PLG Seblat Bengkulu merupakan kawasan hutan dengan fungsi khusus yang luasnya hanya 6.865 ha. Ada banyak sekali permasalahan yang terjadi di PLG Seblat, mulai ancaman perkebunan kelapa sawit, perambahan oleh masyarakat dan illegal logging. Kawasan PLG saat ini posisinya berada ditengah-tengah perkebunan kelapa sawit skala besar. Ada beberapa perkebunan kelapa sawit yang mengelilingi PLG Seblat, diantaranya PT Agricinal, PT Alno dan PT Mitra Puding Mas. Luas masing-masing perkebunan ini ada yang mencapai 15.000 ha.
Berdasarkan survey BKSDA Bengkulu tahun 2002, di PLG Seblat diperkirakan masih terdapat sekitar 90 ekor gajah liar, 5 ekor harimau sumatera, tapir dan jenis satwa liar lainnya.
Gajah yang merupakan mamalia terbesar di Asia ini merupakan hewan yang pintar dan mempunyai daya ingat yang tinggi. Tidak mengherankan jika gajah mempunyai jalur jelajah yang tetap dan ingat akan sesuatu yang pernah mengganggunya. Berat satu ekor gajah dewasa bisa mencapai 3-4 ton. Sedangkan kebutuhan makannya dalam sehari adalah 10% berat badannya.
Satu ekor gajah minimal mempunyai range area sekitar 400 ha. Jadi bisa anda bayangkan berapa sebenarnya luas kawasan yang harus ada di PLG Seblat.
Alhamdulillah aku yang memang belum bisa melakukan apa-apa ini mempunyai kesempatan sebanyak dua kali untuk datang langsung dan melihat situasi dan kondisi satwa yang lucu ini. Melihat gajah makan dan mengunyah sesuatu dimulutnya dan melilitkan makanan dengan belalainya seakan melupakan semua permasalahan yang ada dipikiran. Apalagi disaat mengajak gajah-gajah ini mandi di Sungai Seblat.
Gajah tidak akan pernah mengganggu manusia jika manusia itu sendiri tidak mengganggu ketentraman hidupnya. Kejadian di Bengkulu, Riau dan juga daerah Sumatera lainnya yang memberitakan bahwa gajah adalah binatang buas dan liar yang menyerang manusia adalah salah. Gajah menyerang manusia karena keserakahan manusia itu sendiri. Menghancurkan hutan tempat habitatnya dan membangun perkebunan atau perkampungan di daerah jelajahannya merupakan kesalahan yang tak bisa dimaafkan bagai gajah itu sendiri.
Di Thailand gajah sangat dihargai dan bahkan dipuja. Begitupun di Aceh, hewan ini dahulunya hewan ini sangat diandalkan sebagai alat bantu perang melawan musuh. Dan banyak lagi sejarah-sejarah lainnya yang mengagungkan gajah. Tapi mengapa sekarang, hewan ini dianggap sebagai hama yang merusak, bahkan hewan pembunuh. Akankah kita membuat satwa-satwa gajah ini menjadi hewan yang hanya ada dalam cerita bagi anak cucu kita nanti... seperti cerita-cerita satwa besar dynosaurus.
Peduli akan sesama mahkluk Tuhan adalah sebuah sikap yang sangat terpuji.
Thursday, August 31, 2006
PLG Seblat, Bengkulu Utara
Labels: On Site
Posted by Gekko Studio at Thursday, August 31, 2006 0 comments
Sei Utik (1)
Secara administratif, Kampung Sungai Utik tergabung dalam Desa Menua Sei Utik di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Pusat Pemerintahan desa terletak di Kampung Sungai Utik dengan ibu kota kecamatan di Benua Martinus. Setelah membaca beberapa linteratur dan mendengarkan informasi dari beberapa teman, saya masih belum bisa membayangkan bagaimana keaadaan dan kondisi di Kampung Sungai Utik. Bagaimana sebenarnya kondisi hutan di yang masuk kedalam wilayah kampung tersebut. Akhirnya beberapa pertanyaan yang selama ini tersimpan didalam hati perlahan-lahan mulai terjawab setelah saya datang dan tinggal disana. Saya tinggal disana selama lima belas hari. Cukup banyak yang saya pelajari dan yang saya ketahui tentang kehidupan masyarakat Dayak Iban di Kampung Sungai Utik. Kekeluargaan dan keramahan masyarakat Kampung Sungai Utik membuat saya ingin kembali kesana disuatu saat nanti.
