.nababan@aman.or.id
Mina Susana Setra : HP 0813 15119414 ; email : minasetra@aman.or.id

"Berdaulat secara Politik, Mandiri secara Ekonomi, dan Bermartabat secara Budaya"

Read More...

Indigenous Movie on Indonesia

World's Indigenous People Day 2008
August 9, 2008

At present, Indonesian forests are in very dangerous situation due to massive exploitation that has been happened in the past couple of years. Every year, areas as big as 3 times of island of Bali are beeing destructed.

In the other hand – different with the general situation – there are still hope, especially in the ancestral forests that are still being managed by the indegenous people. Forest for them means not only the number of standing stock, but it is related with their religion, wisdoms and many king of socio-cultural aspects.

Dayak Punan community in Malinau (Kalimantan island) depend on their forest for collecting eaglewood (gaharu), Seko people in North Luwu (Sulawesi) get benefit from non timber forest products such as resin and rattan for fullfilling their livelihood, Knasaimos tribe in South Sorong (Papua) consider the forests as their own mother.

Initiative to defend the forest, are facing huge challenges. The indigenous people still worry if their forest will be converted into large scale plantation, forest concession or mining exploitation.
See more on A M A N.

Read More...

Friday, August 8, 2008

Panggilan Aksi Hari Masyarakat Adat Sedunia 2008

PBB telah menetapkan bahwa 9 Agustus merupakan Hari Masyarakat Adat Sedunia dan juga merupakan tonggak sejarah yang sangat berarti bagi masyarakat adat di seluruh penjuru dunia. AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) sebagai organisasi payung komunitas-komunitas masyarakat adat yang menyebar di propinsi-propinsi di Indonesia juga menjadikan 9 Agustus sebagai salah satu dari hari-hari bersejarah lain bagi komunitas masyarakat adat yang memiliki momentum yang efektif dalam membangun konsolidasi gerakan masyarakat adat.

Tahun ini, salah satu bagian dari rangkaian acara AMAN memperingati 9 Agustus adalah melakukan AKSI Damai di depan Istana Merdeka. Aksi di lakukan dengan membentangkan Spanduk dan Bendera AMAN sebagai bentuk atau cara untuk mengingatkan pemerintah Indonesia secara khusus segera melaksanakan Deklarasi PBB Tentang Hak-Hak Masyarakat Adat, dan secara umum menginformasikan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menghormati 9 Agustus sebagai Hari Masyarakat Adat Sedunia.

Saya sebagai Komando AKSI tahun ini, menginformasikan dan merangkul kepada seluruh pejuang, penggerak dan teman-teman yang terus-menerus membela hak-hak masyarakat adat yang secara khusus seruan ini ditujukan kepada teman-teman yang berada di sekitar Jakarta dan Bogor untuk terlibat bersama-sama dalam AKSI Damai ini.

Adapun aksi ini akan dilaksanakan pada :
Tanggal : 09 Agustus 2008
Pukul : 10.00 WIB selesai 12.00 WIB
Titik Kumpul : Di Pintu Monas (Gerbang akan diinformasikan di saat briefing) Tepat Pukul 09.00
Titik Sasaran : Depan Istana Merdeka – Jakarta Pusat
Kontak Person : Monang , HP : 081533333644
Syarat Peserta : Menggunakan salah satu Atribut Masyarakat Adat (seperti baju, celana dll)
Briefing : Kamis, 07 Agustus 2008/pukul 13.00 WIB di Rumah AMAN.

Demikian panggilan AKSI ini saya sampaikan, atas perhatian dan keterlibatan teman-teman semua saya mengucapkan terima kasih.

Salam Perjuangan

Monang
Komando Aksi

__._,_.___

A l i a n s i M a s y a r a k a t A d a t N u s a n t a r a
"Berdaulat secara Politik, Mandiri Secara Ekonomi, dan Bermartabat secara Budaya"

Read More...

