Saturday, November 18, 2006

6865 ha

6865 ha
Video sent by gekkostudio

Pusat Konservasi Gajah Seblat or Seblat Centre for Elephant Conservation (PLG Seblat) is the forest area designated to protect the wild animal, such as Sumatran elephant, hornbill, owa, etc.

The total area is 6,865 ha, surrounded by large oil plantation. Land clearing for oil palm plantations, illegal logging, and main road project construction have serious impacts on elephant’s habitat.

Se more on www.gekkovoices.com

Read More...

Friday, September 29, 2006

Jantung Sulawesi : Keindahan dan Kekayaan Alam yang Terancam

Keindahan dan kaya akan sumberdaya alam menjadi sebuah kebanggaan bagi masyarakat adat yang tinggal di beberapa desa di Kecamatan Seko dan Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Namun, itu semua akan menjadi sebuah ancaman bagi masyarakatnya sendiri. Terlebih jika pemerintah pusat dan pemerintah daerah tetap berpikir dengan pola lama, membuat keputusan dan kebijakan yang tidak memperhatikan kearifan masyarakat adat dan kesejahteraan masyarakatnya dalam peningkatan sisi ekonomi ataupun pendapatan asli daerah.

Adanya ancaman-ancaman terhadap kawasan inilah yang membuat aku dan teman-teman datang ke Seko-Rampi. Mendokumentasikan, berdialog langsung dan saling berbagi pengalaman dengan masyarakat lokal. Rencana akan masuknya investasi perusahaan-perusahaan tambang, izin HPH dan HGU untuk perkebunan membuat masyarakat adat Seko-Rampi bertanya-tanya, seperti apakah dampak negatifnya jika semua itu terjadi di wilayah adatnya.

Inilah sedikit catatan perjalananku selama dua puluh lima hari disana, mengunjungi beberapa Desa/Kampung yang ada di Kecamatan Seko dan Kecamatan Rampi.

Tanggal 24 Juli 2006 pukul 13.00 waktu Makassar aku tiba di Bandara Hasanudin, Makassar. Aku dan seorang temanku Yudi N. berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 10.00. Lama perjalanan dengan pesawat antara Jakarta-Makassar adalah dua jam. Karena ada perbedaan waktu satu jam antara Jakarta dengan Makassar maka kami tiba pukul 13.00, Makassar lebih cepat satu jam.

Setiba di Makassar kami langsung menuju kantor Jurnal Celebes di daerah Panakukang. Kami sudah janjian untuk ketemu dengan seorang teman dari JC Makassar yang juga akan ikut ke Seko-Rampi.

Setelah cukup beristirahat dan jalan-jalan sebentar mengunjungi pusat perbelanjaan di Kota Makassar, pukul 22.00 kami langsung menuju Palopo dengan menggunakan bus. Lama perjalanan dari Makassar ke Palopo sekitar tujuh jam dengan ongkos tujuh puluh lima ribu rupiah per kepala.

Sekitar pukul 06.00 kami tiba di Palopo. Setiba disana kami sempat beristirahat beberapa jam sambil berdiskusi dengan teman-teman dari Yayasan Bumi Sawerigading (YBS Palopo) mengenai masalah teknis perjalanan kami nanti. Dari YBS Palopo juga akan ikut satu orang untuk bergabung dengan kami. Kebetulan beliau juga merupakan pendamping masyarakat disana. Pukul 11.00 kami melanjutkan perjalanan ke Seko, yaitu daerah yang memang tujuan awal perjalanan kami. Untuk menuju Seko kami harus ke Sabbang terlebih dahulu untuk mencari ojek yang menuju Seko, tepatnya Desa Lodang. Perjalanan dari Palopo ke Sabbang diperkirakan sekitar satu jam dengan menggunakan angkutan kota.

Setelah belanja kebutuhan perjalanan kami untuk satu bulan, kami langsung berangkat menuju Seko dengan menggunakan ojek. Kami memesan tiga buah sepeda motor untuk menuju ke Seko. Sedangkan seorang teman dari Palopo membawa motornya sendiri yaitu motor honda wins. Aku kira ojek disini adalah motor-motor besar, mengingat kondisi jalan yang jelek dan berbukit. Tapi ternyata rata-rata motor yang mereka pakai adalah motor-motor jenis bebek, yang memang kebanyakan sudah dimodifikasi.

Untuk menuju Seko memang membutuhkan biaya yang cukup mahal, karena kita harus mengeluarkan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah untuk satu motornya. Waktu yang dibutuhkan untuk menuju Sabbang sekitar delapan jam. Cukup lama memang kita harus duduk diatas motor. Sedangkan jika berjalan kaki atau memakai kuda, membutuhkan waktu selama tiga hari dua malam.

Perjalanan menuju Seko sangatlah melelahkan, karena kondisi jalan yang sangat jelek, berbatu, tanah liat dan lumpur. Selain kondisi jalan yang jelek kami juga harus naik turun bukit, menyeberangi sungai serta melewati jalan-jalan setapak yang terkadang sangat curam. “Jalanan ini diluar akal sehat manusia untuk dilalui” ujarku kepada sang pengendara motor, sementara si pengendara hanya tertawa dan berkata “yaa.. inilah Seko, sudah puluhan tahun lebih kami tinggal disini, sampai sekarang belum juga dibangun jalannya. Ini sebenarnya jalan kuda”.

Perasaanku saat berada diatas motor sangat was-was, karena aku sepertinya merasakan perjalanan ini sangat beresiko tinggi. Bisa-bisa suatu ketika akan jatuh. Selain berat dengan dua orang yang berada diatas motor, motor kami juga berat dengan barang-barang yang kami bawa.
Tapi, untunglah para tukang ojek ini sudah terbiasa bolak-balik antara Sabbang-Seko. Jadi mereka sudah berpengalaman membawa motor menuju Seko. Perjalanan menuju Seko sangatlah indah, apalagi disaat kami sudah berada di ketinggian 1500 mdpl. Masyarakatnya menyebut daerah ini km 41. Dari sana sampai menuju Desa Lodang kami bisa menikmati sejuknya udara disore hari yang berkabut, melihat tutupan hutan yang masih lebat, melewati punggungan-punggungan dan terakhir melewati hamparan savana yang dibelah oleh sungai besar. Udaranyapun sudah mulai menusuk tulang-tulang kami. Begitu dingin...

Seko
Kecamatan Seko terdapat dua belas desa dan sembilan wilayah adat. Seko sendiri terbagi dalam tiga wilayah besar yaitu; Seko Padang, Seko Tengah dan Seko Lemo. Setiap desa ditiga wilayah besar ini jika secara adatnya dipimpin oleh Tubara, Tobara dan Tomokaka. Keberadaan masyarakat adat Seko juga telah diakui oleh pemerintah daerah Kabupaten Luwu Utara dengan adanya PP Kabupatan Luwu Utara No. 12 Tahun 2004 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian, Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat dan SK Bupati No. 300 Tahun 2004 Tentang Pengakuan Keberadaan Masyarakat Adat Seko.

Di Seko, kami hanya bisa mengunjungi wilayah Seko Padang, karena Seko Tengah dan Seko Lemo lokasinya sangat jauh dari Seko Padang.
Desa Lodang. Hamparan padang savana yang luas, berbukit dan sawah yang membentang ditengah lembah. Inilah pemandangan yang sangat mengesankan jika berada di desa ini. Apalagi jika kita berada diatas bukit yang berada disekitar kampung dipagi ataupun sore hari. Selama enam hari di Lodang, banyak pemandangan-pemandangan indah, aktivitas masyarakat, adat istiadat yang kami temui.

Oleh karena perubahan suhu udara yang sangat cepat, setelah dua hari disana aku sempat terserang flu berat. Disaat siang hari suhunya sangat panas menyengat. Sedangkan pada malam harinya berubah menjadi sangat dingin. Apalagi kami datang disaat musim kemarau.

Selama berada di kampung, kami sempat mendokumentasikan pembuatan kain/selimut dari kulit kayu (sumasa), dimana masyarakat setempat menyebut nama kayunya adalah kayu ani. Sebelum ada pakaian yang seperti sekarang, orang-orang tua dulu membuat pakaian, sarung atau selimut dari kulit kayu ini. Pembuatan kain dari kulit kayu ini cukup memakan waktu yang lama, karena mereka harus memukul kulit kayu tersebut sampai tipis dan halus dengan alat-alat yang berbagai macam ukuran yang terbuat dari batu dan diikat rapi disebatang rotan.