Berikut ini saya coba tulis catatan perjalanan saya ke Kampung Sungai Utik.
Pesawat kami berangkat dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Pontianak pukul 11.00 WIB. Pukul 7.30 WIB kita sudah berkumpul di Terminal Bus Damri Bogor bersama dengan masyarakat Sungai Utik dan teman-teman dari Pontianak.
Tiba di Pontianak kurang lebih pukul 12.45 WIB dan kami langsung menuju LBBT (Lembaga Bela Benua Talino) sebuah NGO yang berada di Pontianak. Kami menuju LBBT setelah makan siang dan langsung menginap disana selama semalam karena jadwal pesawat kami menuju Putusibau esok harinya.
Tanggal 27 Mei 2006 pukul 10.30 WIB dengan menggunakan pesawat DAS (Dirgantara Air Service) yang berkapasitas penumpang sebanyak 46 orang kami berangkat menuju Putusibau. Lama perjalanan dari Pontianak ke Putusibau kurang lebih satu jam. Selama perjalanan kita bisa melihat daratan Kalimantan dari pesawat yang masih tampak hijau membentang walaupun terlihat dibeberapa tempat sudah terdapat bekas tebangan. Dari pesawat juga kita bisa melihat bentangan luasnya Danau Sentarum yang merupakan salah satu danau terluas di Indonesia. Kebetulan cuaca dihari itu cerah, sehingga kami bisa menikmati pemandangan dari atas pesawat.
Kami tiba di Putusibau pukul 11.30 WIB. Dibandara sudah ada mobil yang menunggu kami untuk mengantarkan kami ke terminal bus. Mobil tersebut memang sudah dipesan seorang teman dari Putusibau. Dengan mobil kijang yang kami carter sebesar seratus lima puluh ribu rupiah kami langsung menuju terminal Putusibau karena takut akan ketinggalan bus. Maklum bus yang berangkat dari Putusibau menuju Sungai Utik pada jam-jam itu tinggal satu. Setiap harinya ada tiga buah bus yang routenya melewati Sungai Utik. Jika kita ingin menyewa mobil Dari Putusibau menuju Sungai Utik, kita harus mengeluarkan uang sebesar tujuh ratus ribu rupiah. Cukup mahal memang jika dibandingkan dengan naik bus yang ongkosnya hanya dua puluh lima ribu rupiah perkepala.
Dengan menumpangi bus, kami berangkat menuju Sungai Utik. Jalur bus yang kami tumpangi adalah Putusibau-Martinus, yaitu kota perbatasan antara Kalimantan dengan Malaysia jika sudah melewati Kecamatan Lanjak dan Badau. Selama perjalanan saya duduk dibangku tengah dekat jendela. Sambil mengamati pergerakan tanda panah di GPS (Global Position System) yang saya pegang. Sambil melihat GPS saya juga melihat pemandangan diluar dan para penumpang lainnya didalam bus. Karena perjalanan Putusibau-Sungai Utik cukup lama yaitu dua jam lebih, akhirnya saya pun terlelap tidur.