Thursday, August 7, 2008

Sertifikasi hutan adat, harapan baru bagi pengelolaan hutan lestari di Indonesia

Bogor, 7 Agustus 2008. Hari ini sebuah komunitas masyarakat adat di Kalimantan Barat menerima pengukuhan pengakuan atas upaya dan perjuangannya dalam mengelola hutan adat. Pengakuan itu diwujudkan dalam sebuah Sertifikat Ekolabel Pengelolaan Hutan Lestari yang diberikan oleh Lembaga Ekolabel Indonesia. Penyerahan Sertifikat Ekolabel akan dilakukan dengan upacara adat yang dirangkaikan dengan Upacara Adat Gawai di Rumah Panjae Sungai Utik. Sebuah pengakuan yang membawa harapan baru bagi praktik pengelolaan hutan yang bijak, disela laju kehilangan hutan Indonesia yang semakin tak terbendung.
Masyarakat Iban Menua Sungai Utik merupakan bagian dari komunitas adat di Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Wilayah hukum adat Iban Menua Sungai Utik seluas kurang lebih 9,5 ribu hektare merupakan hulu DAS Kapuas dan berbatasan langsung dengan daerah penyangga Taman Nasional Betung Kerihun di sebelah utara.
Seperti juga wilayah hutan lain di Indonesia, luas hutan di Kalimantan Barat semakin berkurang akibat tekanan dari praktik pengelolaan hutan yang eksploitatif sehingga terjadi perubahan fungsi hutan yang signifikan. Juru bicara Forest Watch Indonesia (FWI), Markus Ratriyono mengatakan, "Luas hutan alam yang bisa dikatakan berkondisi baik di Kalimantan Barat terus menyusut hingga 1,9 juta hektare sampai saat ini. "Kehilangan hutan alam banyak disumbang oleh praktik pengelolaan hutan yang mengabaikan prinsip kelestarian. Sayangnya, perusahaan-perusahaan tersebut justru memperoleh ijin konsesi yang sah dari pemerintah, baik itu konsesi HPH, HTI Perkebunan maupun Pertambangan. Dan ini menjadi ancaman keberadaan hutan alam yang berada di dalam wilayah adat" tambahnya.
Hasil pemantauan FWI, hingga saat ini masih terjadi tumpang tindih lahan antara wilayah adat Iban Menua Sungai Utik dengan kawasan hutan yang hak pengelolaannya diberikan pemerintah kepada perusahaan HPH sampai tahun 2038. Menanggapi kondisi ini, Markus menyatakan, "Pemerintah harus mulai melakukan kaji ulang atas seluruh ijin konsesi yang sudah maupun akan diberikan kepada perusahaan dan mengembalikan hak pengelolaan kepada komunitas adat yang terbukti melakukan pengelolaan hutan adatnya secara lestari."
Jauh sebelum masuknya perusahaan HPH hingga mendapatkan sertifikat ekolabel, masyarakat adat Iban Menua Sungai Utik telah melakukan pengelolaan hutan adatnya secara lestari berdasarkan hukum adat yang sudah berlaku ratusan tahun. "Tanah dan air tidak memiliki benih, sehingga kami harus jaga untuk generasi mendatang", kata Apai Janggut, Kepala Rumah Panjae Sungai Utik. "Sesudah hutan adat kami mendapatkan sertifikasi ekolabel, kami akan tetap mengelola hutan kami secara lestari, karena hutan merupakan kehidupan kami, dan biarlah masyarakat adat yang lain mengikuti langkah kami", Apai Janggut menambahkan.
FWI, sebagai lembaga independen pemantau hutan di Indonesia, menyambut baik pemberian sertifikat ekolabel ini kepada komunitas masyarakat adat. FWI memandang bahwa secara umum kriteria dan indikator penilaian (Aspek Ekologi, Sosial dan Produksi) atas pengelolaan hutan adat Iban Menua Sungai Utik memenuhi syarat ideal untuk memperoleh sertifikat ekolabel, meskipun secara bertahap masih harus dilakukan perbaikan kelembagaan dalam unit manajemennya.
Sertifikat Ekolabel bagi pengelolaan hutan oleh komunitas masyarakat adat merupakan upaya nyata di tingkat tapak untuk mempertahankan hutan alam yang tersisa. "Bagi FWI, pemberian sertifikat ini merupakan hal yang membanggakan dan harus dijadikan contoh solusi untuk mencegah berlanjutnya penghancuran hutan di Indonesia", imbuh Markus dengan yakin.