Kami juga ikut menangkap ikan di sungai yang jernih dan dingin yang mengalir disepanjang desa mereka. Berburu di padang savana dan berbukit dibawah teriknya matahari membuat kulit kami terbakar. Tidak heran jika pada esok harinya kulit dimuka dan tangan sudah mulai mengelupas satu persatu.

Selain kaya akan hasil-hasil pertanian, masyarakat Desa Lodang juga kaya akan hewan ternak seperti kerbau, sapi dan kuda. Salah satunya adalah Pak Murruna. Beliau dan dua saudaranya memiliki kurang lebih dua ratus ekor kerbau. Sore hari yang cerah kami mengikuti Pak Murruna mengembala kerbaunya di padang savana. Hewan-hewan ternak disini begitu sehat dan gemuk karena dilepas disana. Kerbau-kerbau di Seko maupun Rampi banyak dibeli oleh orang-orang Toraja untuk upacara adat di Toraja.

Masyarakat Desa Lodang dan juga masyarakat Seko pada umumnya jika dimalam hari selepas maghrib berkumpul bersama keluarga di dapur. Ini dilakukan karena Seko pada malam hari suhunya memang sangat dingin. Di dapur mereka mengelilingi tungku perapian sambil berdiskusi maupun bersenda gurau, sementara sang ibu maupun anak perempuannya ikut bergabung sambil memasak. Begitupun nasehat dan petuah-petuah orang tua, mereka sampaikan kepada anak-anaknya di dapur.

Keunikan di Seko, jika kita bertamu dan tidak ke dapur, maka kita dianggap tidak menghargai tuan rumah. Jadi, jika kita bertamu ataupun bertandang ke rumah masyarakat Seko, kita harus langsung menuju dapur. Budaya ini turun-temurun selalu dilakukan. Sesuai dengan arti “seko” itu sendiri memang. Bersahabat...

Eno, Desa Padang Balua. Tanggal 30 Juli 2006 kami melanjutkan perjalanan ke Desa Eno, yang juga merupakan ibukota Kecamatan Seko. Jarak antara Desa Lodang-Eno sekitar 7 km. Jika memakai ojek membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit.

Suasana di Eno memang berbeda dengan desa-desa yang lainya, lebih ramai dan sudah banyak warung-warung. Di Eno sekarang juga sudah ada bandara untuk pesawat kecil yang kapasitas penumpang enam orang. Masyarakat Seko jika ingin membeli kebutuhan rumah tangga, jika tidak turun ke Sabbang, mereka membelinya di Eno.

Fasilitas umum dan kantor pemerintahan di Eno juga sudah ada, seperti Kantor Camat, Puskesmas, dan Polsek . Ketika kami datang, sebuah bangunan sekolah SMU Negeri hampir selesai dibangun.

Disini kami diajak salah satu masyarakat Eno untuk melihat situs budaya yang ada di desa mereka. Situs budaya yang ada disana adalah tungku raksasa, lesung dan alu raksasa. Diceritakan, dulu memang pernah ada manusia raksasa yang tinggal dan menjaga kampung mereka. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan tungku dan lesung raksasa yang terbuat dari batu di desa mereka. Untuk tungku, ada empat buah batu yang membentuk tungku dengan tinggi kira-kira satu meter yang tertanam ditanah. Jarak antara batu satu dengan batu lainnya diperkirakan 2 meter. Sedangkan lesung itu sendiri diameternya sekitar 2 meter dan kedalam 2,75 meter. Sayangnya lesung ini sudah pecah dibakar oleh Masyarakat Bada’ di Sulawesi Tengah. Masyarakat Bada’ iri dengan kesuburan tanah dan kaya akan ternak di Seko. Mereka percaya yang menyebabkan semua ini adalah lesung yang ada di Seko. Maka mereka secara diam-diam mengumpulkan kayu diatas lesung tersebut dan membakarnya. Setelah api meyala dan memanaskan lesung, mereka langsung menyiramnya dengan air. Sementara alu-nya mereka bawa kekampung dengan dipikul oleh delapan orang. Niat mereka membawa alu ke kampung mereka, agar tanah dan ternak mereka bisa subur seperti di Seko. Tapi karena alu tersebut terlalu berat dan mereka juga sudah tidak kuat lagi memikulnya, ditengah perjalanan mereka membuang alu tersebut ke sungai mabubu. Sampai sekarang alu itu terendam di sungai mabubu.

Ketika kami berada di Eno, masyarakat Eno sedang bergotong royong untuk pembersihan kampung, mengecat pagar dan membersihkan lapangan. Ini dilakukan untuk menyambut perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke 62. Setiap tahun dalam perayaan hari kemerdekaan di kampung ini memang selalu ramai. Berbagai perlombaan diadakan, seperti sepak bola dan bola volly. Masyarakat dari kampung-kampung yang ada di Seko berdatangan untuk bertanding. Para pendatang ini akan tinggal di Desa Eno sampai perayaan tujuh-belasan selesai.

Olah raga yang paling favorit bagi para pemuda di Seko adalah sepak bola. Jadi tidak heran jika disetiap desa/kampung di Seko terdapat lapangan besar.

Desa Wono. Tanggal 1 Agustus 2006 kami berangkat ke Desa Wono tepatnya ke Dusun Tanete. Tujuan kami ke Tanete adalah untuk melihat musik bambu. Musik bambu merupakan musik tradisional yang ada disana. Semua peralatan musiknya terbuat dari bambu. Ada berbagai macam alam musik, berbagai macam ukuran dan berbagai macam pula bunyinya.

Karena masyarakat kampung Tanete masih banyak yang berkerja di ladang pada siang harinya, maka siang itu kami jalan-jalan ke Kampung Bana. Ada informasi dikampung ini masyarakatnya memelihara madu dan membuat gula dari tanaman tebu.

Ketika memasuki perkampungan Bana hatiku seakan terenyuh karena melihat perkampungan ini. Disini hanya ada beberapa rumah yang mengelilingi lapangan. Lokasi kampung ini juga berpisah jauh sekali dari kampung-kampung lainnya.

Karena masih penasaran kenapa masyarakat dikampung ini sedikit sekali dan lokasinya jauh dari kampung lainnya, aku bertanya kepada teman yang mengantarkan ku. “Mengapa masyarakat di kampung ini sedikit sekali penduduknya” ucapku. “Dulu jumlah penduduk di kampung ini lebih banyak daripada sekarang, tetapi sudah banyak yang mengungsi ke Mamuju Sulawesi Barat. Masyarakat Bana awalnya dari orang-orang yang mengungsi ke hutan karena kerusuhan DI/TII. Tahun 1983 masyarakat di Bana banyak yang keluar dari Bana karena susahnya akses untuk mengeluarkan hasil-hasil pertanian dan juga akses antar kampung yang masih sulit” kisah temanku itu. Terkadang hatiku masih tidak percaya ada masyarakat yang tinggal dengan keadaan seperti ini. Tapi inilah kenyataannya.....

Setelah melihat masyarakat Bana mengambil madu dikebunnya. Kami menyaksikan proses pembuatan gula dari tanaman tebu yang dilakukan secara tradisional. Masyarakat Seko hampir disetiap ladangnya memiliki tanaman tebu. Bisa dikatakan mereka tidak pernah membeli gula pasir yang dijual di warung-warung ataupun di pasar.

Pembuatan gula tebu memakan waktu yang cukup lama, mulai dari menebang tebu, mencuci, memeras tebu dan terakhir memanaskan air tebu hinggga menjadi gula. Masyarakat seko memeras tebu dengan menggunakan dua buah pohon yang diinjak oleh seseorang. Lamanya proses memasak air tebu hingga menjadi gula memakan waktu 5-6 jam. Setelah air tebu menjadi gula/kental, kemudian dimasukkan kedalam bambu dan didinginkan.

Malamnya kami kembali ke Tanete karena kami sudah janji dengan masyarakat tanete untuk shooting permainan musik bambu. Pukul sepuluh malam di gereja yang terdapat dikampung, orang-orang yang saat itu berada di dalam gereja mulai bermain musik dari bambu. Kebanyakan yang bermain musik ini adalah orang-orang tua. Suara dari musik bambu ini sangat khas, tapi sayang musik bambu ini sudah sangat jarang sekali dimainkan oleh masyarakat Seko. Tidak menutup kemungkinan musik-musik bambu ini akan ditinggalkan oleh masyarakat dengan masuknya alat-alat modern dan pengaruh budaya luar lainnya.

Desa Marante. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Desa Marante. Tujuan kami ke desa ini adalah ingin mengunjungi masyarakat Kampung Parahaleang untuk ikut memasang jerat anoa (Bubalus quarlesi) di hutan parahaleang. Dari Tanete kami berjalan kaki ke Paraheleang yang jaraknya sekitar 14 km.