Saat mata saya terbuka ternyata bus masih melaju dengan kencang. Mata saya tertuju dikiri dan kanan jalan yang terdapat beberapa pohon besar dan juga saya melihat areal penambangan pasir dan bebatuan. Selagi asyik menikmati perjalanan didalam bus, sopir bus membelokkan busnya kearah kanan. Saya melihat dari jendela bus, ternyata ada sebuah tulisan “Selamat Datang di Desa Lauk Rugun” yang ditulis disebuah gerbang yang dibuat seadanya. Ternyata bus ini akan menurunkan penumpang di Kampung Lauk Rugun. Terlihat orang-orang di rumah panjang Lauk Rugun yang memperhatikan penumpang turun dari bus. Rumah panjang Lauk Rugun-lah rumah panjang tradisional pertama kali yang saya lihat secara langsung. Didalam hati saya hanya mengatakan “waw.. panjang sekali”. Selama ini saya hanya mendengar cerita dari teman-teman yang pernah ke kampug dayak dan melihat di televisi.
Selama perjalanan dengan bus menuju Sungai Utik kita akan melewati dua kampung yang merupakan wilayah ketemenggungan tujuh kampung “Jalai Lintang”. Yaitu Kampung Lauk Rugun dan Kampung Mungguk.
Sekitar pukul 15.00 WIB kami tiba di Kampung Sungai Utik. Disaat turun dari bus, saya merasa grogi dan agak gugup karena diperhatiin oleh masyarakat kampung yang berdiri diatas tangga rumah panjang. Seolah-olah mereka sedang bersikap hati-hati karena akan didatangi orang asing.
Kamipun diajak masuk kesalah satu bilik milik Pak Janggut. Pak Janggut ikut terbang bersama kami dari Jakarta. Pak Janggut dan dua orang temannya dari Kampung Sungai utik datang ke Jakarta beberapa hari yang lalu untuk menghadiri seminar dan diskusi terbatas tentang “Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Adat, Menuju Hutan yang Adil dan Lestari, Pembelajaran dari Kampung Sungai Utik” yang diadakan oleh Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), Forest Wacth Indonesia (FWI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Uni Eropa (EU) dan Universitas Indonesia.
Setelah menaroh barang-barang didalam bilik milik Pak Janggut, kami duduk di teras depan rumah panjang (yang bahasa ibannya disebut Rumah Panjei). Sambil menikmati teh hangat disore hari kami bercerita mengenai pengalaman perjalanan kami dari Jakarta ke Sungai Utik.
Ketika duduk santai di tanjok (teras paling depan rumah panjang, tempat jemur pakaian dan kayu bakar), ternyata ada beberapa penghuni rumah panjang yang sedang mengganti atap rumah panjang yang sudah rusak karena sudah lapuk dimakan waktu. Atap rumah pajang ini terbuat dari kayu yang dibelah tipis-tipis menggunakan parang yang ukurannya kurang lebih 15 x 40 cm (orang iban menyebutnya sirap). Jenis kayu yang digunakan untuk sirap biasanya kayu laban, bengkalis, janang dan meranti.
Melihat aktivitas masyarakat yang bergotong royong memasang sirap, sayapun langsung mengeluarkan kamera video saya yang masih tersembunyi didalam tas. Setelah mengambil gambar dari beberapa angle (sudut pengambilan) saya mengeluarkan rokok dari dalam saku celana dan ikut bergabung kembali dalam obrolan santai.
Disaat sedang asyik berada bersenda gurau datang seorang teman yang mengajak bergabung untuk minum air nau (sejenis tuak yang terbuat dari pohon nau yang diberi ragi dan diendapkan) dan air bram (tuak yang terbuat dari beras ketan yang diendapkan dan dibri ragi serta kulit pohon). Karena ajakan teman itulah kami pun ikut ke bilik depan rumah panjang. Ternyata satu-persatu orang yang dari rumah panjang datang membawa gelas masing-masing. Tua mudapun berkumpul di tanjok. Seorang teman yang duduk disamping saya bercerita “ini adalah tradisi kami, jika sudah ada nau maka kami akan datang dengan membawa gelas masing-masing dan minum beramai-ramai”. Sayapun menganggukan kepala karena kagum dengan kebersamaan mereka.