Catatan editor:

  1. Forest Watch Indonesia merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan. Salah satu fokus kegiatan FWI adalah mempromosikan bentuk-bentuk pengelolaan hutan yang lestari di Indonesia.
  2. Laju kerusakan hutan selama periode 1985 – 1997 sekitar 1,7 juta ha per tahun (WB, 2000), dan meningkat tajam menjadi 2,83 juta ha per tahun dalam kurun waktu 1997-2000 (Dephut, 2005). Buku State of the World's Forests FAO tahun 2007 mengatakan laju kerusakan hutan di Indonesia telah mencapai 1,87 juta ha periode 2000 – 2005. Forest Watch Indonesia, dalam periode 1989 – 2003 menyatakan laju kerusakan hutan mencapai 1,99 juta ha per tahun, dan 39,2% kehilangan hutan terjadi di Pulau Kalimantan (FWI, 2008).
  3. PHBML adalah pengelolaan hutan berbasis masyarakat lestari dan merupakan salah satu skema sertifikasi ekolabel yang dikembangkan oleh Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI).
  4. Wilayah adat Iban Menua Sungai Utik dibagi menjadi 4 (empat) fungsi kawasan, yaitu: Kampong Taroh (Kawasan Hutan Keramat), Kampong Galao (Kawasan Hutan Cadangan/Lindung), Kampong Embor Kerja (Kawasan Hutan Produksi) dan Kawasan Pemanfaatan (Kawasan Budidaya Gilir Balik).
  5. Analisis yang dilakukan FWI menggunakan peta partisipatif wilayah adat Iban Menua Sungai Utik dengan peta IUPHHK HPH, mengindikasikan terjadinya tumpang tindih lahan seluas 3.083,80 ha (33% total wilayah adat).
Informasi lebih lanjut
Markus Ratriyono:
HP: +62 816103468
email: anakperi@fwi.or.id

Sekretariat Forest Watch Indonesia:
Jalan Sempur Kaler No.26 Bogor,
Telp: +62 251 8323664,
Fax: +62 251 8317926,
email: fwibogor@fwi.or.id; fwi@indo.net.id
website http://www.fwi.or.id/

Read More...

Tuesday, July 22, 2008

Participatory Video Training for Human Rigts Based Approaches

Beberapa minggu yang lalu saya diudang untuk menjadi peserta training "Participatory Video Training for Human Rigts Based Approaches" di Kaliandra dan di Porong, Sidoarjo. Mungkin karena kita pernah membuat film tentang Lumpur Lapindo tahun lalu maka kita diundang untuk bergabung dalam training ini. Terima kasih kepada UNDP, SGP The GEF Small Grants Programme (http://www.sgp-indonesia.org), insight ( http://www.insightshare.org/), Urban Poor Linkage dan Yayasan Kaliandra (http://www.kaliandrasejati.org/).

Training yang diadakan selama sepuluh hari ini mencoba untuk share sesama peserta tarining tentang pengetahuan dan pengalaman selama membuat video-video dokumenter. Dari pengalaman-pengalaman itu ditambahkan mengenai perngertian Human Rights Base atau Hak-Hak Dasar Manusia. Walaupun saya masih belum paham sekali mengenai HAM ini tapi saya coba share kepada semuanya apa saja yang dilakukan selama training. Jika masih ada yang kurang jelas, dipersilahkan menghubungi panitianya :)

Sebenarnya jika kita sudah terbiasa membuat sebuah film dokumenter, training ini akan menjadi hal yang biasa saja. Tidak ada yang baru. Yang membedakannya adalah hanya cara membuat filmnya saja. Jika selama ini hanya kita-kita saja yang membuat sebuah film dokumenter, dalam training Partisipatory Video (PV) ini kita mengajarkan kepada komunitas-komunitas tertentu untuk membuat film tentang kehidupan mereka sendiri, atau tentang keinginan-keinginan mereka sendiri. Selama training banyak hal yang dibahas, mulai dari pengenalan te
ntang HAM, pengenalan kamera, pengenalan film, menemukan cerita dan interview, audiens, partisipatory analysis, practise analysis sampe shooting ke lapangan.

Disini saya akan share apa saja yang s
aya catat selama masa training disana. Tentu hanya point-pointnya saja. Semoga bermanfaat nantinya. Detail tentang PV ini bisa didownload di websitenya insight.