Desa Marante tepatnya di Parahaleang merupakan desa yang berada dipaling ujung. Di Parahaleang inilah, kampung yang berbatasan langsung dengan hutan, dan merupakan kampung penyuplai kayu-kayu untuk wilayah seko padang. Masih banyak jenis-jenis kayu di kampung ini yang besar-besar diantaranya; huru, bitau, damar, polio dan jenis lainnya yang kesemuanya bebahasa lokal.

Setelah beristirahat di Desa Parahaleang dan berdiskusi mengenai teknis berburu dihutan, tanggal 3 Agustus 2006 kami berangkat menuju hutan parahaleang. Dalam berburu ini kami ditemani oleh tiga orang dari kampung parahaleang.

Sebelum berangkat kehutan saya sempat bertanya “berapa jam dari kampung kita akan berjalan?”, “hanya tiga jam berjalan kaki” ucap Pak Takohu yang ikut menemani kami.
Kami mulai berangkat dari rumah pukul sembilan pagi. Saat awal perjalanan dengan semangatnya aku berjalan sambil menggendong ranselku. Dua, tiga jam telah terlewati, tapi lokasi yang dituju belum juga sampai-sampai. “Masih jauh pak” ujarku kepada pak Takohu untuk meyakinkan kembali berapa lama lagi kita akan berjalan. Sambil berjalan santai pak Takohu menjawab “yaa.. lumayan jauh sih, nanti setelah ada persimpangan yang menuju ke Palu kita kekanan. Dari situ sudah dekat” ucapnya. Dalam hati aku menggerutu, “wah... kalo begini mah, mendingan deket-deket aja masang jeratnya pak...”

Stamina tubuhku sudah hampir menurun karena harus naik turun punggungan hutan parahaleang. Pak Takohu yang kelahiran tahun 42 itu tetap santai berjalan walaupun tanpa beralas kaki. Padahal hutan yang kami lewati banyak duri-duri rotan yang menghadang jalan. Walaupun tanpa kompas Pak Takohu dengan pasti melangkahkan kakinya.

Pukul 15.40 kami baru tiba dilokasi yang kami tuju. Tujuh jam lebih kami berjalan kaki, barulah kami tiba di sebuah pondok didekat sungai. Diareal yang sedikit terbuka dan datar ini akhirnya aku meletakkan ransel dan bisa bernafas dengan tenang. “Huhh... betapa jauhnya pak, lokasi memasang jerat anoa ini. Kalo aku, lebih baik nggak makan anoa daripada harus berjalan kaki sejauh ini” keluhku kepada bapak-bapak yang menemani kami. Seorang teman Pak Takohu yang mendengarkan keluhku langsung menjawab “kami biasanya bolak-balik dari sini ke kampung jika tidak dapat hasil jeratan”.

Sore pada saat hari pertama kami sampai, di pondok kami, singgah satu keluarga yang mau menuju Dusun Singkalong. Mereka berjalan sudah lima hari dari Palu, Sulawesi Selatan. Ikut juga dirombongan itu seorang ibu muda yang selalu menggendong anaknya. “Bener-bener seorang ibu yang tangguh” gumamku dalam hati. Diwajahnya terpancar ketabahan dan selalu tersenyum. Tidak pernah mengeluh walaupun sudah berjalan selama lima hari. Kami saja yang baru berjalan tujuh jam sudah memaki-maki hehehe...

Disaat kami beristirahat, Pak Takohu dan temannya langsung memasang pancing di sungai yang berada didekat pondok kami. Ada puluhan pancing yang dibawa Pak Takohu. Pancing itu baru akan dilihat pada pagi harinya. Selama tiga hari dua malam dihutan, ikan belut sungai hasil pancingan inilah yang menjadi lauk kami ditemani dengan sayur pakis yang tumbuh subur disepanjang sungai.

Desa Taloto. Tanggal 7 Agustus 2006 kami kembali melanjutkan perjalanan ke Desa Taloto yaitu Singkalong, desa perbatasan antara Seko dengan Rampi. Singkalong walapun secara administratif tergabung kedalam Kecamatan Seko namun adat dan bahasanya sudah menggunakan adat dan bahasa rampi.

Keesokan harinya kami diajak olah Pak Gerson untuk melihat kondisi kampung dan melihat lokasi ex HPH PT Kendari Tunggal Timber (KTT) serta lokasi tambang. Setelah sampai dilokasi ex KTT Pak Gerson menjelaskan semua permasalahan yang ada dikampung ini. Mulai dari kehancuran hutan yang dieksploitasi oleh KTT yang mengakibatkan erosi, banjir dan rencana masuknya perusahaan tambang emas ke kampung mereka. Pak Gerson juga menjelaskan ada beberapa hulu sungai yang terdapat dikampungnya diantaranya; sungai tadoyang, sungai lore’, dan sungai lengkong. Sungai-sungai ini mengalir ke beberapa desa di Seko dan Desa Mamuju, Sulawesi Barat.

Aku sendiri sampai geleng-geleng kepala disaat Pak Gerson menunjukkan lokasi hutan yang pernah dijarah oleh KTT. Hampir semua puncak gunung yang mengelilingi seko merupakan areal konsesi KTT. “Untung KTT berhenti karena didemo masyarakat, kalo tidak, habis sudah seko” ucap Pak Gerson kepadaku.

Setelah banyak mendapatkan penjelasan dari Pak Gerson dan melihat semua lokasi-lokasi camp yang digunakan oleh KTT kami melanjutkan perjalanan ke lokasi tambang emas. Tak lama berjalan dan menyusuri sungai kami sudah masuk ke wilayah tambang emas. Disaat aku menyusuri sungai kecil yaitu sungai ..... (aku lupa nama sungainya) aku dikejutkan oleh Pak Gerson “ lihatlah pasir disungai ini, ada butiran-butiran emasnya, kuning mengkilap”. Spontan aku langsung melihat dasar sungai yang aku injak, dan, waw... butiran-butiran emas berkilap-kilap karena terkena sinar matahari. Seolah tak terpacaya aku langsung mengambil pasir dengan genggaman tanganku dan melihatnya. Sekali lagi aku meyakinkan diriku dengan bertanya kepada Pak Gerson, “ini bener emas pak?” ucapku. “Iya.. itulah butiran-butiran emas, Cuma belum tahu apakah masih muda atau memang bukan emas” sambil tertawa Pak Gerson menggodaku. Pak Gerson juga bercerita bahwa beberapa minggu yang lalu ada orang Korea yang survey kesini dan bilang kepada masyarakat kalo disini tidak ada emas.

Hampir dua jam kami berjalan menyusuri sungai ini. Sepanjang sungai pula kami melihat butiran-butiran emas yang bersinar diantara pasir-pasir yang ada di sungai. Pak Gerson bercerita kepadaku bahwa Seko ini kaya akan sumberdaya alam, kayu dan juga bahan-bahan tambang. “Semua ada disini, kayu, emas, tembaga, uranium, nikel. Kami bangga dengan kekayaan alam yang kami punya. Tapi, ini juga yang akan menjadi ancaman bagi masyarakat Seko jikalau memang nanti perusahaan-perusahaan besar masuk ke kampung kami” keluh Pak Gerson kepadaku.

Disaat akan kembali ke kampung, Pak Gerson menunjukkan kepada kami letaknya Rampi. “Rampi ada dibalik gunung itu, jadi besok kalian harus melewati lembah-lembah itu, terus naik ke puncak gunung dan baru turun. Disanalah Rampi. Desa yang pertama yang akan kalian temui adalah Desa Tedeboe” jelasnya sambil menunjuk sebuah puncak gunung. Setelah mendengar penjelasan dari Pak Gerson, kami hanya memandang kosong puncak gunung yang sedikit tertutup kabut itu. “Kira-kira berapa lama kami akan berjalan kaki pak?” tanyaku kepada Pak Gerson. Dengan santai Pak Gerson menjawab “ya... mungkin dua tiga hari kalian tiba disana”.

Dengan langkah lemas kami melanjutkan perjalanan ke kampung. Dalam hati aku hanya berdoa, semoga besok kami bisa selamat dalam perjalanan dan bisa sampai ke Rampi. Semoga ... .

Read More...

Wednesday, September 20, 2006

Rinjani, the Hearth of Lombok Island

Rinjani, the Hearth of Lombok Island
Video sent by gekkostudio

West Lesser Sunda have lost more than 500 thousand ha forest since 1998. On Lombok, small island with only 5.000 km2, it does have big impact to the livelihood. In 15 years, springs has reduce from 702 to 262. If the forest degradation continue, what would happened on the next 15 year?