Berselang beberapa menit mereka mengeluarkan satu jerigen yang isi lima liter penuh air nau. Dan menyusul lagi orang yang dibelakangnya membawa satu ember hitam penuh air nau dan satu teko tuak atau yang sering kita sebut air bram. Saat itu juga saya terkejut, “ini semua yang akan kita minum??” gumam saya dalam hati.
Satu persatu gelas didepan kami dituangkan penuh air nau. Satu-persatu pula gelas itu disuguhkan didepan kami. Setelah beberapa orang kampung minum duluan sayapun disuruh mencoba. Gelas yang ada didepan saya yang sudah berisi penuh air nau itu saya ambil dan saya minum sedikit demi sedikit. Rasa air nau atau tuak sama seperti kita makan tapai yang terbuat dari ubi kayu. Cuma bedanya ini harus diminum, bukan dikunyah lalu dimakan.
Inilah pertama kali saya minum air nau dan tuak, dah kali pertama juga saya melihat minuman yang disuguhkan sebanyak itu. Ternyata saya minum tak selesai dengan meneguk satu gelas, disaat gelas saya kosong mereka selalu menuangkannya lagi dengan tuak. Dan terus menerus seperti itu. Rasanya kepala saya sudah mulai pusing.
Kami berkumpul dan minum bersama disaat hari sudah mulai gelap. Perkenalan dan obrolan terus berlanjut diiringi dengan minum air tuak. Setelah beberapa gelas air tuak yang kami minum ada salah seorang warga yang menyuguhkan daging goreng diatas piring. “Daging apa itu?” saya bertanya kepada teman yang duduk disebelah saya. Teman disebelah saya menjawab “ini daging ular, ayo cobalah. Kamu makan daging ularkah?” Dengan spontan saya saya menjawab “saya belum pernah makan daging ular, tapi saya akan coba”. “Rasa daging ular tak jauh berbeda dari rasa ikan goreng” lanjut saya setelah mencicipi daging ular yang ada didepan saya.
Teman yang duduk didepan saya berkata “inilah cara ngantor kami disore hari, bawa gelas dan duduk ramai-ramai. Gelas dan rokok adalah ATK nya. Kalian yang baru datang harus magang dulu, sering duduk disini dan minum biar bisa jadi pegawai”. Setelah mendengar ungkapan itu saya dan teman yang lainnya tertawa. Didalam hati saya mengatakan “begitu ramahnya mereka menerima tamu, berbeda sekali apa yang saya duka tadi siang ketika baru sampai”. Diajak duduk bersama-sama dan diselingi minuman yang menghangatkan perut.
Labels: On Site
Posted by Gekko Studio at Thursday, August 31, 2006 0 comments
Sei Utik (2)
Mungkin anda tidak akan percaya jika diameter pohon foto diatas ini adalah sekitar 2 meter. Foto ini adalah bener adanya. Inilah pohon terbesar dan bernilai tinggi yang pernah kali aku lihat. Di Sungai Utik banyak sekali jenis pohon-pohon komersial yang aku temui selama memasuki kawasan hutan adat yang selalu mereka jaga.
Ini sudah cukup meyakinkan diriku bahwa hukum adat sebenarnya lebih efektif dalam menjaga kondisi hutan di Indonesia. Sudah banyak bukti bahwa sebenarnya orang-orang yang merusak dan menghancurkan hutan-hutan Indonesia adalah orang-orang yang berdedikasi tinggi, pintar dan bermodal. Intelektual, jabatan dan kekuasaan hanya digunakan untuk mengeruk isi bumi dan kekayaan alam lainnya untuk kepentingan pribadi dan bersifat sesaat. Sementara masyarakat sekitar hutan tetap miskin, tertinggal, dibodohi dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka seakan-akan lemah karena ketidaktahuan... Dan inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang berhati picik untuk menindas...
Itu hanya sekedar selingan kok, jangan terlalu dipikirkan.
Aku akan melanjutkan kembali tulisan mengenai Sei Utik. Selamat membaca...