Pengenalan kamera dan cara menggunakannya
Jika kita ingin mengenalkan sebuah kamera kepada masyarakat lokal atau sebuah komunitas. Kita bisa mengenalkannya lewat sebuah permainan. Permainannya adalah merekam interview. Dalam permainan ini, kita ajarkan terlebih dahulu kepada salah satu komunitas bagaimana menggunakan kamera yang kita bawa, setelah itu coba lakukan interview kepada salah satu komunitas. Setelah kita memberitahu cara menggunakan kamera dan cara interview, orang yang kita ajarkan wajib memberitahukan kepada teman-temannya secara bergiliran. Setelah semuanya tahu dan mengerti, k
ita tanyangkan hasil-hasil interview tersebut melalui screen atau tv. Jika masyarakat lokal yang belum pernah mengenal kamera, ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan.

Permainan yang lainnya adalah, kita minta ke
pada beberapa orang komunitas untuk berbaris dan berdiri didepan kamera dan tidak berpindah-pindah tempat. Setelah itu kita rekam beberapa detik dan matikan (record off). Minta perserta untuk berkurang satu persatu saat tombol record off. Saat diputar atau discreening ini akan menimbulkan gambar seolah-olah perserta tersebut hilang satu persatu.

Partisipatory Video cenderung ke proses bukan kualitas gambar
PV tidak membutuhkan kualitas gambar yang bagus, tetapi bagaimana suara masyarakat lokal bisa diangkat atau diekspose. Jika menggunakan kamera profesional akan terlalu rumit dan banyak tombol-tombol kamera yang membingungkan. Karena dalam PV mulai dari proses pengambilan gambar, membangun c
erita itu semuanya akan dilakukan oleh komunitas tersebut. Kita hanya sebagai pendamping dan fasilitator.

Kesalahan adalah baik untuk seorang filmaker
Kesalahan bisa memacu komunitas untuk bertanya. Misalnya, mengapa tidak ada suaranya gambar yang kita ambil, mengapa gambarnya gelap (siluet), atau apapun yang menurut kita itu salah. Ini penting untuk perkenalan awal kamera dan bagaimana menggunakannya.

Belajar dari banyak pengalaman
Para komunitas akan semakin banyak
pengalamannya disaat mereka sudah mengenal kamera dan menggunakannya. Jika gambar yang diambil goyang, mereka sudah tahu harus menggunakan tripot. Jika tidak ada suaranya hasil-hasil interview, mereka akan mengecek sound disaat akan memulai interview dan lain sebagainya.

Jangan men-fastfoward saat screening
Jika kita melakukan screening terhadap komunitas, jangan sekali-kali kita men-fastfoward gambar-gambar atau hasil-hasil wawancara yang sudah kita ambil terhadap komunitas tersebut. Ini akan memberikan kesan b
ahwa gambar mereka dianggap tidak penting dan diabaikan.

Human Rights
Banyak info-info tentang HAM yang bisa didownload di website. Begitu juga dengan kesepakatan-kesepakatan atau perjanjian-perjanjian negara dan PBB mengenai Hak Asasi Manusia. Beberapa point penting dalam mebuat film adalah yang pertama Consent yaitu mengetahui secara sadar, film itu buat apa, cerita tentang apa dan sadar dampak film tersbut nantinya. Yang kedua adalah kesepakatan,
yaitu kesepakatan mengenai hasil film, kesepakatan pembuatan film dan sepakat film itu mau diapain. Kalau dalam konteks tentang kesepakatan dunia tentang masyarakat adat, Masyarakat adat berhak untuk mengetahui sebuah rencana apapun terhadap kampungnya dan berhak mengeluarkan pendapat dan harus dihormati.
Perbedaan hadiah dan hak

Ini adalah sebuah permainan dimana ada dua buah gambar yaitu gambar seorang teman memberikan hadiah kepada temannya dan seorang boss memberikan gaji kepada anak buahnya. Permainan ini adalah untuk membedakan mana yang sebuah hak dan mana yang kewajiban. Apa perbedaan dari keempat orang tersebut dan bagaimana rasanya.