See more on www.gekkovoices.com

Read More...

Friday, September 1, 2006

Lak Coa Lak : Hidup Adalah Pilihan

"Lak Coa Lak : Hidup Adalah Pilihan"
Ade adalah seorang anak yatim piatu yang dari umur 9 tahun harus bekerja menyadap karet untuk menghidupi seorang nenek dan dua orang adiknya. Lak Coa Lak (bahasa daerah rejang, di Bengkulu) dalam bahasa Indonesia-nya berarti "Mau Tau Mau". Film ini aku buat ketika aku pulang ke kampung halamanku yaitu Arga Makmur, Bengkulu Utara tepatnya di rumah nenekku yaitu Desa Kali I.
Saat mendengar kisah tentang kehidupan Ade, aku seolah tak percaya. Anak seumur dia bisa menafkahi tiga orang keluarganya dan bisa mensekolahkan kedua adiknya.
Dari pukul 7.00 sampai pukul 15.00 setiap harinya dia harus bekerja menyadap karet. Hari-hari yang seharusnya ia habiskan bermain dengan teman-teman seumurnya terpaksa ditinggalkan demi sebuah harapan dan impian. Terkadang, setelah menyadap karet ia harus membersihkan sepetak kebun peninggalan ibunya dan memetik buah kopi jika memang pohonnya sudah berbuah. Karena umur nenek yang sudah tua, tidak bisa banyak bergerak dan melakukan perkerjaan berat, maka ia pun harus mengambil kendali untuk mengurusi rumah. Setiap pagi dan sore hari harus memasak dan menyiapkan makan untuk keluarga.
Terus berusaha selagi itu halal merupakan prinsip hidup yang selalu ia pegang. Walaupun hidup ini sengsara, tapi hidup memang harus dijalani. Mungkin ini sudah takdir Tuhan.
Dalam hati aku hanya bisa berdoa "semoga Tuhan selalu memberikan kemurahan jalan dan kelapangan hati" kepadanya. Anak seumur ini sudah harus berfikir dewasa dan bijaksana. Tetap rajin bekerja, tak pernah mengharapkan bantuan dan rasa iba dari orang lain.
Sementara, beribu-ribu kilometer dari tempatnya, seperti di Jakarta, Bogor, Surabaya, maupun kota-kota yang pernah aku kunjungi. Lelaki sehat dan bertubuh tegap, hidup hanya mengandalkan rasa iba dan kasihan dari orang lain. Hidup hanya bermodalkan gitar dan ocehan, terus meminta-minta kepada orang lain. Seolah-olah teramat gampang untuk mendapatkan uang.
Masih beruntungkah Ade? bisa bekerja di kebunnya, jika dibandingkan dengan anak-anak di kota yang berdiri di perempatan jalan?
Aku sendiri tidak tahu seperti apa itu hidup yang "beruntung"
Tapi yang jelas, film yang berdurasi 9 menit ini aku bikin bukan untuk membuat rasa penyesalan dan patah semangat, melainkan untuk memunculkan rasa optimis dalam menjalani hidup. Seperti yang dijalani oleh Ade. Walaupun dia harus bekerja dan tidak sekolah, tapi dia mempunyai impian besar, yaitu mensekolahkan kedua adiknya sampai tamat dan mempunyai kebun karet sendiri.
"Sampai kapankah anak-anak Indonesia harus menengadahkan tangannya di perempatan lampu merah. Di kereta. Di bus. Di angkot dan di warung-warung makan. Hidup dengan kemiskinan dan masa depan yang suram. Dan tak jarang juga menerima pelecehan seksual, penganiayaan".
"Sementara... Kepedulian akan sesama jauh dari harapan. Perbedaan status sosial kenyataan memang, sengaja diperlihatkan. Korupsi terang-terangan dilakukan. Undang-undang dan hukum dibikin hanya untuk mendapatkan uang dan juga memang menguntungkan yang punya uang".

Read More...

Thursday, August 31, 2006

PLG Seblat, Bengkulu Utara

PLG Seblat Bengkulu merupakan kawasan hutan dengan fungsi khusus yang luasnya hanya 6.865 ha. Ada banyak sekali permasalahan yang terjadi di PLG Seblat, mulai ancaman perkebunan kelapa sawit, perambahan oleh masyarakat dan illegal logging. Kawasan PLG saat ini posisinya berada ditengah-tengah perkebunan kelapa sawit skala besar. Ada beberapa perkebunan kelapa sawit yang mengelilingi PLG Seblat, diantaranya PT Agricinal, PT Alno dan PT Mitra Puding Mas. Luas masing-masing perkebunan ini ada yang mencapai 15.000 ha.
Berdasarkan survey BKSDA Bengkulu tahun 2002, di PLG Seblat diperkirakan masih terdapat sekitar 90 ekor gajah liar, 5 ekor harimau sumatera, tapir dan jenis satwa liar lainnya.
Gajah yang merupakan mamalia terbesar di Asia ini merupakan hewan yang pintar dan mempunyai daya ingat yang tinggi. Tidak mengherankan jika gajah mempunyai jalur jelajah yang tetap dan ingat akan sesuatu yang pernah mengganggunya. Berat satu ekor gajah dewasa bisa mencapai 3-4 ton. Sedangkan kebutuhan makannya dalam sehari adalah 10% berat badannya.
Satu ekor gajah minimal mempunyai range area sekitar 400 ha. Jadi bisa anda bayangkan berapa sebenarnya luas kawasan yang harus ada di PLG Seblat.
Alhamdulillah aku yang memang belum bisa melakukan apa-apa ini mempunyai kesempatan sebanyak dua kali untuk datang langsung dan melihat situasi dan kondisi satwa yang lucu ini. Melihat gajah makan dan mengunyah sesuatu dimulutnya dan melilitkan makanan dengan belalainya seakan melupakan semua permasalahan yang ada dipikiran. Apalagi disaat mengajak gajah-gajah ini mandi di Sungai Seblat.
Gajah tidak akan pernah mengganggu manusia jika manusia itu sendiri tidak mengganggu ketentraman hidupnya. Kejadian di Bengkulu, Riau dan juga daerah Sumatera lainnya yang memberitakan bahwa gajah adalah binatang buas dan liar yang menyerang manusia adalah salah. Gajah menyerang manusia karena keserakahan manusia itu sendiri. Menghancurkan hutan tempat habitatnya dan membangun perkebunan atau perkampungan di daerah jelajahannya merupakan kesalahan yang tak bisa dimaafkan bagai gajah itu sendiri.
Di Thailand gajah sangat dihargai dan bahkan dipuja. Begitupun di Aceh, hewan ini dahulunya hewan ini sangat diandalkan sebagai alat bantu perang melawan musuh. Dan banyak lagi sejarah-sejarah lainnya yang mengagungkan gajah. Tapi mengapa sekarang, hewan ini dianggap sebagai hama yang merusak, bahkan hewan pembunuh. Akankah kita membuat satwa-satwa gajah ini menjadi hewan yang hanya ada dalam cerita bagi anak cucu kita nanti... seperti cerita-cerita satwa besar dynosaurus.
Peduli akan sesama mahkluk Tuhan adalah sebuah sikap yang sangat terpuji.

Read More...

Sei Utik (1)

Secara administratif, Kampung Sungai Utik tergabung dalam Desa Menua Sei Utik di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Pusat Pemerintahan desa terletak di Kampung Sungai Utik dengan ibu kota kecamatan di Benua Martinus. Setelah membaca beberapa linteratur dan mendengarkan informasi dari beberapa teman, saya masih belum bisa membayangkan bagaimana keaadaan dan kondisi di Kampung Sungai Utik. Bagaimana sebenarnya kondisi hutan di yang masuk kedalam wilayah kampung tersebut. Akhirnya beberapa pertanyaan yang selama ini tersimpan didalam hati perlahan-lahan mulai terjawab setelah saya datang dan tinggal disana. Saya tinggal disana selama lima belas hari. Cukup banyak yang saya pelajari dan yang saya ketahui tentang kehidupan masyarakat Dayak Iban di Kampung Sungai Utik. Kekeluargaan dan keramahan masyarakat Kampung Sungai Utik membuat saya ingin kembali kesana disuatu saat nanti.