Rumah Betang
Rumah betang atau rumah panjang adalah rumah pemukiman penduduk yang didalamnya terdapat beberapa keluarga dalam bilik-bilik. Rumah ini menjadi identitas adat dan harkat hidup masyarakat iban pada umumnya dimana kegiatan adat istiadat dan kehidupan sosial kesehariannya dilakukan. Kehilangan rumah ini mengartikan hilangnya akar budaya masyarakat setempat.
Di Kampung Sungai Utik terdapat rumah panjang yang terdiri dari dua puluh delapan bilik dengan panjang keseluruhan rumah panjang sekitar 180 meter. Setiap bilik dihuni rata-rata 2-4 KK yang dihuni secara terun-temurun dari keluarga pertama. Satu buah bilik yang ukurannya kurang lebih 6 x 15 m dibagi tiga buah ruangan besar. Bilik satu dengan bilik lainnya hanya dipisah dengan sehelai papan dan setiap sekatan dibuat pintu untuk akses keluar masuk antar bilik. Pintu antar bilik ini dulunya digunakan jika keadaan darurat misalnya diserang suku lain, kebakaran dan juga bisa melihat penghuni disebelah jika terjadi apa-apa.
Ada beberapa kategori bagian dalam rumah panjang. Pertama adalah tanjok, bagian paling depan sebelum kaki lima. Tanjok adalah tempat terbuka berukuran enam meter kali panjang rumah, biasanya digunakan sebagai tempat menjemur pakaian dan kayu bakar. Kedua, kaki lima, merupakan bagian yang menyerupai teras yang berukuran sekitar satu meter kali panjang rumah. Biasanya digunakan sebagai tempat bersantai dipagi atau sore hari. Ketiga adalah ruang terbuka di depan bilik, memanjang mengikuti bentuk rumah dengan lebar sekitar 6 meter. Teras besar dan panjang di depan bilik ini menjadi setral aktivitas warga rumah panjang: tempat anak-anak bermain, remaja berkumpul, lelaki dewasa membahas masalah, wanita mengerjakan kegiatan keterampilan membuat tikar, keranjang dan perkakas rumah lainnya. Di teras ini juga terjadi transfer pengetahuan orang dewasa kepada anak-anak dalam suasana pertemuan keluarga yang santai yang hampir dilakukan setiap malam sebelum tidur. Selain itu juga teras ini menjadi tempat para pemuka adat melakukan rapat-rapat penting. Keempat, kamar atau bilek yang merupakan sebuah ruangan seluas 4 x 6 meter. Di sinilah para anggota keluarga tidur, tidak ada dipan atau tempat tidur, tetapi beberapa ruangan kecil dari kerudung kelambu berukuran tinggi-lebar-panjang 1x1x2 meter menjadi tempat tidur privat untuk tidur. Laki-laki dewasa menempati kamar di loteng, walaupun sering juga ada yang tidur bersama di ruang tidur keluarga. Kelima, dapur yang menyatu dengan ruang makan. Disini diletakkan tungku dan peralatan dapur; setelah makanan siap, dihidangkan dan disantap bersama di ruang ini. Keenam, bagian belakang, merupakan bagian tambahan berupa kamar mandi dan tempat cuci. Gudang beras dan peralatan pertanian biasanya disimpan di loteng, atau digantung di atas dapur.
Acara-acara adat di kampung ini juga dilakukan di rumah panjang. Ada beberapa acara adat yang dilakukan di rumah panjang, diantaranya; gawai (syukuran setelah panen), ngetas ulit (membuang pantang orang yang sudah mati), brungsur ja' mimpi (membuang pantang dari mimpi), bedukun (menyadarkan orang yang kemasukan/berobat), ngampun bedara' (upacara tolak bala'), ngampun tutup rumah (menutup seluruh rumah panjang secara adat). Menutup rumah panjang dilakukan jika ada yang meninggal secara aneh atau ada seekor burung tertentu yang melewati (masuk) rumah panjang, lamanya bisa tiga harian. Orang-orang tidak boleh keluar masuk rumah panjang.