Perbedaan kebutuhan dan hak
Ini adalah sebuah permainan menebak mana yang bisa disebut sebuah kebutuhan dan mana hak. Ada dua buah gambar, satunya sebuah gambar orang yang berada disebuah pulau yang banyak terdapat makanan dan orang tersebut tidak bisa kemana-mana. Satu lagi gambar orang yang sama, tapi ada satu orang lagi yang m
emiliki makanan yang berlimpah sementara orang yang satu lagi tidak memiliki makanan. Disini kita diharapkan bisa membedakan mana kebutuhan dan mana hak yang harus diterima. Orang yang tidak memiliki makanan jelas berhak untuk mendapatkan makanan karena orang yang satunya memiliki makanan yang berlimpah.

Sungai kehidupan

Salah satu permainan untuk mengenal kamera dan icebreaking adalah meminta kepada komunitas untuk mencatat tangga kejadian yang menurut mereka penting sekali. Setelah mereka mencatat tanggal tersebut urutkan berdasarkan angka terkecil dan tahun. Lalu gunakan dadu atau putaran angka untuk menunjuk tanggal mana yang harus ditanya oleh orang yang menulisnya berdasarkan angka yang didapat dengan menghitung dari angka paling atas. Setelah didapat angkanya, lakukan interview terhadap orang yang menulis tanggal tersebut dan setelah selesai semua dilakukan screening bersama.

Sebuah diagram Partisi
patory Video

PV adalah :
  • Ide, proses pembuatan, keinginan untuk membuat film dari sebuah komunitas
  • Diutamakan proses pembuatan dan melibatkan semua, bukan hanya sebuah produk
  • Bagaimana seorang filmaker membuat film bersama masyarakat
  • Pengambilan keputusan, tentang dampak bagi masyarakat dilakukan secara sadar
  • Dilihat dari bagaimana filmaker mendekati dan menyikapi film yang dibuat
  • Akan lebih baik hasil-hasil interview lepas dan apa adanya dan proses pembuatan film lebih ke kiri atas (proses dan kepada pemerintah). Akan tetapi tidak selalu tepat jika film digunakan sistem PV

Tujuan PV adalah sama-sama belajar dalam pembuatan film yang lebih bagus dan meperbanyak jaringan yang dibangun selama proses pembuatan film.

Dari materi-materi tersebut yang disampaikan selama tiga hari dan juga praktek-prakteknya setelah mendapatkan materi. Keesokan harinya kita langsung turun kelapangan yang sebenarnya untuk menerapkan apa saja yang sudah didapatkan. Siang harinya kami langsung ke lokasi pengungsian korb
an lumpur lapindo di Pasar Baru Porong. Disini kami mengajak beberapa warga pengungsi yang ada di Pasar Porong, Desa Besuki dan Desa Permisan untuk merekam keinginan dan tuntutan mereka. Membuat film tentang kehidupan mereka sendiri. Kami menginap di lokasi pengungsian selama tiga hari.

Tak bisa dipungkiri lagi, disaat sesama warga merekam suara mereka air mata tak dapat ditahan lagi oleh para pengungsi. Mereka menangis sejadi-jadinya karena nasib mereka yang lebih dari dua tahun ditelantarkan oleh Lapindo dan pemerintah. Rumah mereka sudah terendam oleh lumpur. Keluarga yang cerai berai. Sistem sosial yang berantakan. Kesenjangan ekonomi dan budaya. Sampai saat ini di Pasar Porong masih terdapat kurang lebih 500 KK para pengungsi. Jika setiap KK saja dirata-ratain memiliki 4 jiwa, berapa ribu orang pengungsi yang masih ada di Pasar Porong. Di Desa Besuki, para pengsungsi mebangun tempat tinggal darurat diatas Jalan Tol yang belum tenggelam. Dan yang lebih memprihatinkan adalah di masyarakat Besuki saat ini suaranya pecah dan tidak bisa bersatu lagi. Warga yang rumahnya sudah tenggelam suara dan tuntutan mereka berbeda dengan yang rumahnya belum tenggelam. Beberapa warga menyebutkan ada unsur kesengajaan dari pihak Lapindo untuk memecah belahkan persatuan sesama korban Lapindo agar mereka tidak bisa bersatu dalam menuntut haknya.