Berikut ini saya coba tulis catatan perjalanan saya ke Kampung Sungai Utik.
Pesawat kami berangkat dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Pontianak pukul 11.00 WIB. Pukul 7.30 WIB kita sudah berkumpul di Terminal Bus Damri Bogor bersama dengan masyarakat Sungai Utik dan teman-teman dari Pontianak.
Tiba di Pontianak kurang lebih pukul 12.45 WIB dan kami langsung menuju LBBT (Lembaga Bela Benua Talino) sebuah NGO yang berada di Pontianak. Kami menuju LBBT setelah makan siang dan langsung menginap disana selama semalam karena jadwal pesawat kami menuju Putusibau esok harinya.

Tanggal 27 Mei 2006 pukul 10.30 WIB dengan menggunakan pesawat DAS (Dirgantara Air Service) yang berkapasitas penumpang sebanyak 46 orang kami berangkat menuju Putusibau. Lama perjalanan dari Pontianak ke Putusibau kurang lebih satu jam. Selama perjalanan kita bisa melihat daratan Kalimantan dari pesawat yang masih tampak hijau membentang walaupun terlihat dibeberapa tempat sudah terdapat bekas tebangan. Dari pesawat juga kita bisa melihat bentangan luasnya Danau Sentarum yang merupakan salah satu danau terluas di Indonesia. Kebetulan cuaca dihari itu cerah, sehingga kami bisa menikmati pemandangan dari atas pesawat.

Kami tiba di Putusibau pukul 11.30 WIB. Dibandara sudah ada mobil yang menunggu kami untuk mengantarkan kami ke terminal bus. Mobil tersebut memang sudah dipesan seorang teman dari Putusibau. Dengan mobil kijang yang kami carter sebesar seratus lima puluh ribu rupiah kami langsung menuju terminal Putusibau karena takut akan ketinggalan bus. Maklum bus yang berangkat dari Putusibau menuju Sungai Utik pada jam-jam itu tinggal satu. Setiap harinya ada tiga buah bus yang routenya melewati Sungai Utik. Jika kita ingin menyewa mobil Dari Putusibau menuju Sungai Utik, kita harus mengeluarkan uang sebesar tujuh ratus ribu rupiah. Cukup mahal memang jika dibandingkan dengan naik bus yang ongkosnya hanya dua puluh lima ribu rupiah perkepala.

Dengan menumpangi bus, kami berangkat menuju Sungai Utik. Jalur bus yang kami tumpangi adalah Putusibau-Martinus, yaitu kota perbatasan antara Kalimantan dengan Malaysia jika sudah melewati Kecamatan Lanjak dan Badau. Selama perjalanan saya duduk dibangku tengah dekat jendela. Sambil mengamati pergerakan tanda panah di GPS (Global Position System) yang saya pegang. Sambil melihat GPS saya juga melihat pemandangan diluar dan para penumpang lainnya didalam bus. Karena perjalanan Putusibau-Sungai Utik cukup lama yaitu dua jam lebih, akhirnya saya pun terlelap tidur.

Saat mata saya terbuka ternyata bus masih melaju dengan kencang. Mata saya tertuju dikiri dan kanan jalan yang terdapat beberapa pohon besar dan juga saya melihat areal penambangan pasir dan bebatuan. Selagi asyik menikmati perjalanan didalam bus, sopir bus membelokkan busnya kearah kanan. Saya melihat dari jendela bus, ternyata ada sebuah tulisan “Selamat Datang di Desa Lauk Rugun” yang ditulis disebuah gerbang yang dibuat seadanya. Ternyata bus ini akan menurunkan penumpang di Kampung Lauk Rugun. Terlihat orang-orang di rumah panjang Lauk Rugun yang memperhatikan penumpang turun dari bus. Rumah panjang Lauk Rugun-lah rumah panjang tradisional pertama kali yang saya lihat secara langsung. Didalam hati saya hanya mengatakan “waw.. panjang sekali”. Selama ini saya hanya mendengar cerita dari teman-teman yang pernah ke kampug dayak dan melihat di televisi.

Selama perjalanan dengan bus menuju Sungai Utik kita akan melewati dua kampung yang merupakan wilayah ketemenggungan tujuh kampung “Jalai Lintang”. Yaitu Kampung Lauk Rugun dan Kampung Mungguk.

Sekitar pukul 15.00 WIB kami tiba di Kampung Sungai Utik. Disaat turun dari bus, saya merasa grogi dan agak gugup karena diperhatiin oleh masyarakat kampung yang berdiri diatas tangga rumah panjang. Seolah-olah mereka sedang bersikap hati-hati karena akan didatangi orang asing.

Kamipun diajak masuk kesalah satu bilik milik Pak Janggut. Pak Janggut ikut terbang bersama kami dari Jakarta. Pak Janggut dan dua orang temannya dari Kampung Sungai utik datang ke Jakarta beberapa hari yang lalu untuk menghadiri seminar dan diskusi terbatas tentang “Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Adat, Menuju Hutan yang Adil dan Lestari, Pembelajaran dari Kampung Sungai Utik” yang diadakan oleh Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), Forest Wacth Indonesia (FWI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Uni Eropa (EU) dan Universitas Indonesia.

Setelah menaroh barang-barang didalam bilik milik Pak Janggut, kami duduk di teras depan rumah panjang (yang bahasa ibannya disebut Rumah Panjei). Sambil menikmati teh hangat disore hari kami bercerita mengenai pengalaman perjalanan kami dari Jakarta ke Sungai Utik.

Ketika duduk santai di tanjok (teras paling depan rumah panjang, tempat jemur pakaian dan kayu bakar), ternyata ada beberapa penghuni rumah panjang yang sedang mengganti atap rumah panjang yang sudah rusak karena sudah lapuk dimakan waktu. Atap rumah pajang ini terbuat dari kayu yang dibelah tipis-tipis menggunakan parang yang ukurannya kurang lebih 15 x 40 cm (orang iban menyebutnya sirap). Jenis kayu yang digunakan untuk sirap biasanya kayu laban, bengkalis, janang dan meranti.

Melihat aktivitas masyarakat yang bergotong royong memasang sirap, sayapun langsung mengeluarkan kamera video saya yang masih tersembunyi didalam tas. Setelah mengambil gambar dari beberapa angle (sudut pengambilan) saya mengeluarkan rokok dari dalam saku celana dan ikut bergabung kembali dalam obrolan santai.

Disaat sedang asyik berada bersenda gurau datang seorang teman yang mengajak bergabung untuk minum air nau (sejenis tuak yang terbuat dari pohon nau yang diberi ragi dan diendapkan) dan air bram (tuak yang terbuat dari beras ketan yang diendapkan dan dibri ragi serta kulit pohon). Karena ajakan teman itulah kami pun ikut ke bilik depan rumah panjang. Ternyata satu-persatu orang yang dari rumah panjang datang membawa gelas masing-masing. Tua mudapun berkumpul di tanjok. Seorang teman yang duduk disamping saya bercerita “ini adalah tradisi kami, jika sudah ada nau maka kami akan datang dengan membawa gelas masing-masing dan minum beramai-ramai”. Sayapun menganggukan kepala karena kagum dengan kebersamaan mereka.

Berselang beberapa menit mereka mengeluarkan satu jerigen yang isi lima liter penuh air nau. Dan menyusul lagi orang yang dibelakangnya membawa satu ember hitam penuh air nau dan satu teko tuak atau yang sering kita sebut air bram. Saat itu juga saya terkejut, “ini semua yang akan kita minum??” gumam saya dalam hati.

Satu persatu gelas didepan kami dituangkan penuh air nau. Satu-persatu pula gelas itu disuguhkan didepan kami. Setelah beberapa orang kampung minum duluan sayapun disuruh mencoba. Gelas yang ada didepan saya yang sudah berisi penuh air nau itu saya ambil dan saya minum sedikit demi sedikit. Rasa air nau atau tuak sama seperti kita makan tapai yang terbuat dari ubi kayu. Cuma bedanya ini harus diminum, bukan dikunyah lalu dimakan.

Inilah pertama kali saya minum air nau dan tuak, dah kali pertama juga saya melihat minuman yang disuguhkan sebanyak itu. Ternyata saya minum tak selesai dengan meneguk satu gelas, disaat gelas saya kosong mereka selalu menuangkannya lagi dengan tuak. Dan terus menerus seperti itu. Rasanya kepala saya sudah mulai pusing.