Rumah panjang memiliki dua pintu utama di sebelah kanan dan kiri sebagai gerbang utama. Ketinggian rumah dan dua pintu gerbang ini berguna untuk mengantisipasi serangan musuh yang datang. Dalam kondisi damai sekarang, seperti di Sungai Utik, hampir disetiap bilik mempunyai tangga kecil untuk naik ke rumah panjang yang terletak di depan bilik.
Umur rumah panjang yang ada di Sungai Utik saat ini sudah dua puluh tujuh tahun. Rumah panjang yang ditempati sekarang merupakan rumah panjang yang keenam. Mereka dulunya selalu berpindah-pindah dan akan membangun rumah panjang untuk menetap walaupun tidak terlalu lama. Proses pembangunan rumah panjang mulai dari mengumpulkan bahan sampai menampakkan wujudnya seperti sekarang memakan waktu lima tahun lebih. Tiang-tiang utama rumah panjang terbuat dari kayu belian/kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang lebarnya antara 20-30 cm dengan ketebalan antara 5-10 cm. Jaman dahulu para tetua masyarakat Sungai Utik membuat tiang dengan menggunakan parang/golok. Dahulu mereka belum mengenal chainsaw untuk memotong dan membelah kayu ulin. Kayu ulin kebanyakan mereka cari didalam sungai. Kayu ulin yang sudah tumbang dan terendam atau terbawa air sungai mereka angkut dan dibawa ke kampung.
Saat ini untuk menemukan jenis kayu ulin disekitar kampung sudah sangat sulit karena sudah termasuk jenis kayu yang sangat langka. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa mereka tidak bisa menambah bilik di rumah panjang jika keluarga mereka bertambah.
Labels: On Site
Posted by Gekko Studio at Thursday, August 31, 2006 0 comments
Sunday, August 20, 2006
Teluk Jakarta, Under Pressure
Teluk Jakarta, Under Pressure
Video sent by gekkostudio
More than 14,000 m3/day of household garbage place the Jakartan under threat. During the period 1999-2002, the fisheries production dropped significantly to 38%. If everything is already polluted… is the judgement day will come soon?
© P4W/Gekko Studio 2006
Labels: Film
Posted by Dwi Lesmana at Sunday, August 20, 2006 0 comments
Friday, August 18, 2006
DARI PORONG DENGAN DERITA - Episode 3. Penantian Bu Kuswarti
Kembali di Astreanya Oni, kami merayap menuju pasar baru Porong. Sebuah pasar yang sudah di huni oleh pengungsi dari desa-desa yang terendam oleh lumpur. Jatirejo, Kedungbendo, Talangangin sebagian dari yang kuingat. Lokasi ini adalah lokasi pasar baru yang belum sempat dibuka oleh pemda, sehingga pengungsi yang 6.000 an jiwa itu dapat tidur lebih baik di lokasi-lokasi toko dibandingkan di tenda-tenda biru pengungsi yang umum jika ada bencana di republik ini. Untuk meredam keresahan warga, Lapindo pun menyiapkan komedi putar untuk anak-anak pengungsi, mushola, kamar mandi demikian juga jatah nasi bungkus setiap harinya. “yang itu untuk ML buat pasutri, mas” kata Oni menunjuk bilik-bilik kecil yang berkorden.
Tak jauh dari tempat yang semalam digunakan oleh relawan dan organizer untuk berkonsolidasi dengan para pemuda, kami berhenti. Aku melihat segerombolan anak kecil yang sedang bercatur. Anak-anak balita berlarian diseputar ibunya yang sedang duduk-duduk di beranda. Musik dangdut berkumandang, dibelakangi oleh sekelompok anak muda cengengesan yang duduk di bawah spanduk ala cover dewa bertuliskan “laskar cinta porong”.