Mungkin jika anda berada disekitar mereka dan menginap dilokasi pengungsian anda bisa merasakan dan menyadari betapa kejam dan jahatnya sebuah konspirasi para pemegang kekuasaan dan para elit-elit politik negeri ini. Membiarkan puluhan ribu saudaranya sendiri. Rakyatnya sendiri terlunta-lunta, diabaikan selama bertahun-tahun di lokasi pengungsian. Tidak adanya jaminan kesehatan. Tidak adanya jaminan pendidikan bagi anak-anak yang ada dilokasi pengungsian dan tidak ada jaminan mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang layak seperti rumah mereka dulu sewaktu tidak ada lumpur lapindo. Sakit dan menyesakkan dada memang menjadi orang yang tidak didengarkan jeritan suaranya.

Bagaimana dengan pemerintah kita?? sampai sekarang tidak jelas apa yang akan dilakukan pemerintah kita ini terhadap korban lapindo. Beberapa bulan yang lalu Pengadilan di Jakarta memenangkan Lapindo atas gugutan para korban lumpur. Lumpur Lapindo dianggap oleh pemerintah sebagai bencana alam bukan kesalahan para pekerja Lapindo Brantas Inc. Sekarang di Jatim lagi sibuk dengan kampanye-kampanye Calon Gubernur Jatim. Besok tanggal 23 Juli akan diadakan Pilkada Jatim. Saat ditanya oleh beberapa ormas dan LSM mengenai kontrak politik jika menjadi gubernur apakan sanggup dan mampu membela para korban lumpur lapindo?? Tidak ada satupun dari beberapa calon tersebut yang berani menjawab secara pasti. Semua hanya bisa menebar janji-janji saat kampanye dan pasang iklan di tivi-tivi. Saya secara pribadi sangat jijik dan muak melihat kampanye-kampanye dan janji-janji mereka!!!

Sementara Salah satu menteri kita yang mempunyai dagu panjang dan berkacamata ini lebih senang mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk menikahkan anaknya daripada diberikan kepada para pengungsi korban lumpur lapindo. Sampe sekarang saya tidak habis pikir kok bisa orang seperti ini bisa diangkat menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat ???

Yahh.. akhir kata... beginilah kondisi negara kita yang tercinta ini.

Read More...