Kami berkumpul dan minum bersama disaat hari sudah mulai gelap. Perkenalan dan obrolan terus berlanjut diiringi dengan minum air tuak. Setelah beberapa gelas air tuak yang kami minum ada salah seorang warga yang menyuguhkan daging goreng diatas piring. “Daging apa itu?” saya bertanya kepada teman yang duduk disebelah saya. Teman disebelah saya menjawab “ini daging ular, ayo cobalah. Kamu makan daging ularkah?” Dengan spontan saya saya menjawab “saya belum pernah makan daging ular, tapi saya akan coba”. “Rasa daging ular tak jauh berbeda dari rasa ikan goreng” lanjut saya setelah mencicipi daging ular yang ada didepan saya.

Teman yang duduk didepan saya berkata “inilah cara ngantor kami disore hari, bawa gelas dan duduk ramai-ramai. Gelas dan rokok adalah ATK nya. Kalian yang baru datang harus magang dulu, sering duduk disini dan minum biar bisa jadi pegawai”. Setelah mendengar ungkapan itu saya dan teman yang lainnya tertawa. Didalam hati saya mengatakan “begitu ramahnya mereka menerima tamu, berbeda sekali apa yang saya duka tadi siang ketika baru sampai”. Diajak duduk bersama-sama dan diselingi minuman yang menghangatkan perut.

Read More...

Sei Utik (2)

Mungkin anda tidak akan percaya jika diameter pohon foto diatas ini adalah sekitar 2 meter. Foto ini adalah bener adanya. Inilah pohon terbesar dan bernilai tinggi yang pernah kali aku lihat. Di Sungai Utik banyak sekali jenis pohon-pohon komersial yang aku temui selama memasuki kawasan hutan adat yang selalu mereka jaga.

Ini sudah cukup meyakinkan diriku bahwa hukum adat sebenarnya lebih efektif dalam menjaga kondisi hutan di Indonesia. Sudah banyak bukti bahwa sebenarnya orang-orang yang merusak dan menghancurkan hutan-hutan Indonesia adalah orang-orang yang berdedikasi tinggi, pintar dan bermodal. Intelektual, jabatan dan kekuasaan hanya digunakan untuk mengeruk isi bumi dan kekayaan alam lainnya untuk kepentingan pribadi dan bersifat sesaat. Sementara masyarakat sekitar hutan tetap miskin, tertinggal, dibodohi dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka seakan-akan lemah karena ketidaktahuan... Dan inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang berhati picik untuk menindas...

Itu hanya sekedar selingan kok, jangan terlalu dipikirkan.
Aku akan melanjutkan kembali tulisan mengenai Sei Utik. Selamat membaca...

Rumah Betang
Rumah betang atau rumah panjang adalah rumah pemukiman penduduk yang didalamnya terdapat beberapa keluarga dalam bilik-bilik. Rumah ini menjadi identitas adat dan harkat hidup masyarakat iban pada umumnya dimana kegiatan adat istiadat dan kehidupan sosial kesehariannya dilakukan. Kehilangan rumah ini mengartikan hilangnya akar budaya masyarakat setempat.

Di Kampung Sungai Utik terdapat rumah panjang yang terdiri dari dua puluh delapan bilik dengan panjang keseluruhan rumah panjang sekitar 180 meter. Setiap bilik dihuni rata-rata 2-4 KK yang dihuni secara terun-temurun dari keluarga pertama. Satu buah bilik yang ukurannya kurang lebih 6 x 15 m dibagi tiga buah ruangan besar. Bilik satu dengan bilik lainnya hanya dipisah dengan sehelai papan dan setiap sekatan dibuat pintu untuk akses keluar masuk antar bilik. Pintu antar bilik ini dulunya digunakan jika keadaan darurat misalnya diserang suku lain, kebakaran dan juga bisa melihat penghuni disebelah jika terjadi apa-apa.

Ada beberapa kategori bagian dalam rumah panjang. Pertama adalah tanjok, bagian paling depan sebelum kaki lima. Tanjok adalah tempat terbuka berukuran enam meter kali panjang rumah, biasanya digunakan sebagai tempat menjemur pakaian dan kayu bakar. Kedua, kaki lima, merupakan bagian yang menyerupai teras yang berukuran sekitar satu meter kali panjang rumah. Biasanya digunakan sebagai tempat bersantai dipagi atau sore hari. Ketiga adalah ruang terbuka di depan bilik, memanjang mengikuti bentuk rumah dengan lebar sekitar 6 meter. Teras besar dan panjang di depan bilik ini menjadi setral aktivitas warga rumah panjang: tempat anak-anak bermain, remaja berkumpul, lelaki dewasa membahas masalah, wanita mengerjakan kegiatan keterampilan membuat tikar, keranjang dan perkakas rumah lainnya. Di teras ini juga terjadi transfer pengetahuan orang dewasa kepada anak-anak dalam suasana pertemuan keluarga yang santai yang hampir dilakukan setiap malam sebelum tidur. Selain itu juga teras ini menjadi tempat para pemuka adat melakukan rapat-rapat penting. Keempat, kamar atau bilek yang merupakan sebuah ruangan seluas 4 x 6 meter. Di sinilah para anggota keluarga tidur, tidak ada dipan atau tempat tidur, tetapi beberapa ruangan kecil dari kerudung kelambu berukuran tinggi-lebar-panjang 1x1x2 meter menjadi tempat tidur privat untuk tidur. Laki-laki dewasa menempati kamar di loteng, walaupun sering juga ada yang tidur bersama di ruang tidur keluarga. Kelima, dapur yang menyatu dengan ruang makan. Disini diletakkan tungku dan peralatan dapur; setelah makanan siap, dihidangkan dan disantap bersama di ruang ini. Keenam, bagian belakang, merupakan bagian tambahan berupa kamar mandi dan tempat cuci. Gudang beras dan peralatan pertanian biasanya disimpan di loteng, atau digantung di atas dapur.
Acara-acara adat di kampung ini juga dilakukan di rumah panjang. Ada beberapa acara adat yang dilakukan di rumah panjang, diantaranya; gawai (syukuran setelah panen), ngetas ulit (membuang pantang orang yang sudah mati), brungsur ja' mimpi (membuang pantang dari mimpi), bedukun (menyadarkan orang yang kemasukan/berobat), ngampun bedara' (upacara tolak bala'), ngampun tutup rumah (menutup seluruh rumah panjang secara adat). Menutup rumah panjang dilakukan jika ada yang meninggal secara aneh atau ada seekor burung tertentu yang melewati (masuk) rumah panjang, lamanya bisa tiga harian. Orang-orang tidak boleh keluar masuk rumah panjang.

Rumah panjang memiliki dua pintu utama di sebelah kanan dan kiri sebagai gerbang utama. Ketinggian rumah dan dua pintu gerbang ini berguna untuk mengantisipasi serangan musuh yang datang. Dalam kondisi damai sekarang, seperti di Sungai Utik, hampir disetiap bilik mempunyai tangga kecil untuk naik ke rumah panjang yang terletak di depan bilik.

Umur rumah panjang yang ada di Sungai Utik saat ini sudah dua puluh tujuh tahun. Rumah panjang yang ditempati sekarang merupakan rumah panjang yang keenam. Mereka dulunya selalu berpindah-pindah dan akan membangun rumah panjang untuk menetap walaupun tidak terlalu lama. Proses pembangunan rumah panjang mulai dari mengumpulkan bahan sampai menampakkan wujudnya seperti sekarang memakan waktu lima tahun lebih. Tiang-tiang utama rumah panjang terbuat dari kayu belian/kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang lebarnya antara 20-30 cm dengan ketebalan antara 5-10 cm. Jaman dahulu para tetua masyarakat Sungai Utik membuat tiang dengan menggunakan parang/golok. Dahulu mereka belum mengenal chainsaw untuk memotong dan membelah kayu ulin. Kayu ulin kebanyakan mereka cari didalam sungai. Kayu ulin yang sudah tumbang dan terendam atau terbawa air sungai mereka angkut dan dibawa ke kampung.

Saat ini untuk menemukan jenis kayu ulin disekitar kampung sudah sangat sulit karena sudah termasuk jenis kayu yang sangat langka. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa mereka tidak bisa menambah bilik di rumah panjang jika keluarga mereka bertambah.

Read More...

Sunday, August 20, 2006

Teluk Jakarta, Under Pressure

Teluk Jakarta, Under Pressure
Video sent by gekkostudio

More than 14,000 m3/day of household garbage place the Jakartan under threat. During the period 1999-2002, the fisheries production dropped significantly to 38%. If everything is already polluted… is the judgement day will come soon?

© P4W/Gekko Studio 2006

Read More...