Suara adzan duhur menyapa ketika kami berjalan ke tempatnya bu Kuswarti (35 tahun) di blok P no 16. “suami saya sedang kerja mas, nyambung hidup. Kalau saya ini sudah ndak kerja lagi, pabrik kerupuk tempat saya kerja kelelep lumpur”, katanya. Sambil melanjutkan bahwa 2 anaknya yang kelas 2 smp dan 2 sd hampir 3 bulan ini tidak melanjutkan sekolah lagi karena sekolahnya juga tutup. “ya, hanya sebagian anak pengungsi saja yang sekolah, yang lainnya tidak” katanya melanjutkan pertanyaan saya bahwa ada anak-anak berbaju putih merah bersepeda di blok depan. Seperti air yang bertemu sungai, iapun menumpahkan unek-uneknya padaku dan kawanku Torry. “meskipun tampaknya hidup di sini enak, anak-anak pada ga betah lho mas, anak saya yang kecil dari pagi sampai magrib main terus, yang besar ga mau makan, ga enak katanya, nanya terus sama saya, kapan bu kita pulang kerumah, kapan bu ….”. Sambil membayangkan gigitan nyamuk semalam yang menyergapku, iapun berlanjut bertutur “saya hanya ingin pulang mas kembali lagi ke rumah saya bareng dengan tetangga-tetangga saya yang dulu, pokoknya Lapindo harus ngebangun lagi langgar di depan rumah saya dan membangunkan lagi rumah saya dan rumah tetangga-tetangga saya di Jatirejo”
Perpecahan warga di pengungsian saat ini sangat mengkuatirkan. Sebagian sudah mau menurut dengan keinginan Lapindo, demikian Torry menjelaskan padaku. Seperti tertera dalam draf pernyataan yang dibuat manajemen Lapindo, warga diiming-imingi untuk mau menerima santunan rumah kontrak 5 juta dan menyetujui uang jadup 300 ribu perbulan selama 6 bulan. Tawaran itupun sudah diambil oleh sebagian kecil dari warga yang pasrah.
Labels: On Site
Posted by Ridzki Rinanto Sigit at Friday, August 18, 2006 0 comments
DARI PORONG DENGAN DERITA - Episode 2. Desa Siring yang Berontak
“Mas, wong Siring durung merdeka, dijajah karo lumpur panas” kata seorang warga yang sedang memasang bendera setengah tiang, sambil tersenyum kecut. Ironis, di tengah warga masyarakat lain merayakan 17-an, di desa Siring malah berduka. Belum jelas apa yang dapat diharapkan dari LAPINDO. Masyarakat tetap dilanda kecemasan tentang nasibnya. Masih teringat dalam rekaman ingatan, lokasi makam yang terendam lumpur dengan nisan yang bisu.
Pagi ini, masyarakat akan turun aksi, memblokir jalan raya Surabaya-Malang pas di dekat fly over tol Porong. Tidak jelas siapa yang mengkomando, tiba-tiba massa menyerbu jalan. Dari arah Surabaya, bis dihentikan, motor-motor tiba-tiba disuruh berbalik, demikian juga dari arah Malang, sambil membawa spanduk dan bangku-bangku lapak seadanya, masih terlihat truk barang yang terpaksa berhenti mendadak. Massa kemudian bergerak, anak-anak, ibu-ibu, pemuda sampai orang tua berjalan. Spanduk dibentangkan, teriakan dan yel-yel penolakan dan hujatan kepada Lapindo dikumandangkan. Aura kekesalan dan frustasi diteriakkan. Tiba-tiba terlihat olehku dari arah Surabaya kereta api yang dihentikan oleh massa. ‘baru kali ini aku lihat aksi yang menghentikan kereta’ batinku. Satu truk polisi pun datang, sambil bersuara di TOA seorang anggota mengingatkan warga masyarakat untuk memadamkan api, mengingat ban dan spanduk yang dibakar hanya berjarak kurang dari 10 m dari warung bensin. “ayo, boleh demo tetapi harus tertib, api tolong dimatikan” katanya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, sekelompok polisi-polisi muda menenteng senapannya.