Saturday, June 28, 2008

Cara Adat Rejang yang sudah menghilang

Seperti halnya dengan suku-suku lain yang ada di nusantara ini, suku rejang juga memiliki adat dan budaya dalam melakukan beberapa kegiatan ataupun upacara adat. Salah satunya adalah cara untuk menikahkan anak dan adat untuk membayar nazar jikalau kita ingin membayar nazar atau hutang. Cara yang dilakukan adalah memakai sesajen untuk berkomunikasi dengan pada arwah-arwah atau penghulu-penghulu kita yang sudah pergi. Kita memberi tahu jika kita ingin membayar nazar aatu ingin mengadakan pernikahan anak kita. Sesajen ini biasanya dengan menyertakan ayam yang dalam bahasa rejangnya disebut mono' biing.
Pada zaman dahulu, sebelum memakai benih untuk menanam harus mengundang benih terlebih dahulu, yang disebut bekejai binia'. Benih ini ditaroh didalam tadeu (sejenis keranjang yang terbuat dari rotan atau bambu). Ngekejai (belum jelas apa/siapa ngekejai) memanggil malaikat jibril, israfil, mikail dan juga para dewa. Jika jumlah benih yang ada didalem tadeu semakin banyak jumlahnya berarti ada harapan hasil panen akan banyak dan ada rezeki nantinya. Namun jika benihnya tidak bertambah banyak jumlahnya mungkin pertanda hasil ladang kita tidak akan maksimal hasilnya. Jika ingin memotong bambu itu bagi orang rejang ada pantangannya, begitu juga jika ingin membuka hutan. Jika kita ingin membuka hutan kita harus menabeues, menyatakan maksud kita kepada yang menjaganya. tanea' talai istilahnya, tukang ngembalo tanea' dunionyo (penjaga tanah di dunia ini). Tuhan tidak hanya menurunkan sesuatu ke bumi ini tanpa ada yang menjaganya. Jika kita ingin membuka lahan disuatu area tersebut kita tancapkan sebuah pancang. Jika diarea yang kita beri tanda tidak menyahut atau ada pertanda yaitu misalnya berupa binatang mati atau berupa darah, berarti kita harus membatalkan niat kita untuk membuka lahan disana dan pertanda bukan rezeki kita disana, melainkan tanda bala' yang memanggil kita.
Dalam menanam padi, jika terdapat hama dalam tanaman tersebut seperti hama pianggang, senangeuw, luyo atau luyang dalam bahasa rejannya, mereka membasmi dengan memakai daun sirih dengan cara menyemburkan air daun sirih tersebut sewaktu sore hari menjelang maqrib. Dalam tiga kali semburan dalam waktu senja hama itu bisa pergi. Dengan kekuasaan Tuhan mahkluk ini bisa pergi. Pada zaman itu tidak mengenal pestisida ataupun racun. Karena mereka percaya, jika niat kita jelek untuk membasmi mahkluk Tuhan, maka timbal baliknya adalah bencana. "Sebab niat kita mau membasmi mahkluk Tuhan, sedangkan cara adat itu di jampi, nidau kalo dalam bahasa rejang, disusur darimana asalnya, baliklah ke tempat asalnya" terang pak salim kepadaku karena sekarang sudah banyak yang menggunakan racun pestisida dalam membasmi hama.
Jika orang rejang ingin membuat rumah untuk tempat tinggal, terlebih dahulu mereka memilih jenis kayunya. Misalnya kayu meranti, kayu semalo, kayu medang. Cara untuk mengambil kayu tersebut pun ada aturan adatnya, yaitu jika tumbangnya mengarah ke kepala air atau mengarah mata air, atau menusuk ke leko' itu tidak boleh diambil. Itu tandanya celaka dalam arti kita sebagai orang rejang. Rumah yang sudah kita bangun dan setelah kita huni kita akan jatuh sakit ataupun meninggal dunia. Meninggal dalam artian bukan karena rumah tersebut, tapi karena celaka atau musibah, banyak masalah yang datang. Kemungkinan hidup kita akan susah setelah itu karena kayu yadi membawa bencana. Bagusnya dalam membangun rumah adalah jika kayu yang kita ambil tumbangnya mengarah ke desa atau kampung. "Inilah 100% sebagai tanda-tanda yang bagus untuk kita membangun rumah" ungkap pak salim.
Sebelum adanya masa orde baru atau Rezim Suharto, ditanah rejang masih dikenal dengan sistem kepemimpinan yang dipimpin oleh Kepalo Banggo (Kepala Marga) atau raja bagi masyarakat rejang. Kepala Marga memegang dua pernanan, yaitu menjalankan roda pemerintahan dan juga menjalankan sistem-sistem adat yang ada karena dialah raja dari adat. Antara tahun 1977-1978 kepala marga ditanah rejang dihapus dan digantikan dengan sistem pemerintahan yang ada yaitu camat, kepala desa dan turunannya. Kepala marga diganti dengan Camat. Setelah sistem kepala marga diganti, masyarakat adat seperti ayam kehilangan induknya. Banyak cara-cara adat yang sudah tidak diterapkan lagi dan budaya-budaya serta kearifan lokal perlahan memudar. Orang-orang pemerintahan tidak paham dan mengerti akan cara-cara adat. Dan disebutkan bahwa inilah awal dari kehancuran budaya dan adat istiadat rejang yang ada sekarang ini.
Hilangnya adat istiadat, hilangnya budaya asli rejang juga memudarkan sebuah ajaran rejang mengenai pegong pakeui. Saat ini berbagi sudah tidak mau lagi sama banyak, menimbang tidak mau sama berat, menakar sudah tidak mau lagi sama rata. Siapa yang berkuasa dan gagah itulah yang memegang kekuasaan. Manusia dalam berprilaku sudah tidak terkontrol lagi yang akhirnya mendatangkan bencana bagi manusia itu sendiri.
"Itulah penyebab yang mendatangkan banjir, karena manusia membabi buta dalam membuka hutan. Tidak mengikuti aturan lagi, tebing dibuat lahan, nah itulah barangkali hutannya bakal rusak. Kalau zaman saya hingga bapak saya keatas, zaman nenek saya tidak pernah rusak. Dijamin tidak ada yang rusak hutannya" tegas pak salim yang membuat saya kagum akan semua penjelasan beliau.

Read More...