Friday, August 18, 2006

DARI PORONG DENGAN DERITA - Episode 3. Penantian Bu Kuswarti

Kembali di Astreanya Oni, kami merayap menuju pasar baru Porong. Sebuah pasar yang sudah di huni oleh pengungsi dari desa-desa yang terendam oleh lumpur. Jatirejo, Kedungbendo, Talangangin sebagian dari yang kuingat. Lokasi ini adalah lokasi pasar baru yang belum sempat dibuka oleh pemda, sehingga pengungsi yang 6.000 an jiwa itu dapat tidur lebih baik di lokasi-lokasi toko dibandingkan di tenda-tenda biru pengungsi yang umum jika ada bencana di republik ini. Untuk meredam keresahan warga, Lapindo pun menyiapkan komedi putar untuk anak-anak pengungsi, mushola, kamar mandi demikian juga jatah nasi bungkus setiap harinya. “yang itu untuk ML buat pasutri, mas” kata Oni menunjuk bilik-bilik kecil yang berkorden.

Tak jauh dari tempat yang semalam digunakan oleh relawan dan organizer untuk berkonsolidasi dengan para pemuda, kami berhenti. Aku melihat segerombolan anak kecil yang sedang bercatur. Anak-anak balita berlarian diseputar ibunya yang sedang duduk-duduk di beranda. Musik dangdut berkumandang, dibelakangi oleh sekelompok anak muda cengengesan yang duduk di bawah spanduk ala cover dewa bertuliskan “laskar cinta porong”.

Suara adzan duhur menyapa ketika kami berjalan ke tempatnya bu Kuswarti (35 tahun) di blok P no 16. “suami saya sedang kerja mas, nyambung hidup. Kalau saya ini sudah ndak kerja lagi, pabrik kerupuk tempat saya kerja kelelep lumpur”, katanya. Sambil melanjutkan bahwa 2 anaknya yang kelas 2 smp dan 2 sd hampir 3 bulan ini tidak melanjutkan sekolah lagi karena sekolahnya juga tutup. “ya, hanya sebagian anak pengungsi saja yang sekolah, yang lainnya tidak” katanya melanjutkan pertanyaan saya bahwa ada anak-anak berbaju putih merah bersepeda di blok depan. Seperti air yang bertemu sungai, iapun menumpahkan unek-uneknya padaku dan kawanku Torry. “meskipun tampaknya hidup di sini enak, anak-anak pada ga betah lho mas, anak saya yang kecil dari pagi sampai magrib main terus, yang besar ga mau makan, ga enak katanya, nanya terus sama saya, kapan bu kita pulang kerumah, kapan bu ….”. Sambil membayangkan gigitan nyamuk semalam yang menyergapku, iapun berlanjut bertutur “saya hanya ingin pulang mas kembali lagi ke rumah saya bareng dengan tetangga-tetangga saya yang dulu, pokoknya Lapindo harus ngebangun lagi langgar di depan rumah saya dan membangunkan lagi rumah saya dan rumah tetangga-tetangga saya di Jatirejo”

Perpecahan warga di pengungsian saat ini sangat mengkuatirkan. Sebagian sudah mau menurut dengan keinginan Lapindo, demikian Torry menjelaskan padaku. Seperti tertera dalam draf pernyataan yang dibuat manajemen Lapindo, warga diiming-imingi untuk mau menerima santunan rumah kontrak 5 juta dan menyetujui uang jadup 300 ribu perbulan selama 6 bulan. Tawaran itupun sudah diambil oleh sebagian kecil dari warga yang pasrah.

“Lalu setelah itu apa? Lapindo saja belum memberi kejelasan bagi ganti rugi warga” jelas Torry kepadaku di dalam mobil ELF yang membawa diriku pulang. Di batinku, masih jelas terbayang nasib bu Kus dan ribuan warga yang telah dan bakal hidup di pengungsian. Hingga saat ini solusi Lapindo belum selesai, mau dibuang ke laut, injeksi ke dalam perut bumi maupun dibuang ke lokasi lain tidak ada yang mengerti. Entah bagaimana nasib warga yang berada di sekitar lokasi semburan untuk selanjutnya. Jika benar yang dikatakan oleh Torry, maka 13 juta penduduk di Surabaya dan sekitarnya bakal terkena dampak langsung maupun tak langsungnya. Musim hujan sebentar lagi mendekat, bencana oleh kelalaian manusia ini akan ditambah oleh murka alam musim penghujan. Tak mampu aku membayangkan. Aku hari ini pulang, tetapi potret derita warga masih terpatri dalam hati. Aku berujar aku ingin kembali.

Read More...

DARI PORONG DENGAN DERITA - Episode 2. Desa Siring yang Berontak

“Mas, wong Siring durung merdeka, dijajah karo lumpur panas” kata seorang warga yang sedang memasang bendera setengah tiang, sambil tersenyum kecut. Ironis, di tengah warga masyarakat lain merayakan 17-an, di desa Siring malah berduka. Belum jelas apa yang dapat diharapkan dari LAPINDO. Masyarakat tetap dilanda kecemasan tentang nasibnya. Masih teringat dalam rekaman ingatan, lokasi makam yang terendam lumpur dengan nisan yang bisu.

Pagi ini, masyarakat akan turun aksi, memblokir jalan raya Surabaya-Malang pas di dekat fly over tol Porong. Tidak jelas siapa yang mengkomando, tiba-tiba massa menyerbu jalan. Dari arah Surabaya, bis dihentikan, motor-motor tiba-tiba disuruh berbalik, demikian juga dari arah Malang, sambil membawa spanduk dan bangku-bangku lapak seadanya, masih terlihat truk barang yang terpaksa berhenti mendadak. Massa kemudian bergerak, anak-anak, ibu-ibu, pemuda sampai orang tua berjalan. Spanduk dibentangkan, teriakan dan yel-yel penolakan dan hujatan kepada Lapindo dikumandangkan. Aura kekesalan dan frustasi diteriakkan. Tiba-tiba terlihat olehku dari arah Surabaya kereta api yang dihentikan oleh massa. ‘baru kali ini aku lihat aksi yang menghentikan kereta’ batinku. Satu truk polisi pun datang, sambil bersuara di TOA seorang anggota mengingatkan warga masyarakat untuk memadamkan api, mengingat ban dan spanduk yang dibakar hanya berjarak kurang dari 10 m dari warung bensin. “ayo, boleh demo tetapi harus tertib, api tolong dimatikan” katanya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, sekelompok polisi-polisi muda menenteng senapannya.

Tak terasa 2 jam berlalu, matari panas Surabaya makin terik. Jalan tetap diblokade. Sementara lalulintas masih tetap lumpuh. Kereta sudah diperkenankan untuk bergerak kembali oleh massa. Massa makin menumpuk, orang-orang desa lain sudah bergabung, tak kurang 500 orang tua muda tumpah di jalan. TV nasional dan media lain pun sudah turun meliput. Dari teras di lantai dua milik seorang warga, aku mengambil GV massa. Masih terbayang wajah pendemo yang bertelanjang dada bertuliskan korban lapindo dengan muka dilumuri lumpur abu-abu.

Mendekat ke waktu 11.10, tiba-tiba terdengar di TOA suara berlogat jawa milik pak polisi, “bapak-bapak, keinginan warga sudah terpenuhi, sekarang wakil LAPINDO sudah datang, jam 1 ditunggu di kantor Kecamatan”. Massa kemudian melunak, strategi dipersiapkan untuk memilih siapa-siapa yang perlu datang ke kecamatan. Trebor, seorang relawan lainnya mendekat ke sisiku, berbisik “ini sudah disetting mas, lihat saja nanti tuntutannya pasti diperlemah, ini ada yang main. Ada oknum warga yang cari untung”. Sambil terus mengisap kreteknya dia melanjutkan penjelasannya tentang adanya perpecahan antara warga Siring pendatang dan warga asli; teori konspirasi penyuapan oleh Lapindo; kesalahan prosedur waktu ketika Lapindo mengebor, hingga informasi yang menyebutkan bahwa potensi kandungan minyak bumi di blok Porong yang bakalan lebih besar daripada di blok Cepu.

Read More...

DARI PORONG DENGAN DERITA - Episode 1. Desa Hantu Kedung Bendo

Matari pagi baru saja merekah, ketika aku duduk di sadel motor Oni seorang relawan WALHI yang sudah hampir 3 bulan ini nyanggong di lokasi pengungsi Lapindo. “ini harmal ke 78, sejak kebocoran tersebut terjadi” sahutnya bercerita memecah kesunyian ketika kami berdua terguncang-guncang di motor astrea lawas miliknya. Saat itu kami menuju desa Kedung Bendo yang merupakan daerah terdekat dengan semburan. Rig masih berdiri angkuh ketika aku menyiapkan posisi tripod. Ternyata asap dan lampu yang sedari malam terlihat dengan jelas berasal dari rig tersebut.