Tak terasa 2 jam berlalu, matari panas Surabaya makin terik. Jalan tetap diblokade. Sementara lalulintas masih tetap lumpuh. Kereta sudah diperkenankan untuk bergerak kembali oleh massa. Massa makin menumpuk, orang-orang desa lain sudah bergabung, tak kurang 500 orang tua muda tumpah di jalan. TV nasional dan media lain pun sudah turun meliput. Dari teras di lantai dua milik seorang warga, aku mengambil GV massa. Masih terbayang wajah pendemo yang bertelanjang dada bertuliskan korban lapindo dengan muka dilumuri lumpur abu-abu.
Labels: On Site
Posted by Ridzki Rinanto Sigit at Friday, August 18, 2006 0 comments
DARI PORONG DENGAN DERITA - Episode 1. Desa Hantu Kedung Bendo
Matari pagi baru saja merekah, ketika aku duduk di sadel motor Oni seorang relawan WALHI yang sudah hampir 3 bulan ini nyanggong di lokasi pengungsi Lapindo. “ini harmal ke 78, sejak kebocoran tersebut terjadi” sahutnya bercerita memecah kesunyian ketika kami berdua terguncang-guncang di motor astrea lawas miliknya. Saat itu kami menuju desa Kedung Bendo yang merupakan daerah terdekat dengan semburan. Rig masih berdiri angkuh ketika aku menyiapkan posisi tripod. Ternyata asap dan lampu yang sedari malam terlihat dengan jelas berasal dari rig tersebut.
Di tanggul yang memisahkan lokasi semburan dengan jalan tol, sekarang aku berdiri, mengarahkan pandang ke selatan aku dapat melihat mobil yang merayap di tol Surabaya-Gresik di bawah. Terlintas di benakku, bagaimana kalau tanggul setinggi 6-7 m ini jebol, tentunya mobil-mobil di bawah itu langsung terendam dan kota-kota seperti Sidoarjo bahkan Surabaya dan sekitarnya langsung lumpuh. “Mas, lihat itu lokasi pabriknya Marsinah” kata Oni, menunjukkan satu deretan pabrik yang hanya terlihat atapnya saja. Menurut informasi, hingga hari ini lebih dari 19 pabrik berhenti operasi karena tenggelam, entah nasib buruhnya yang tiba-tiba saja kehilangan pekerjaan.
Pagi itu kesibukan truk-truk 10 ton memulai aktivitas rutin, mengangkut lumpur pekat di satu titik di timur terlihat excavator bekerja menyendoki lumpur. Tidak terlalu jelas mau dibawa kemana lumpur-lumpur itu kemudian, opsi membuang ke kali Porong ditentang oleh kalangan akademisi dan LSM, diinjeksi balik ke dalam tanahpun tak mungkin karena tekanan semburan yang lebih kuat. Wacana baru dari seorang pintar dari Belanda untuk memperkuat tanggul dengan polimer pun bukan tindakan mencari solusi, hanya tinggal menunggu hari. Entahlah..
Kembali kami menyusuri jalan, berpapasan dengan truk-truk besar. Di sebelah kananku terlihat lokasi masjid yang tenggelam separo. Di depannya bahkan sebuah rumah hilang sebagian tembok dan atapnya. Itulah desa Kedung Bendo, desa yang sekarang sudah sunyi karena penduduknya sudah diungsikan. Di tembok-tembok rumah berlumpur dengan mudah aku temukan tulisan-tulisan penduduk desa. “ Lapindo Ju***uk”, “Bakrie harus dipenjara”, “Lapindo Brantas harus diberantas” dan tulisan-tulisan lain senada yang meminta pertanggungjawaban LAPINDO.
Labels: On Site
Posted by Ridzki Rinanto Sigit at Friday, August 18, 2006 0 comments