Di tanggul yang memisahkan lokasi semburan dengan jalan tol, sekarang aku berdiri, mengarahkan pandang ke selatan aku dapat melihat mobil yang merayap di tol Surabaya-Gresik di bawah. Terlintas di benakku, bagaimana kalau tanggul setinggi 6-7 m ini jebol, tentunya mobil-mobil di bawah itu langsung terendam dan kota-kota seperti Sidoarjo bahkan Surabaya dan sekitarnya langsung lumpuh. “Mas, lihat itu lokasi pabriknya Marsinah” kata Oni, menunjukkan satu deretan pabrik yang hanya terlihat atapnya saja. Menurut informasi, hingga hari ini lebih dari 19 pabrik berhenti operasi karena tenggelam, entah nasib buruhnya yang tiba-tiba saja kehilangan pekerjaan.

Pagi itu kesibukan truk-truk 10 ton memulai aktivitas rutin, mengangkut lumpur pekat di satu titik di timur terlihat excavator bekerja menyendoki lumpur. Tidak terlalu jelas mau dibawa kemana lumpur-lumpur itu kemudian, opsi membuang ke kali Porong ditentang oleh kalangan akademisi dan LSM, diinjeksi balik ke dalam tanahpun tak mungkin karena tekanan semburan yang lebih kuat. Wacana baru dari seorang pintar dari Belanda untuk memperkuat tanggul dengan polimer pun bukan tindakan mencari solusi, hanya tinggal menunggu hari. Entahlah..

Kembali kami menyusuri jalan, berpapasan dengan truk-truk besar. Di sebelah kananku terlihat lokasi masjid yang tenggelam separo. Di depannya bahkan sebuah rumah hilang sebagian tembok dan atapnya. Itulah desa Kedung Bendo, desa yang sekarang sudah sunyi karena penduduknya sudah diungsikan. Di tembok-tembok rumah berlumpur dengan mudah aku temukan tulisan-tulisan penduduk desa. “ Lapindo Ju***uk”, “Bakrie harus dipenjara”, “Lapindo Brantas harus diberantas” dan tulisan-tulisan lain senada yang meminta pertanggungjawaban LAPINDO.

Bau lumpur bercampur sulfur masih meninggalkan sisa. Masih terlihat olehku, blus bodol dan handuk yang masih menggantung di jemuran, karena si empunya sudah entah kemana. Demikian juga tanaman penduduk yang daunnya sudah lenyap demikian sisa tanaman pisang yang daunnya menguning, seperti mengamini kekalahannya dengan lumpur. Tak ada kehidupan, yang tertinggal hanya bisu, kesunyian yang mencekam. Hanya satu plang berwarna kuning tersisa: “Hati-Hati Lumpur Panas, Anak-Anak dilarang Bermain. ttd PT LAPINDO BRANTAS inc”.

Read More...

Friday, April 21, 2006

Rinjani, the Hearth of Lombok Island

Rinjani, the Hearth of Lombok Island
Video sent by gekkostudio

West Lesser Sunda have lost more than 500 thousand ha forest since 1998. On Lombok, small island with only 5.000 km2, it does have big impact to the livelihood. In 15 years, springs has reduce from 702 to 262. If the forest degradation continue, what would happened on the next 15 year?

©WWF/Gekko Studio 2006

Read More...

Friday, February 3, 2006

5x5 Bukit Lawang

5x5 Bukit Lawang
Video sent by gekkostudio

The film is based in Bukit Lawang, where devastating floods caused over 239 deaths in 2003. The flooding was attributed to illegal logging in the surrounding Gunung Leuser National Park. Since the floods, this village community has been involved in voluntary forest governance enforcement schemes in an attempt to curb illegal logging in the National Park. The community has also started to recognise the important role of ecotourism in the preservation of their surrounding forests.

Eco-Tourism replaces Illegal Logging:
The story of Bukit Lawang, Sumatra, Indonesia

It had rained heavilly for two days. Few of the locals along the Bahorok river in northern Sumatra showed much concern. The river communities of Indonesia have grown familiar with flooding during the rainy season. This time things would be tragically different. On the night of 2nd November 2003 a massive flash flood swept through and devastated settlements along the banks of the Bahorok. The epi-centre of the tragedy focussed on one small village, the tourist resort of Bukit Lawang.

Sometimes the issues surrounding climate change, deforestation and illegal logging can seem so inordinately vast: the human side - the personal story - can often be forgotten. Occasionally these global problems of deforestation
impact themselves in one tiny area: and suddenly, in a microcosm, all the devastation and horror has a very real human face. The village of Bukit Lawang inadvertently found itself thrust into such a position.

Bukit Lawang had originally been a small village on the edge of an oil-palm plantation, but since the founding of the Gunung Leuser national park and the establishment of the world famous orangutan rehabilitation centre a mile upstream, the village had prospered and thrived through tourism. In the space of a few hours that tragic night Bukit Lawang in effect completely dissapeared: 400 houses, 3 mosques, 8 bridges, 280 kiosks and food stalls, 35 inns and guest houses: all had gone. 239 villagers, as well as five tourists, were dead. 1,400 locals found themselves displaced.

When the worst of the flood water had abated and the desperate search for survivors finally called off, the villagers found a curious sight surrounding them. Thousands of massive logs mixed with rocks and mud stood in ugly heaps along the valley, the riverbank and the site of the village. Some of these piles stood more than two stories high. It suggested the tragedy was not natural but caused by logging in the national park. It was discovered, although stringently denied by the authorities, that loggers had felled several thousand trees in the upper reaches of the mountains and had been storing them in an artificial dam, before sending them downriver. After the heavy rainfall, landslides from deforested parts of the park tumbled into the swollen river: the Bahorok, beyond its holding capacity abruptly burst its banks. The flood water roared downstream carrying with it its deadly cargo of chainsawed logs and timber, which acting like battering-rams, smashed and flattened everything in their path.

The clean-up operation cleared away the accumulation of debris, aid organisations and local authorities constructed new bridges, reinforced the banks of the Bahork and built a new housing complex on the higher ground. Slowly things are adjusting back to an air of normality, thanks largely to the strength and spirit of the community. Village members share whatever aid they recieve and work together without question. But despite the rich, often cheerful spirit of the survivors – a deep sadness remains hidden just below the surface. It’s the fourth year since the flood and Rahmad Nasution will be thinking about his life before the tragedy: his daily routines, his family that he will never see again, the others who were lost in this remarkably close community. Rahmad’s memories are unequivocally painful

“...I tried to save the older people, but I was trapped in the middle of the river, it was very dark and I still heard the crying for help. I had no chance to save my family, my sweetest people, my child, my supersede, I was not strong during that time...the day after, I found my sister, my wife’s-parents, then my wife, that is the unforgettable moment, it will be my wound...I thank God he gave me my life, I pray to him for the people who died...”

Since the disaster, something unique has occured in the vicinity of the Bahork river which could well send a message to other areas within Indonesia. The strength in community has led to a motivation among many villagers to finally put an end to illegal logging in their forests. Through the aid and suprevision of YLL, an NGO based in nearby Medan, the communities themselves are forming initiatives and organisations to help stop the practice of illegal logging in the national park. In the nearby village of Penampean local people have joined a volunteer ranger unit which patrols the forest.

“...the history of ranger in Penampean started after Bukit Lawang flood, triggered by YLL we established a ranger organisation to protect the forest. Many of my friends had been involved in illegal logging activities but now they think again: our forest is nearly broken, people have had a negative impact, so our ex-logger friends have joined with the rangers to curb illegal logging in Gunung Leuser national park. Our purpose now is to establish eco-tourism in the vilage...”

Bukit Lawang has slowly rebuilt itself since the flood. Along the riverside where women of the village launder, whilst their children play and totter in the slow swirling shallows, there are once again small restaurants and food stalls and guest houses. The few remaining hotels are also opening and recieving tourists. The orangutan rehabilitation centre has been repaired and already visitors queue at the river crossing to see the great red-haired ape of the Sumatran rainforest. Bukit Lawang is open once more.

“...regarding eco-tourism actvities we started to organise meetings to make the community aware of the importance of eco-tourism, such as forming groups of (forest) guides...the impact of the Bahorok flood has not been good on the tourist industry, if we compare today with the past, less tourists have come than before, so our strategy is to promote the benefits of eco-tourism ...this is being implemented in daily life...eco-tourism will protect the daily life of the community as well as the national park...” said Didi Charamsar, executive director YLL.

Read More...